Written by Indosiar.com, Tuesday, 10 March 2009 11:29
indosiar.com, Brebes - Ini merupakan sentra peternakan itik atau masyarakat disini biasa menyebutnya bebek. Lokasinya di Desa Pakijangan, Kecamatan Bula Kamba, Brebes, Jawa Tengah. Di tempat ini puluhan ribu bebek dipelihara warga setempat, baik untuk diambil dagingnya, maupun dimanfaatkan telurnya menjadi telur asin.
Brebes memang dikenal sebagai pusat penghasil telur asin. Sehingga telur asin menjadi oleh - oleh bagi mereka yang berkunjung ke Brebes. Lokasi peternakan bebek dapat dicapai selama setengah jam perjalanan dari kota Brebes, Jawa Tengah, dengan mengambil arah ke barat, menelusuri jalur Pantura. Sepanjang perjalanan tampak areal persawahan hingga tiba di lokasi.
Desa Pakijangan merupakan pusat peternakan bebek. Didesa ini sedikitnya terdapat dua ratus peternak, dengan puluhan ribu ekor bebek peliharaan. Karena itu bila datang ke desa ini, banyak dijumpai gerombolan bebek yang sedang mencari makan. Melihat begitu banyak bebek berkeliaran, saya jadi tertarik ikut menggiring bebek.
Wah, ternyata asyik juga menggiring bebek. Bila diperhatikan, bebek ini lebih tertib dari pada manusia. Bila berjalan beriringan dengan rapi. Tidak ada yang keluar dari rombongan. Setelah puas menggiring bebek, saya kini ingin menemui pemiliknya. Bebek - bebek ini milik petani yang tergabung dalam kelompok tani ternak itik adem ayem, pimpinan Atmo Suwito.
Beternak bebek tidak sulit, karena hewan ini termasuk kategori penurut. Apalagi bila lokasi peternakannya berada ditepi sungai. Pakan bebekpun mudah didapat. Cukup diberi dedak dengan dicampur hijau - hijauan dan protein ikan.
Pada usia satu setengah bulan seperti ini, anak bebek sangat doyan makan. Karena masih dalam masa pertumbuhan. Bebek mulai bertelur setelah berusia 6 bulan. Masa produktifnya berlangsung hingga berusia dua tahun.
Beternak bebek termasuk menguntungkan. Jika memelihara seribu ekor bebek, setiap harinya dapat diperoleh sekitar tujuh ratus butir telur. Dengan harga telur seribu rupiah per butir, setiap harinya peternak bebek dapat memperoleh pemasukan 700 ribu rupiah.
Selain itu, daging bebek juga banyak diminati. Harga bebek di pasaran, berkisar dua puluh ribu hingga tiga puluh ribu rupiah per ekor. Kebutuhan telur bebek tidak pernah berkurang. Di wilayah Brebes saja setiap tahunnya dibutuhkan sekitar 45 juta butir telur bebek, untuk diolah menjadi telur asin.
Sentra pengolahan telur asin bertebaran di Brebes. Salah satunya milik Pak Udin. Dia telah menekuni usaha pengolahan telor asin sejak dua puluh tahun lalu. Disinilah Pak Udin mengolah telur bebek menjadi telur asin. Prosesnya sederhana. Telur bebek mula -mula disortir berdasarkan kwalitas dan ukurannya. Lalu telur dicuci dan digosok dengan abu.
Setelah bersih, telur dibungkus adonan yang merupakan campuran bata merah, garam dan abu. Telur bebek yang telah dibaluri lalu diperam diruangan khusus selama kurang lebih setengah bulan. Disinilah telur bebek diperam hingga menjadi telur asin.
Setelah diperam, telur bebek kemudian direbus hingga matang. Proses perebusan dilakukan selama enam jam. Setiap kali merebus, minimal seribu butir telur. Telur asin yang telah matang kemudian dibawa ke tempat pemasaran, dikios oleh - oleh yang bertebaran di sepanjang jalur Pantura. Dikios ini dapat dijumpai berbagai macam telur asin. Mulai dari telur asin rebus, hingga telur asin bakar.
Telur asin Brebes memang terkenal enak dimakan. Selain lebih gurih, rasanya juga tidak terlalu asin. Bila ingin lebih awet dapat memilih telur asin baker. Yang bisa bertahan hingga setengah bulan.(Helmi Azahari/Dv/Ijs)
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 November 2009
Minggu, 22 November 2009
125 Orang Kejar-kejar Bebek

http://www.kompas.com, edisi Senin, 18 Agustus 2008 | 11:58 WIB
SURABAYA, SENIN - Sebanyak 125 orang yang berasal dari Kecamatan Genting, Surabaya mengikuti lomba menangkap bebek di Sungai Kalimas, Surabaya, Senin (18/8) siang.
Acara yang digelar untuk memperingati HUT ke-63 Kemerdekaan RI tersebut cukup meriah. Bahkan, sejumlah warga Kota Surabaya berdatangan melihat secara langsung acara tersebut.
Sementara itu, para peserta lomba terdiri atas orang tua, anak muda hingga anak-anak terlihat begitu antusias menangkap bebek. Mereka terlihat saling berebutan menangkap bebek tersebut.
Ketua panitia, Rudi Irawan Anwar, mengatakan, dalam lomba itu, sebanyak 30 bebek dilepas secara dua tahap ke Kalimas.
"Peserta tidak dibatasi umur, selain para orang tua dan anak muda, anak-anak juga banyak yang ikut," katanya.
Hadiah yang diperebutkan dalam lomba itu, antara lain sepeda gunung, telepon seluler (ponsel), jam dinding, dan hadiah lainnya.
Adapun dipilihnya Kalimas sebagai tempat dalam lomba kali ini, kata dia, karena sungai memiliki nilai historis yang tinggi. Pada zaman kerajaan Majapahit, sungai ini pernah dilewati para perajurit Majapahit ketika menjalankan tugas kenegaraan.
ABI
Sumber : Ant
Jumat, 20 November 2009
Barack Obama, Bebek Sawah di Menteng Dalam

Kamis, 23 Oktober 2008 | 13:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Setiap menyaksikan Barack Obama di televisi, ingatan Djoemiati melenting ke masa yang jauh. Nenek 66 tahun yang tinggal di Menteng Dalam, Jakarta Pusat, itu ingat betul senator Illinois dari Partai Demokrat tersebut. Djoemiati tahu sang senator kini tengah berlaga merebut kursi kandidat Presiden Amerika Serikat. Dialah Barry Soetoro kecil yang tengil. ”Ya, itu dia, Barry. Kalau lari, dia mirip bebek sawah,” ucap Djoemiati terkekeh.
Barry nama panggilan Obama semasa bocah di Jakarta. Usianya baru enam tahun pada 40 tahun lalu saat dia bersama ibunya, Ann Dunham, dan ayah tirinya, Lolo Soetoro, tinggal bertetangga dengan Djoemiati. Coenraad Satjakoesoemah, kini 77 tahun, suami Djoemiati, menjual sebagian tanahnya di Jalan Kiai Haji Ramli 16 di kawasan Menteng Dalam kepada Lolo. Saat itu keluarga Lolo baru pindah dari Papua.
Segera saja Djoemiati terkesan saat berkenalan dengan Barry. Bocah berkulit hitam, berbadan gemuk, dan berambut ikal itu cepat bergaul dengan anak-anak sebayanya di kampung. Kendati belum bisa berbahasa Indonesia, dia mau diajak main apa saja. Petak umpet, gulat, tembak-tembakan, kasti, hingga sepak bola, Barry hayo saja. Barry paling senang berlari. Gaya larinya kerap menjadi bahan tertawaan warga Menteng Dalam. Mereka menyebut dia ”si Bebek Sawah”. ”Dia itu gemuk, jadi kalau lari lucu banget,” ujar Djoemiati kepada Tempo.
Keluarga Soetoro pindah ke Menteng Dalam dengan membawa pelbagai ornamen tradisional rumah Papua. ”Saya pertama kali tahu tombak Irian, ya, waktu main ke rumah Barry,” tutur Eddy Purwantoro, 51 tahun, tetangga sebelah Barry.
Lolo Soetoro juga membawa serta hewan peliharaan, seperti ular, biawak, kura-kura, kera, hingga beberapa jenis burung dari Papua. Hewan-hewan itulah yang kerap dipamerkan Barry kepada teman-temannya. Yunaldi Askiar, 45 tahun, tetangganya yang lain, bercerita, ia pernah marah ketika Barry membuatnya kaget saat menyodorkan kepala kura-kura ke wajahnya. Tapi amarah Yunaldi tak berlangsung lama. Tak sampai sebulan kemudian hewan itu lenyap lantaran rumah Lolo diterjang banjir.
Tak bisa memamerkan hewan peliharaan, Barry tak kehabisan akal. Teman sekelas Yunaldi di kelas I Sekolah Dasar Katolik Fransiskus Strada Asisi (sekarang Fransiskus Asisi), Menteng, itu menunjukkan beberapa koleksi pistol mainan. Johny Askiar, 50 tahun, kakak Yunaldi, pernah diberi sebuah pistol mainan oleh Barry.
Bagi Johny, tetangganya di ujung Jalan Ramli itu terhitung teman baik hati. Selain punya banyak pistol mainan yang mirip pistol asli, bocah kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961, itu punya spidol. ”Waktu itu hanya anak orang kaya yang memiliki spidol,” ujar Johny mengenang. Johny kini membuka usaha bengkel sepeda motor di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Sepulang sekolah, Johny dan Yunaldi biasa mengundang Barry ke rumah mereka. Di rumah nomor 18 itu mereka bermain gulat atau petak umpet. ”Kalau dijaili, Barry suka berseru, cuang! Cuang!” Johny menirukan aksen cadel Barry saat menyebut kata curang.
Johny mengaku ia memang kerap menggoda Obama. Misalnya, menjitak kepala atau memain-mainkan rambut keriting Barry. ”Habis, gemas dengan rambutnya itu,” ujarnya. ”Lucunya lagi, kalau kehujanan, air tetap ngembeng di kepalanya.”
Keakraban Barry dan Johny-Yunaldi menular kepada orang tua mereka. Ann Dunham, yang masih menggendong Maya Cassandra Soetoro, adik Obama, selalu menjahitkan baju-bajunya kepada Eti Hayati, kakak Johny. Keluarga Askiar, yang berasal dari Padang, kerap mengundang makan keluarga Lolo. Sepulang sekolah, Barry bahkan biasa makan di rumah Johny. Makanan favorit Obama: rendang.
Dalam soal makan, terutama jika ada rendang atau roti cokelat, Barry amat lahap. Djoemiati mengisahkan, suatu hari, ketika Obama main ke tetangga, dia hampir menghabiskan kue tar yang hendak disuguhkan kepada tamu keluarga itu. Lantaran berang, pembantu rumah itu mengejar-ngejar Barry. ”Si Bebek Sawah” lari terbirit-birit sebelum bersembunyi di kolong tempat tidur.
Kata-kata curang, jangan ganggu, dan jangan begitu merupakan ungkapan bahasa Indonesia yang paling sering diucapkan Obama kecil. Israella Pareira Darmawan, 64 tahun, guru Barry sewaktu kelas I di sekolah Asisi, menyebutkan kosakata Indonesia Barry amat terbatas di bulan-bulan awal masuk sekolah. Baru pada bulan keempat dan kelima, Obama mulai bisa berbahasa Indonesia meski terbata-bata.
Nilai bahasa Indonesia Barry cuma 5. Tapi ia amat pandai matematika. Secara keseluruhan Obama masuk sepuluh besar. ”Dia anak cerdas, sabar, mudah bergaul,” kata Israella.
Ibu guru itu masih ingat, Obama suka membela teman-temannya yang bertubuh kecil. Ia kerap memeluk atau memegang tangan teman mainnya yang jatuh dan menangis. Bertubuh paling jangkung, Barry senang memimpin barisan. ”Kalau guru masih belum masuk kelas, dia akan melarang siapa pun masuk kelas lebih dulu,” ucap Israella.
Di Asisi, Obama bersekolah dari 1968 hingga 1970 awal. Selanjutnya ia pindah ke Sekolah Dasar 01 Besuki, Menteng (sekarang Sekolah Dasar Negeri Menteng 01, Jalan Besuki) saat kelas III. Barry bersekolah di Besuki cuma sampai akhir kelas IV. Dia kemudian melanjutkan pendidikan dasarnya di Hawaii, Amerika Serikat.
Kawan-kawan di sekolah dasar Besuki ini pada awal Maret lalu membentuk Obama Fans Club. Alumni sekolah tahun 1973 itu berkumpul di Sekolah Dasar Negeri Menteng 01 dan memberikan dukungan kepada sang kawan untuk terus melaju dalam pemilihan Presiden Amerika. Belakangan nama Obama Fans Club itu berganti menjadi Yayasan Besuki 73. ”Nama Fans Club kurang tepat. Barry kan teman kami,” kata Sonni Gondokusumo, pengusaha 47 tahun.
Sandra Sambuaga-Mongie, 47 tahun, mengenang Barry sebagai kawan yang mudah berteman dan tak gampang marah. Sementara itu, Widiyanto, karyawan Prima Cable Indo, tak pernah lupa pada tangan kidal Barry. Obama sering menunjukkan gambar-gambar tokoh superhero, seperti Batman dan Spiderman, hasil coretan tangan kidalnya. ”Ia juga ikut pramuka dan karate,” ujar Widiyanto.
Fotografer Rully Dasaad, 48 tahun, mengenang Obama sebagai kawan yang sama-sama hiperaktif. Barry dan Rully dikenal tak bisa diam dan kerap menebarkan bau apak keringat kepada kawan-kawan mereka setelah bermain kasti. ”Saya ingat waktu ikut pramuka, Barry pernah diikat oleh kakak kelas karena tak bisa diam,” ujarnya.
Rully juga merekam cerita tiga bulan pertama Obama bersekolah di sekolah dasar Besuki. Barry tak pernah mau menyanyi. Tapi, setelah itu dia senang menyanyikan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Salah satu lagu kesukaannya: Maju Tak Gentar.
Apa cita-cita Obama kecil? Kawan-kawan Barry di sekolah Asisi ataupun sekolah Besuki berusaha memeras memori mereka, tapi tak berhasil mengail cerita ini. Hanya Bu Guru Israella yang segera teringat pelajaran mengarang di kelas III. Dengan tema ”Cita-citaku”, Barack Obama pernah menulis: ”Cita-citaku: presiden”.
Obama kecil adalah Obama yang punya kehidupan berwarna. Ia cerdas, mudah bergaul, melindungi teman-temannya, berusaha keras belajar bahasa Indonesia, senang menyanyi lagu perjuangan, menimba sendiri air sumur di rumahnya, dan suka mengenakan kain sarung pemberian ayah tirinya.
Media-media Amerika berusaha keras membongkar sisi spiritual Obama ini untuk menyerang sang calon presiden. Coenraad, misalnya, pernah berang ketika ucapannya tentang sekolah Obama dipelesetkan: dari Asisi menjadi Asisyiah. ”Padahal jauh berbeda. Asisi adalah sekolah Katolik,” ujarnya.
Eddy Purwantoro sering bermain bersama Barry di masjid. Juga, di saat bulan puasa keduanya biasa main-main di masjid. ”Barry sering pakai sarung untuk menutup mukanya. Kami bermain ninja-ninjaan,” Eddy menjelaskan. Tapi Eddy tak pernah melihat Barry menjalankan salat. Yang ia tahu, Barry penganut Nasrani. Yang memeluk Islam adalah ayah tirinya, Pak Lolo.
Kini Coenraad, para tetangga, teman-teman, dan guru Obama sangat berharap ”sang Bebek Sawah” yang mereka banggakan bisa menembus Gedung Putih. Jika itu terjadi, kata Coenraad, ”Dia adalah warga Menteng Dalam pertama yang jadi Presiden Amerika.”
[Yos Rizal Suriaji, Bayu Galih, Rafly Wibowo]
Bebek Terkena Penyakit Aneh, Peternak Sumenep Bangkrut
Minggu, 16 Agustus 2009 | 14:18 WIB
TEMPO Interaktif, Sumenep - Sepuluh peternak bebek potong di Desa Ganding Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, mengalami kebangkrutan. Bebek potong mereka mati mendadak tertular penyakit aneh.
"Kejadiannya sudah tiga bulan lalu, sekarang saya tidak beternak lagi," kenang Jesid, 40 tahun, peternak bebek potong Desa Ganding, Minggu (16/8).
Jesid menceritakan, kematian puluhan ekor bebeknya, di mulai akhir bulan Mei lalu, ketika isu flu burung dan flu babi sedang marak. Sejak itu, setiap pagi dua hingga tiga ekor bebek yang siap jual mati, dengan ciri tubuh kaku dan hidungnya mengeluarkan lendir. "Saya rugi hampir empat juta, modal habis total," katanya.
Bisnis ternak bebek, kata Jesid, belum genap dua tahun digelutinya. Ia tertarik, setelah melihat teman-temannya sukses dengan beternak bebek potong. "Awalnya saya bisa untung ratusan ribu sekali panen," kenangnya.
Berbeda dengan Jesid, nasib lebih beruntung dialami Mabruhah. Perempuan berusia 33 tahun ini mengaku hanya mengalami rugi kecil karena masih sempat menjual seluruh bebeknya, setelah mendengar bebek milik Jesid mati mendadak tertular penyakit.
"Waktu itu, Bebek saya sudah sempat mati beberap ekor," katanya seraya menambahkan di Desa Ganding terdapat sepuluh peternak bebek dan bangkrut semua.
Kasus serangan penyakit terhadap ternak bebek potong ini, kata Mabruhah, telah dilaporkan kepada perangkat desa. Namun, belum ada tindakan apa pun. "Bangkainya kita kubur aja, takut tertular flu burung," katanya.[MUSTHOFA BISRI]
TEMPO Interaktif, Sumenep - Sepuluh peternak bebek potong di Desa Ganding Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, mengalami kebangkrutan. Bebek potong mereka mati mendadak tertular penyakit aneh.
"Kejadiannya sudah tiga bulan lalu, sekarang saya tidak beternak lagi," kenang Jesid, 40 tahun, peternak bebek potong Desa Ganding, Minggu (16/8).
Jesid menceritakan, kematian puluhan ekor bebeknya, di mulai akhir bulan Mei lalu, ketika isu flu burung dan flu babi sedang marak. Sejak itu, setiap pagi dua hingga tiga ekor bebek yang siap jual mati, dengan ciri tubuh kaku dan hidungnya mengeluarkan lendir. "Saya rugi hampir empat juta, modal habis total," katanya.
Bisnis ternak bebek, kata Jesid, belum genap dua tahun digelutinya. Ia tertarik, setelah melihat teman-temannya sukses dengan beternak bebek potong. "Awalnya saya bisa untung ratusan ribu sekali panen," kenangnya.
Berbeda dengan Jesid, nasib lebih beruntung dialami Mabruhah. Perempuan berusia 33 tahun ini mengaku hanya mengalami rugi kecil karena masih sempat menjual seluruh bebeknya, setelah mendengar bebek milik Jesid mati mendadak tertular penyakit.
"Waktu itu, Bebek saya sudah sempat mati beberap ekor," katanya seraya menambahkan di Desa Ganding terdapat sepuluh peternak bebek dan bangkrut semua.
Kasus serangan penyakit terhadap ternak bebek potong ini, kata Mabruhah, telah dilaporkan kepada perangkat desa. Namun, belum ada tindakan apa pun. "Bangkainya kita kubur aja, takut tertular flu burung," katanya.[MUSTHOFA BISRI]
Telur Asin Laris, Brebes Kekurangan Telur Bebek
Dari www.kompas.com, edisi Jumat, 5 September 2008 | 20:03 WIB
BREBES, JUMAT - Kebutuhan telur itik untuk bahan pembuatan telur asin di Kabupaten Brebes menjelang lebaran tahun ini, meningkat hingga tiga kali lipat bila dibandingkan hari-hari biasa. Meskipun demikian, produksi telur itik yang ada di sana, hanya mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan yang ada.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, Nono Setyawan, Jumat (5/9) mengatakan, penjualan telur asin selama musim lebaran selalu meningkat. Telur asin merupakan salah satu jenis makanan khas Brebes yang banyak diburu oleh pemudik.
Akibat meningkatnya penjualan telur asin, kebutuhan telur itik juga meningkat. Diperkirakan, kebutuhan telur itik selama bulan September ini mencapai 9 juta butir, atau naik tiga kali lipat bila dibandingkan hari-hari biasa. "Saat ini lonjakan permintaan telur itik sudah mulai terjadi, karena proses pengasinan membutuhkan waktu sedikitnya 10 hari," ujarnya.
Menurut Nono, tingginya kebutuhan telur itik belum diimbangi dengan tingginya produksi telur dari peternak. Rata-rata, produksi telur itik di Brebes hanya sekitar 4,88 juta butir per bulan. Telur itu diperoleh dari sekitar 325 orang orang peternak, yang t ersebar di sepanjang wilayah pantura, meliputi Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung, dan Losari.
Kekurangan telur itik di Brebes selama musim lebaran ini, diharapkan dapat dipenuhi dari produksi telur itik di wilayah Tegal, Pemalang, dan beberapa wilayah di Jawa Timur.
Nono mengakui, melonjaknya permintaan telur pada musim lebaran selalu terjadi setiap tahun. Meskipun demikian, antisipasi untuk meningkatkan produksi telur itik masih sulit dilakukan, karena populasi itik masih terbatas. Kepemilikan itik di masing-masing peternak juga masih sedikit.
"Rata-rata peningkatan jumlah peternak itik di Brebes hanya sekitar 10 persen per tahun. Sebenarnya, peluang peternakan itik masih terbuka lebar. Namun yang berminat hanya itu-itu saja," katanya.
Terkendala Modal
Ketua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Adem Ayem Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Atmo Suwito Rasban mengatakan, menjelang lebaran, harga telur itik naik dari Rp 900 menjadi Rp 1.100 per butir, sedangkan harga telur asin naik dari Rp 1.600 menjadi Rp 2.000 per butir.
Meskipun demikian, peternak masih sulit menaikkan produksi karena terkendala modal. Mereka mampu membeli itik baru, namun tidak mampu membeli pakan. Terlebih saat ini, harga pakan itik yang terdiri dari bekatul, ikan, dan sayuran (kangkung atau bayam) san gat mahal. Harga bekatul Rp Rp 1.500 per kilogram, sedangkan harga ikan Rp 1.200 per kilogram.
"Saat ini kami masih sanggup mengimbangi harga pakan karena harga jual telur itik mahal. Seharusnya agar terjangkau oleh peternak, harga bekatul maksimal Rp 1.000 per kilogram," ujarnya. Hingga saat ini, rata-rata kepemilikan itik di masing-masing peterna k sekitar 750 hingga 1.000 ekor per orang. [Siwi Nurbiajanti]
BREBES, JUMAT - Kebutuhan telur itik untuk bahan pembuatan telur asin di Kabupaten Brebes menjelang lebaran tahun ini, meningkat hingga tiga kali lipat bila dibandingkan hari-hari biasa. Meskipun demikian, produksi telur itik yang ada di sana, hanya mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan yang ada.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, Nono Setyawan, Jumat (5/9) mengatakan, penjualan telur asin selama musim lebaran selalu meningkat. Telur asin merupakan salah satu jenis makanan khas Brebes yang banyak diburu oleh pemudik.
Akibat meningkatnya penjualan telur asin, kebutuhan telur itik juga meningkat. Diperkirakan, kebutuhan telur itik selama bulan September ini mencapai 9 juta butir, atau naik tiga kali lipat bila dibandingkan hari-hari biasa. "Saat ini lonjakan permintaan telur itik sudah mulai terjadi, karena proses pengasinan membutuhkan waktu sedikitnya 10 hari," ujarnya.
Menurut Nono, tingginya kebutuhan telur itik belum diimbangi dengan tingginya produksi telur dari peternak. Rata-rata, produksi telur itik di Brebes hanya sekitar 4,88 juta butir per bulan. Telur itu diperoleh dari sekitar 325 orang orang peternak, yang t ersebar di sepanjang wilayah pantura, meliputi Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung, dan Losari.
Kekurangan telur itik di Brebes selama musim lebaran ini, diharapkan dapat dipenuhi dari produksi telur itik di wilayah Tegal, Pemalang, dan beberapa wilayah di Jawa Timur.
Nono mengakui, melonjaknya permintaan telur pada musim lebaran selalu terjadi setiap tahun. Meskipun demikian, antisipasi untuk meningkatkan produksi telur itik masih sulit dilakukan, karena populasi itik masih terbatas. Kepemilikan itik di masing-masing peternak juga masih sedikit.
"Rata-rata peningkatan jumlah peternak itik di Brebes hanya sekitar 10 persen per tahun. Sebenarnya, peluang peternakan itik masih terbuka lebar. Namun yang berminat hanya itu-itu saja," katanya.
Terkendala Modal
Ketua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Adem Ayem Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Atmo Suwito Rasban mengatakan, menjelang lebaran, harga telur itik naik dari Rp 900 menjadi Rp 1.100 per butir, sedangkan harga telur asin naik dari Rp 1.600 menjadi Rp 2.000 per butir.
Meskipun demikian, peternak masih sulit menaikkan produksi karena terkendala modal. Mereka mampu membeli itik baru, namun tidak mampu membeli pakan. Terlebih saat ini, harga pakan itik yang terdiri dari bekatul, ikan, dan sayuran (kangkung atau bayam) san gat mahal. Harga bekatul Rp Rp 1.500 per kilogram, sedangkan harga ikan Rp 1.200 per kilogram.
"Saat ini kami masih sanggup mengimbangi harga pakan karena harga jual telur itik mahal. Seharusnya agar terjangkau oleh peternak, harga bekatul maksimal Rp 1.000 per kilogram," ujarnya. Hingga saat ini, rata-rata kepemilikan itik di masing-masing peterna k sekitar 750 hingga 1.000 ekor per orang. [Siwi Nurbiajanti]
Petani Cirebon Kembangkan Bebek Viking
Jumat, 15 Mei 2009 | 09:17 WIB
CIREBON, KOMPAS.com - Petani di Kabupaten Cirebon kini menggalakkan ternak bebek viking karena permintaan akan unggas tersebut cukup besar. "Permintaan bebek viking dari Jakarta sekitar 500 ekor per hari, tatapi petani baru bisa memenuhi 1.000/minggu," kata Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Effendi di Sumber, ibukota Kabupaten Cirebon, Jumat.
Menurut dia, pihaknya terus melakukan pembinaan agar petani bebek viking tidak lagi menjadikan unggas itu sebagai penghasilan tambahan, melainkan menjadi penghasilan pokok. Karena itu, para petani diberi penyuluhan bagaimana menjadi peternak bebek viking yang digemari restoran di Jakarta tersebut.
"Masalah pemasaran bebek viking sudah jelas. Karena itu bagaimana meningkatan produksi dan menjaga kelanjutan ternak tersebut," katanya. Dikatakannya, berat bebek viking dewasa bisa mencapai 2,6 kilogram per ekor dengan harga sekitar Rp 80 ribu.
Bebek tersebut sebenarnya lebih mudah diternakkan di Kabupaten Cirebon karena petani sudah biasa memelihara itik yang kini populasinya mencapai 30 ribu itik betina dewasa. "Hanya saja itik selain diambil dagingnya juga sangat produktif menghasilkan telur, sedangkan bebek viking khusus diproduksi dagingnya," katanya.
"Oleh karena nilai ekonomi itik viking tersebut cukup tinggi, maka diajurkan agar investor melakukan kerjasama dengan para petani sebagai produsen. Tujuannya agar petani lebih serius berternak bebek viking," tambahnya.
ABI
Sumber : Ant
CIREBON, KOMPAS.com - Petani di Kabupaten Cirebon kini menggalakkan ternak bebek viking karena permintaan akan unggas tersebut cukup besar. "Permintaan bebek viking dari Jakarta sekitar 500 ekor per hari, tatapi petani baru bisa memenuhi 1.000/minggu," kata Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Effendi di Sumber, ibukota Kabupaten Cirebon, Jumat.
Menurut dia, pihaknya terus melakukan pembinaan agar petani bebek viking tidak lagi menjadikan unggas itu sebagai penghasilan tambahan, melainkan menjadi penghasilan pokok. Karena itu, para petani diberi penyuluhan bagaimana menjadi peternak bebek viking yang digemari restoran di Jakarta tersebut.
"Masalah pemasaran bebek viking sudah jelas. Karena itu bagaimana meningkatan produksi dan menjaga kelanjutan ternak tersebut," katanya. Dikatakannya, berat bebek viking dewasa bisa mencapai 2,6 kilogram per ekor dengan harga sekitar Rp 80 ribu.
Bebek tersebut sebenarnya lebih mudah diternakkan di Kabupaten Cirebon karena petani sudah biasa memelihara itik yang kini populasinya mencapai 30 ribu itik betina dewasa. "Hanya saja itik selain diambil dagingnya juga sangat produktif menghasilkan telur, sedangkan bebek viking khusus diproduksi dagingnya," katanya.
"Oleh karena nilai ekonomi itik viking tersebut cukup tinggi, maka diajurkan agar investor melakukan kerjasama dengan para petani sebagai produsen. Tujuannya agar petani lebih serius berternak bebek viking," tambahnya.
ABI
Sumber : Ant
Warung Bebek Marak, Peternak Kesulitan Bibit
Selasa, 12 Mei 2009 | 20:53 WIB
TEGAL, KOMPAS.com — Sejumlah peternak itik di Kota Tegal kesulitan mendapatkan, baik bibit itik atau day old duck (DOD) maupun itik bayah (itik berusia 5,5 bulan yang sudah siap bertelur). Hal tersebut akibat terbatasnya petani pembibit maupun penetas itik. Selain itu, permintaan DOD juga terus meningkat akibat meningkatnya permintaan itik pedaging oleh sejumlah rumah makan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ternak Itik Purwadiwangsa Kota Tegal Bambang Haryo Wicaksono, Selasa (12/5), mengatakan, sebenarnya saat ini para peternak itik di Tegal sudah mulai bangkit kembali. Mereka mulai memelihara bibit baru, setelah pada puncak musim penghujan lalu sebagian terpaksa menutup usaha untuk sementara.
Pada musim penghujan, produktivitas itik sangat rendah sehingga banyak peternak merugi. Dari 358 peternak yang tergabung dalam Gapoktan Ternak Itik Purwadiwangsa, saat itu sekitar 30 persen menghentikan usaha.
Memasuki musim kemarau, mereka mulai memelihara itik kembali, berupa DOD atau itik bayah. Namun, para peternak kesulitan mendapatkannya sehingga harus memesan sekitar satu bulan sebelumnya. "Penetas dan pembibit sangat minim, di Tegal tidak ada. Biasanya peternak mendapatkannya dari Pati, Cirebon, dan Indramayu," ujarnya.
Selain itu, harga DOD maupun itik bayah juga naik. Dalam satu bulan terakhir, harga DOD jantan naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000 per ekor, harga DOD betina naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 5.000 per ekor, dan harga itik bayah naik dari Rp 32.000 menjadi Rp 37.000 per ekor.
Menurut Bambang, selain karena sedikitnya jumlah peternak pembibit, kondisi tersebut juga akibat tingginya permintaan DOD. Selain berasal dari peternak itik yang ditelurkan, permintaan juga berasal dari peternak yang sekadar memelihara itik untuk dijadikan itik pedaging. Biasanya, DOD yang dipelihara sebagai itik pedaging merupakan DOD jantan.
Bambang mengatakan, munculnya para peternak itik pedaging merupakan imbas tingginya permintaan daging itik dari sejumlah rumah makan. "Pasalnya sejak setahun lalu, banyak bermunculan rumah makan yang menyediakan olahan daging itik. Permintaan itik afkir (itik yang sudah tidak produktif) juga sangat banyak," katanya.
WIE
TEGAL, KOMPAS.com — Sejumlah peternak itik di Kota Tegal kesulitan mendapatkan, baik bibit itik atau day old duck (DOD) maupun itik bayah (itik berusia 5,5 bulan yang sudah siap bertelur). Hal tersebut akibat terbatasnya petani pembibit maupun penetas itik. Selain itu, permintaan DOD juga terus meningkat akibat meningkatnya permintaan itik pedaging oleh sejumlah rumah makan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ternak Itik Purwadiwangsa Kota Tegal Bambang Haryo Wicaksono, Selasa (12/5), mengatakan, sebenarnya saat ini para peternak itik di Tegal sudah mulai bangkit kembali. Mereka mulai memelihara bibit baru, setelah pada puncak musim penghujan lalu sebagian terpaksa menutup usaha untuk sementara.
Pada musim penghujan, produktivitas itik sangat rendah sehingga banyak peternak merugi. Dari 358 peternak yang tergabung dalam Gapoktan Ternak Itik Purwadiwangsa, saat itu sekitar 30 persen menghentikan usaha.
Memasuki musim kemarau, mereka mulai memelihara itik kembali, berupa DOD atau itik bayah. Namun, para peternak kesulitan mendapatkannya sehingga harus memesan sekitar satu bulan sebelumnya. "Penetas dan pembibit sangat minim, di Tegal tidak ada. Biasanya peternak mendapatkannya dari Pati, Cirebon, dan Indramayu," ujarnya.
Selain itu, harga DOD maupun itik bayah juga naik. Dalam satu bulan terakhir, harga DOD jantan naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000 per ekor, harga DOD betina naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 5.000 per ekor, dan harga itik bayah naik dari Rp 32.000 menjadi Rp 37.000 per ekor.
Menurut Bambang, selain karena sedikitnya jumlah peternak pembibit, kondisi tersebut juga akibat tingginya permintaan DOD. Selain berasal dari peternak itik yang ditelurkan, permintaan juga berasal dari peternak yang sekadar memelihara itik untuk dijadikan itik pedaging. Biasanya, DOD yang dipelihara sebagai itik pedaging merupakan DOD jantan.
Bambang mengatakan, munculnya para peternak itik pedaging merupakan imbas tingginya permintaan daging itik dari sejumlah rumah makan. "Pasalnya sejak setahun lalu, banyak bermunculan rumah makan yang menyediakan olahan daging itik. Permintaan itik afkir (itik yang sudah tidak produktif) juga sangat banyak," katanya.
WIE
Langganan:
Postingan (Atom)