Rabu, 23 Juli 2008 | 08:55 WIB [http://www.kompas.com]
Selingkuh ternyata bukan cuma monopoli manusia. Bebek betina dan entok jantan biasa melakukannya. Malah, perselingkuhan bebek dan entok ini sudah menelurkan anak bernama tiktok. Bagi Santoso, peternak bebek asal Depok, Jawa Barat, tiktok adalah sumber rezeki. "Saya mengawinkan itik betina dengan entok jantan. Orang lain biasanya melakukan kebalikannya," ujarnya.
Tubuh tiktok jauh lebih bongsor ketimbang bebek. Soal rasa, daging tiktok tak kalah dengan daging bebek. Kini Santoso benar-benar menikmati laba gurih dari berjualan daging tiktok.
Pria yang berternak unggas sejak 1985 menjelaskan bahwa berternak tiktok lebih murah ketimbang berternak bebek. Maklum, tubuh tiktok lebih cepat besar ketimbang bebek. Dengan begitu, ongkos merawat tiktok juga lebih sedikit.
Untuk membesarkan tiktok hingga mencapai berat 2 kg, Santosa mengaku hanya membutuhkan waktu satu setengah sampai dua bulan. "Kalau bebek biasa, setidaknya membutuhkan waktu empat hingga lima bulan," ujarnya.
Soal makanan, tiktok juga terbilang tidak rewel. Hewan ternak ini doyan makan apa saja, mulai dari dedak hingga limbah dapur. Cuma, Santoso memiliki ramuan khusus untuk makanan tiktok. Ada dua jenis bahan baku makanan tiktok ini. Pertama adalah dedak dan limbah roti. Harga dedak itu di pasar sekitar Rp 2.000 per kg. Sementara itu, untuk limbah roti, harga per kilogram Rp 5.000.
Sebagai gambaran, untuk membesarkan satu tiktok hingga layak dipotong butuh waktu sekitar dua bulan. Selama itu, satu tiktok bisa menghabiskan pakan sekitar 6 kg bahan campuran dedak dan roti. Saat ini Santosa memelihara setidaknya 500-600 tiktok. "Tiap bulan, saya menghabiskan 1,8 ton pakan," ujarnya.
Santosa mengaku tidak sulit mendapatkan bahan makanan bebek. Bahan ini tersedia di banyak toko penjual makanan ternak. Santoso juga mengatakan bahwa modal berbisnis ini tidaklah terlalu banyak. "Waktu tahun 1985 modal saya hanya Rp 1 juta," ujarnya.
Untuk mendapatkan tiktok tergolong mudah. Santoso mengungkapkan, hampir setiap hari ia mengawinkan beberapa pasang itik dan entok. Dari hasil persilangan itu Santoso bisa mendapatkan 30-50 butir telur.
Ia selanjutnya memasukkan telur dalam inkubasi sebagai media penetasan. Lama penetasan sebulan. Setelah menetas, bayi tiktok siap dibesarkan dan siap dipotong setelah berumur dua bulan.
Telur agak sensitif
Cuma, Santoso mewanti-wanti. Proses penetasan merupakan bagian yang sangat menentukan. Proses melakukan inkubasi, misalnya, harus dilakukan secara hati-hati. Sebab, telur-telur ini agak sensitif. "Bisa-bisa tidak jadi bebek atau pertumbuhannya lambat," ujar Santosa.
Untuk pemilihan induk yang akan dikawinkan, Santoso mempunyai itik sebanyak 300 ekor dan entok sebanyak 20 ekor. "Saya harus menyiapkan induk sebanyak itu. Kalau kurang, saya akan membeli itik atau entok lagi," ujarnya.
Saat ini Santoso bisa menghasilkan 100 ekor tiktok dewasa setiap hari. Cuma, ia belum bisa melayani pesanan tiktok dari restoran lain. Maklum, seluruh tiktok itu masih menjadi sumber pasokan bagi restoran miliknya. Di restoran ia menjual per ekor tiktok seharga Rp 60.000. "Saya mengambil untung Rp 10.000 per ekor," ujarnya.
Santosa mengaku memprioritaskan hasil silangan tiktok untuk memasok kebutuhan restorannya. Padahal, menurutnya, permintaan dari luar hasil ternak silangannya ini lumayan besar. "Saya sering didatangi restoran yang meminta saya memasok bebek ke mereka," ujarnya.
Kalau dijual di pasar, harga tiktok bisa seharga Rp 40.000-Rp 50.000 per ekor. Sayang, Santosa enggan blak-blakan soal berapa keuntungan bersih yang diraupnya dari bisnis anak persilangan itik dan entok itu.
Santoso mengklaim, protein daging tiktok lebih tinggi ketimbang bebek, sedangkan kolesterol tiktok lebih rendah dibandingkan dengan bebek biasa. "Saya sudah mengetes di laboratorium IPB dan ada sertifikatnya," ujarnya.
Santoso mengatakan, bisnis ternak bebek silangan ini masih mempunyai prospek bagus. Selain bisa menghasilkan puluhan juta per bulan, memelihara tiktok juga semudah memelihara bebek. Tiktok termasuk unggas yang bandel dan tahan banting. Tiktok juga relatif tahan terhadap virus flu burung. "Tinggal sediakan lahan saja, bebek itu akan hidup sendiri," ujarnya. (Lamgiat Siringoringo)
===============================
Peternakan Tiktok
Jalan KH M Usman Nomor 81A
Beji, Depok, Jawa Barat
Telepon: 0813-10792633
Sumber: KONTAN
Kamis, 19 November 2009
Mencicipi Sate Menthok dari Tuban
Ervita - detikFood [www.detik.com]
Jakarta - Beberapa bulan lalu Ibu saya memberi selebaran ada Restaurant baru di daerah Bintaro Jaya, namanya Ronggolawe, menyediakan makanan khas Tuban, Jawa Timur. Menu utamanya memakai daging menthok. Menthok adalah unggas yang mirip itik atau bebek, dengan kaki dan leher yang lebih pendek. Hmm... rasanya seperti apa ya? Jadi penasaran nih!
Akhirnya jadilah saya, adik dan mama pergi ke sana untuk makan siang. Kebetulan juga bertepatan dengan acara menginap di rumah orang tua yang berada di daerah Bintaro. Rumah makannya menempati salah satu dari deretan ruko dekat Bintaro Jaya Plaza.
Sewaktu datang, suasana sepi, tidak ada pengunjung lain. Di tiap-tiap meja terdapat hiasan penjual legen dalam bentuk mini. Tidak menunggu lama, kami segera memesan menu sate menthok seharga Rp 20.000,00 dan becek menthok Rp 15.000,00. Untuk sayurnya dipesan sayur asem kuning Rp 3000,00.
Minumnya adik saya mencoba es legen, Rp 5000,00, sedang yang lain memesan minuman standar berupa es teh manis. Selain menu-meu tersebut ada menu lain seperti mentok goreng dan mentok bakar, dan berbagai macam menu ikan serta ayam.
Makanan datang agak lama. Pertama sayur asam datang lebih dulu, penampilannya beda dengan sayur asam pada umumnya, kuahnya kuning dan rasanya sedikit pedas. Isinya ada potongan wortel, kacang panjang dan beberapa potong udang. Rasanya? Hmm... bolehlah, tidak mengecewakan. Cukup segar untuk jadi teman makan sate menthok nanti.
Selanjutnya, sang becek menthok pun tiba. Becek menthok adalah daging menthok yang dimasak dengan kuah kuning nyaris seperti gulai. Rasanya gurih, tetapi sayang dagingnya agak alot. Sate menthok datang paling terakhir dengan sambal kecap, dan disertai hiasan terakhir potongan tomat, bawang merah dan cabai hijau.
Untuk rasa dagingnya sendiri mirip-mirip daging bebek, dan kali ini untuk daging menthok untuk sate lumayan empuk, beda dengan beceknya. Sedangkan untuk es legen, rasanya cukup unik, seperti air tape. Nah, buat yang penasaran ingin mencicipi rasa daging menthok bisa mampir rumah makan ini.
Rumah Makan Ronggolawe
Jl. Bintaro Utama 3A Ruko Victorian Blok C No 2
(Samping Sekolah Pembangunan Jaya), Bintaro
Telp: 021-7340416 ( dev / Odi )
Jakarta - Beberapa bulan lalu Ibu saya memberi selebaran ada Restaurant baru di daerah Bintaro Jaya, namanya Ronggolawe, menyediakan makanan khas Tuban, Jawa Timur. Menu utamanya memakai daging menthok. Menthok adalah unggas yang mirip itik atau bebek, dengan kaki dan leher yang lebih pendek. Hmm... rasanya seperti apa ya? Jadi penasaran nih!
Akhirnya jadilah saya, adik dan mama pergi ke sana untuk makan siang. Kebetulan juga bertepatan dengan acara menginap di rumah orang tua yang berada di daerah Bintaro. Rumah makannya menempati salah satu dari deretan ruko dekat Bintaro Jaya Plaza.
Sewaktu datang, suasana sepi, tidak ada pengunjung lain. Di tiap-tiap meja terdapat hiasan penjual legen dalam bentuk mini. Tidak menunggu lama, kami segera memesan menu sate menthok seharga Rp 20.000,00 dan becek menthok Rp 15.000,00. Untuk sayurnya dipesan sayur asem kuning Rp 3000,00.
Minumnya adik saya mencoba es legen, Rp 5000,00, sedang yang lain memesan minuman standar berupa es teh manis. Selain menu-meu tersebut ada menu lain seperti mentok goreng dan mentok bakar, dan berbagai macam menu ikan serta ayam.
Makanan datang agak lama. Pertama sayur asam datang lebih dulu, penampilannya beda dengan sayur asam pada umumnya, kuahnya kuning dan rasanya sedikit pedas. Isinya ada potongan wortel, kacang panjang dan beberapa potong udang. Rasanya? Hmm... bolehlah, tidak mengecewakan. Cukup segar untuk jadi teman makan sate menthok nanti.
Selanjutnya, sang becek menthok pun tiba. Becek menthok adalah daging menthok yang dimasak dengan kuah kuning nyaris seperti gulai. Rasanya gurih, tetapi sayang dagingnya agak alot. Sate menthok datang paling terakhir dengan sambal kecap, dan disertai hiasan terakhir potongan tomat, bawang merah dan cabai hijau.
Untuk rasa dagingnya sendiri mirip-mirip daging bebek, dan kali ini untuk daging menthok untuk sate lumayan empuk, beda dengan beceknya. Sedangkan untuk es legen, rasanya cukup unik, seperti air tape. Nah, buat yang penasaran ingin mencicipi rasa daging menthok bisa mampir rumah makan ini.
Rumah Makan Ronggolawe
Jl. Bintaro Utama 3A Ruko Victorian Blok C No 2
(Samping Sekolah Pembangunan Jaya), Bintaro
Telp: 021-7340416 ( dev / Odi )
Rabu, 18 November 2009
Meracik Laba dari Aneka Menu Bebek
KOMPAS.com - Saat ini menu bebek sudah tidak asing lagi di lidah kita. Orang sudah mampu mengolah daging bebek sehingga tidak alot dan berbau amis seperti dulu. Tak heran gerai-gerai yang menjajakan aneka jenis menu dari daging bebek terus bermunculan. Agar bisa menggaet banyak pembeli, tentu masing-masing menonjolkan keunikan olahannya.
Salah satu restoran yang mengaku berhasil menciptakan menu bebek yang diminati banyak orang adalah restoran bebek goreng Mbah Wongso asal Yogyakarta. Rumah makan ini menyajikan berbagai menu bebek. Ada bebek goreng, bebek bakar, rica-rica bebek, dan bebek penyet.
Menurut Suanto, keunggulan menu bebeknya terletak pada tekstur bebek yang garing tetapi lembut, dan tanpa bau amis. Ini berkat ramuan bumbu khas Mbah Wongso yang dipadu sambal kocek, khas racikan tangan Suanto.
Anto -panggilan akrabnya- memulai usaha ini tahun 2002 di Yogyakarta. Usaha lelaki asli Solo ini terus berkembang, hingga akhirnya ia punya empat cabang dan namanya di kenal di Solo dan sekitarnya. Anto yakin minat terhadap menu bebek akan terus meningkat. Namun ia juga masih terus giat melakukan promosi. Di antaranya lewat pameran, internet, maupun koran lokal.
Tahun 2008, Anto pun menawarkan waralaba. Sekarang dia sudah punya lima terwaralaba yang membuka gerai di Malang, Pekalongan, Kudus, dan Jakarta.
Modal Rp 102 juta
Anto menawarkan paket waralaba seharga Rp 102 juta untuk wilayah Jawa, dan seharga Rp 122 juta untuk di luar Jawa. Paket waralaba tersebut sudah mencakup fee waralaba (franchise fee) sebesar Rp 35 juta untuk lima tahun, semua peralatan produksi, pelatihan karyawan, stok bahan baku pertama, seragam karyawan, dan promosi. Paket investasi itu juga sudah termasuk renovasi tempat, namun tidak termasuk biaya sewa tempat.
Seperti kebanyakan waralaba lain, Anto juga mengharuskan terwaralaba membeli daging bebek dari pihaknya. Untuk lalapan dan bumbu lainnya, terwaralaba bisa membeli dari tempat lain.
Harga menu tergantung lokasi gerai. Untuk bebek goreng, misalnya, Anto mematok harga Rp 10.000 per porsi untuk Yogya, dan Rp 14.000 di Jakarta. Harga rica-rica bebek Rp 15.000 di Yogya, dan Rp 19.000 di Jakarta. Tetapi, Anto tidak memberlakukan harga mati. Terwaralaba bisa menentukan harga sendiri.
Menurut hitungan Anto, jika terwaralaba bisa menjual 100 porsi atau sekitar 25 ekor per hari, terwaralaba bisa meraup omzet Rp 1,5 juta per hari, atau Rp 35 juta - Rp 45 juta per bulan. Setelah dikurangi semua biaya, termasuk sewa tempat, terwaralaba akan balik modal antara 12 bulan-18 bulan.
Nani Astono, salah satu mitra Bebek Goreng Mbah Wongso yang membuka gerai di Yogyakarta sejak awal 2009, menyatakan tertarik menjadi terwaralaba karena Mbah Wongso menawarkan menu lebih variatif.
Nani bilang sejauh ini ia sudah mempunyai banyak penggemar. Dalam sehari setidaknya ia bisa menghabiskan 20 ekor bebek, dengan omzet rata-rata Rp 1 juta. Namun ia mengaku, tingkat keuntungan bersih yang ia peroleh hanya 15%. Karena itu, ia belum bisa balik modal dalam waktu dekat ini.
(Dupla Kartini/Kontan Online Weekend)
Salah satu restoran yang mengaku berhasil menciptakan menu bebek yang diminati banyak orang adalah restoran bebek goreng Mbah Wongso asal Yogyakarta. Rumah makan ini menyajikan berbagai menu bebek. Ada bebek goreng, bebek bakar, rica-rica bebek, dan bebek penyet.
Menurut Suanto, keunggulan menu bebeknya terletak pada tekstur bebek yang garing tetapi lembut, dan tanpa bau amis. Ini berkat ramuan bumbu khas Mbah Wongso yang dipadu sambal kocek, khas racikan tangan Suanto.
Anto -panggilan akrabnya- memulai usaha ini tahun 2002 di Yogyakarta. Usaha lelaki asli Solo ini terus berkembang, hingga akhirnya ia punya empat cabang dan namanya di kenal di Solo dan sekitarnya. Anto yakin minat terhadap menu bebek akan terus meningkat. Namun ia juga masih terus giat melakukan promosi. Di antaranya lewat pameran, internet, maupun koran lokal.
Tahun 2008, Anto pun menawarkan waralaba. Sekarang dia sudah punya lima terwaralaba yang membuka gerai di Malang, Pekalongan, Kudus, dan Jakarta.
Modal Rp 102 juta
Anto menawarkan paket waralaba seharga Rp 102 juta untuk wilayah Jawa, dan seharga Rp 122 juta untuk di luar Jawa. Paket waralaba tersebut sudah mencakup fee waralaba (franchise fee) sebesar Rp 35 juta untuk lima tahun, semua peralatan produksi, pelatihan karyawan, stok bahan baku pertama, seragam karyawan, dan promosi. Paket investasi itu juga sudah termasuk renovasi tempat, namun tidak termasuk biaya sewa tempat.
Seperti kebanyakan waralaba lain, Anto juga mengharuskan terwaralaba membeli daging bebek dari pihaknya. Untuk lalapan dan bumbu lainnya, terwaralaba bisa membeli dari tempat lain.
Harga menu tergantung lokasi gerai. Untuk bebek goreng, misalnya, Anto mematok harga Rp 10.000 per porsi untuk Yogya, dan Rp 14.000 di Jakarta. Harga rica-rica bebek Rp 15.000 di Yogya, dan Rp 19.000 di Jakarta. Tetapi, Anto tidak memberlakukan harga mati. Terwaralaba bisa menentukan harga sendiri.
Menurut hitungan Anto, jika terwaralaba bisa menjual 100 porsi atau sekitar 25 ekor per hari, terwaralaba bisa meraup omzet Rp 1,5 juta per hari, atau Rp 35 juta - Rp 45 juta per bulan. Setelah dikurangi semua biaya, termasuk sewa tempat, terwaralaba akan balik modal antara 12 bulan-18 bulan.
Nani Astono, salah satu mitra Bebek Goreng Mbah Wongso yang membuka gerai di Yogyakarta sejak awal 2009, menyatakan tertarik menjadi terwaralaba karena Mbah Wongso menawarkan menu lebih variatif.
Nani bilang sejauh ini ia sudah mempunyai banyak penggemar. Dalam sehari setidaknya ia bisa menghabiskan 20 ekor bebek, dengan omzet rata-rata Rp 1 juta. Namun ia mengaku, tingkat keuntungan bersih yang ia peroleh hanya 15%. Karena itu, ia belum bisa balik modal dalam waktu dekat ini.
(Dupla Kartini/Kontan Online Weekend)
Senin, 02 November 2009
Menimbang : Beli DOD atau Itik Siap Telur ?
www.sentralternak.com, Dua pertanyaan yang sering muncul ketika kita telah memutuskan untuk memulai usaha ternak itik petelur yaitu membeli DOD atau itik siap telur? Itu kami dapatkan dari beberapa pertanyaan dan konsultasi usaha yang masuk kepada kami yang masih bingung dari mana memulai usaha ternak itik. Untuk itu kami mencoba menulis artikel berikut walaupun sudah ada artikel yang sudah kami tulis sebelumnya dengan judul : dari mana memulai ternak itik? Mudah-mudahan artikel ini bisa melengkapi artikel sebelumnya dan bermanfaat bagi kita semua.
Memutuskan untuk membeli DOD atau itik siap telur (bayah) adalah hal yang tidak gampang. Diperlukan pertimbangan dan analisa yang lebih matang lebih salah dalam memutuskan bukan hal yang mustahil akan membuat usaha kita akan mengalami kendala bahkan bisa jadi gulung tikar di tengah jalan. Untuk itu uraian yang sedikit berikut mudah-mudahan bisa membantu kita dalam membuat keputusan dalam membeli DOD atau itik siap telur.
Pemeliharaan
Memelihara dari umur DOD kita akan dapat mengetahui secara pasti umur ternak yang kita pelihara, di samping itu kalau nanti itik sudah dewasa sudah tidak perlu lagi adaptasi dengan lingkungan sekitar karena sudah terbiasa. Akan tetapi kalau kita membeli DOD ada sisi nilai kekurangannya antara lain kan memakan waktu yang sampai berproduksi (± 6 bulan) dan kalau membeli dari produsen yang tidak terpercaya bisa jadi DOD yang kita beli berjenis kelamin betina campur jantan atau malah kebanyakan jantannya. Di samping itu resiko kematian kalau kita memelihara dari DOD lebih tinggi daripada kita langsung membeli itik siap telur. Membeli itik siap telur ada juga keuntungannya yaitu kita bisa segera menikmati hasil produksi.
Pengalaman
Orang yang memelihara itik sejak DOD akan mempunyai banyak pengalaman dan catatan mengenai ternak yang dipeliharanya. Peternak akan mempunyai pengalaman penyebab kematian DOD, pengendalian penyakit, dan tentunya catatan tersendiri tentang ternak. Faktor kepuasan adalah salah satu faktor yang biasa menjadi pertimbangan bagi mereka yang memutuskan untuk membeli dari DOD.
Modal
Tidak bisa dipungkiri bahwa membeli itik siap telur akan memerlukan modal sekitar 10 kali lipat jika dibandingkan dengan membeli DOD dalam waktu yang bersamaan. Memelihara dari DOD sampai itik siap telur kalau dihitung-hitung biaya bisa lebih tinggi daripada kita langsung membeli itik siap telur dari peternak. Mungkin anda tidak terasa mengeluarkan modal tiap hari sampai itik siap telur, dan kalau anda jumlahkan bisa jadi harganya lebih tinggi dan itu belum termasuk waktu anda yang terbuang selama kurang lebih 6 bulan.
Dari paparan di atas maka sekarang andalah hakim pembuat keputusan dalam memutuskan membeli DOD atau itik siap telur. Anda sekarang bisa mengukur diri anda sendiri dalam memutuskan pilihan.
Terobosan bagi pemula
Model pertama adalah membeli itik siap telur dan juga DOD, apa hubungannya? Kita akan mendapatkan hasil dari penjualan telur dari itik dewasa dan keuntungannya untuk biaya memelihara DOD. Model ini bisa diambil bagi anda yang optimis akan berhasil pada usaha ini. Dengan memelihara dari fase yang berbeda tentunya kita akan mendapatkan dua pengalaman sekaligus yaitu pengalaman memelihara DOD sampai siap telur dan pengalaman melihara itik siap telur sampai berproduksi dalam satu kurun waktu. Keuntungan lain yang di dapat adalah kita akan dapat menjaga kontinuitas usaha karena ketika kita akan melakukan pengafkiran itik dewasa kita sudah punya ternak pengganti (DOD yang kita besarkan).
Model kedua adalah membeli bayah dan mesin tetas, apa hubungannya? Kita akan mengkhususkan tujuan usaha untuk produksi telur tetas dan DOD. Telur yang dihasilkan oleh itik dewasa kita seleksi sebagai telur tetas kemudian kita menetaskannya sendiri. Dari sebutir telur yang semula berharga Rp 900, kalau menetas akan menjadi Rp 3.000 - Rp 4.500/ekor. Keuntungan lain adalah kita akan mendapatkan DOD yang kita ketahui tetuanya dan juga kita bisa menjualnya kepada orang lain.
Jumlah yang dipelihara
Kalau anda memutuskan untuk membeli DOD maka kami menyarankan untuk membeli dengan jumlah 500 ekor. Mengapa? Karena diharapkan dari 500 ekor tersebut dapat kita pilih (seleksi) sekitar 400 ekor itik sampai siap telur dan itu berarti perhitungannya sama kalau kita langsung membeli itik siap telur 400 ekor, mengapa? Karena dengan jumlah itu kita setidaknya bisa mengantongi keuntungan sekitar 3 juta-an/bulan.
Berikut perhitungannya :
Rerata produksi telur 70 % (bahkan bisa lebih sampai 85%), berartijumlah telur yang dihasilkan dari 400 ekor itik dewasa adalah 280 butir. Kalau harga sebutir telur Rp 900/butir maka jumlah pendapatan adalah Rp 900/butir x 280 butir = Rp 252.000 sedangkan untuk kebutuhan pakan sekitar Rp 450/ekor/hari dan masih ada selisih Rp 450. Sehingga pendapatan kotor dalam satu bulan adalah Rp 450 x 280 butir x 30 hari = Rp 3.780.00 dan itu adalah sebuah pendapatan yang tentunya tidak kita duga bukan?. Apalagi kalau kita masih bisa berkreasi dengan produk kita seperti membuat telur asin, telur mengandung omega 3 atau telur dengan warna kuning telur berwarna orange dan lain sebainya tentu hasil yang kita peroleh jauh lebih besar lagi. Atau juga kalau anda mengambil model kedua dari terobosan di atas maka keuntungannya masih bisa berlipat ganda.
Jangan tertipu
Kalau anda telah membuat keputusan untuk membeli itik siap telur maka jangan tertipu dengan harga yang ditawarkan. Selisih harga adalah wajar karena harga juga ditentukan oleh kondisi barang. Itik yang benar-benar siap bertelur tentunya mempunyai harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan itik yang masih membutuhkan waktu antara 2 minggu bahkan satu bulan lagi bertelur (berproduksi). Hal ini erat hubungannya dengan biaya pakan yang akan kita keluarkan selama menunggu masa bertelur. Kalau satu hari konsumsi pakan diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 350 - 450/ekor, maka dalam jangka 10 hari sudah ada biaya tambahan sekitar Rp 3.500 - 4.500/ekor. Di samping memperhatikan umur jangan lupa untuk memperhatikan keseragaman ternak dalam satu kelompok. Jangan sampai itik siap telur yang kita beli tercampuri dengan itik afkir atau itik yang sudah tidak berproduksi lagi. Berikut kiat untuk membedakan itik muda, tua dan produktif :
* Kondisi bulu sayap itik muda saling menyilang, semakin berumur silangannya semakin pendek
* Bentuk paruh itik tua pipih seperti sendok serta mempunyai kaki yang bersisik
* Itik siap telur dicirikan dengan pantat besar
Silahkan mencopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com
Memutuskan untuk membeli DOD atau itik siap telur (bayah) adalah hal yang tidak gampang. Diperlukan pertimbangan dan analisa yang lebih matang lebih salah dalam memutuskan bukan hal yang mustahil akan membuat usaha kita akan mengalami kendala bahkan bisa jadi gulung tikar di tengah jalan. Untuk itu uraian yang sedikit berikut mudah-mudahan bisa membantu kita dalam membuat keputusan dalam membeli DOD atau itik siap telur.
Pemeliharaan
Memelihara dari umur DOD kita akan dapat mengetahui secara pasti umur ternak yang kita pelihara, di samping itu kalau nanti itik sudah dewasa sudah tidak perlu lagi adaptasi dengan lingkungan sekitar karena sudah terbiasa. Akan tetapi kalau kita membeli DOD ada sisi nilai kekurangannya antara lain kan memakan waktu yang sampai berproduksi (± 6 bulan) dan kalau membeli dari produsen yang tidak terpercaya bisa jadi DOD yang kita beli berjenis kelamin betina campur jantan atau malah kebanyakan jantannya. Di samping itu resiko kematian kalau kita memelihara dari DOD lebih tinggi daripada kita langsung membeli itik siap telur. Membeli itik siap telur ada juga keuntungannya yaitu kita bisa segera menikmati hasil produksi.
Pengalaman
Orang yang memelihara itik sejak DOD akan mempunyai banyak pengalaman dan catatan mengenai ternak yang dipeliharanya. Peternak akan mempunyai pengalaman penyebab kematian DOD, pengendalian penyakit, dan tentunya catatan tersendiri tentang ternak. Faktor kepuasan adalah salah satu faktor yang biasa menjadi pertimbangan bagi mereka yang memutuskan untuk membeli dari DOD.
Modal
Tidak bisa dipungkiri bahwa membeli itik siap telur akan memerlukan modal sekitar 10 kali lipat jika dibandingkan dengan membeli DOD dalam waktu yang bersamaan. Memelihara dari DOD sampai itik siap telur kalau dihitung-hitung biaya bisa lebih tinggi daripada kita langsung membeli itik siap telur dari peternak. Mungkin anda tidak terasa mengeluarkan modal tiap hari sampai itik siap telur, dan kalau anda jumlahkan bisa jadi harganya lebih tinggi dan itu belum termasuk waktu anda yang terbuang selama kurang lebih 6 bulan.
Dari paparan di atas maka sekarang andalah hakim pembuat keputusan dalam memutuskan membeli DOD atau itik siap telur. Anda sekarang bisa mengukur diri anda sendiri dalam memutuskan pilihan.
Terobosan bagi pemula
Model pertama adalah membeli itik siap telur dan juga DOD, apa hubungannya? Kita akan mendapatkan hasil dari penjualan telur dari itik dewasa dan keuntungannya untuk biaya memelihara DOD. Model ini bisa diambil bagi anda yang optimis akan berhasil pada usaha ini. Dengan memelihara dari fase yang berbeda tentunya kita akan mendapatkan dua pengalaman sekaligus yaitu pengalaman memelihara DOD sampai siap telur dan pengalaman melihara itik siap telur sampai berproduksi dalam satu kurun waktu. Keuntungan lain yang di dapat adalah kita akan dapat menjaga kontinuitas usaha karena ketika kita akan melakukan pengafkiran itik dewasa kita sudah punya ternak pengganti (DOD yang kita besarkan).
Model kedua adalah membeli bayah dan mesin tetas, apa hubungannya? Kita akan mengkhususkan tujuan usaha untuk produksi telur tetas dan DOD. Telur yang dihasilkan oleh itik dewasa kita seleksi sebagai telur tetas kemudian kita menetaskannya sendiri. Dari sebutir telur yang semula berharga Rp 900, kalau menetas akan menjadi Rp 3.000 - Rp 4.500/ekor. Keuntungan lain adalah kita akan mendapatkan DOD yang kita ketahui tetuanya dan juga kita bisa menjualnya kepada orang lain.
Jumlah yang dipelihara
Kalau anda memutuskan untuk membeli DOD maka kami menyarankan untuk membeli dengan jumlah 500 ekor. Mengapa? Karena diharapkan dari 500 ekor tersebut dapat kita pilih (seleksi) sekitar 400 ekor itik sampai siap telur dan itu berarti perhitungannya sama kalau kita langsung membeli itik siap telur 400 ekor, mengapa? Karena dengan jumlah itu kita setidaknya bisa mengantongi keuntungan sekitar 3 juta-an/bulan.
Berikut perhitungannya :
Rerata produksi telur 70 % (bahkan bisa lebih sampai 85%), berartijumlah telur yang dihasilkan dari 400 ekor itik dewasa adalah 280 butir. Kalau harga sebutir telur Rp 900/butir maka jumlah pendapatan adalah Rp 900/butir x 280 butir = Rp 252.000 sedangkan untuk kebutuhan pakan sekitar Rp 450/ekor/hari dan masih ada selisih Rp 450. Sehingga pendapatan kotor dalam satu bulan adalah Rp 450 x 280 butir x 30 hari = Rp 3.780.00 dan itu adalah sebuah pendapatan yang tentunya tidak kita duga bukan?. Apalagi kalau kita masih bisa berkreasi dengan produk kita seperti membuat telur asin, telur mengandung omega 3 atau telur dengan warna kuning telur berwarna orange dan lain sebainya tentu hasil yang kita peroleh jauh lebih besar lagi. Atau juga kalau anda mengambil model kedua dari terobosan di atas maka keuntungannya masih bisa berlipat ganda.
Jangan tertipu
Kalau anda telah membuat keputusan untuk membeli itik siap telur maka jangan tertipu dengan harga yang ditawarkan. Selisih harga adalah wajar karena harga juga ditentukan oleh kondisi barang. Itik yang benar-benar siap bertelur tentunya mempunyai harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan itik yang masih membutuhkan waktu antara 2 minggu bahkan satu bulan lagi bertelur (berproduksi). Hal ini erat hubungannya dengan biaya pakan yang akan kita keluarkan selama menunggu masa bertelur. Kalau satu hari konsumsi pakan diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 350 - 450/ekor, maka dalam jangka 10 hari sudah ada biaya tambahan sekitar Rp 3.500 - 4.500/ekor. Di samping memperhatikan umur jangan lupa untuk memperhatikan keseragaman ternak dalam satu kelompok. Jangan sampai itik siap telur yang kita beli tercampuri dengan itik afkir atau itik yang sudah tidak berproduksi lagi. Berikut kiat untuk membedakan itik muda, tua dan produktif :
* Kondisi bulu sayap itik muda saling menyilang, semakin berumur silangannya semakin pendek
* Bentuk paruh itik tua pipih seperti sendok serta mempunyai kaki yang bersisik
* Itik siap telur dicirikan dengan pantat besar
Silahkan mencopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com
Minggu, 01 November 2009
Pedoman Praktis Budidaya Itik Peking (Peking Duck)
www.sentralternak.com, Banyak pertanyaan yang masuk kepada kami seputar DOD itik peking dan cara beternak itik jenis pedaging ini. Karena kapasitas kami yang kurang memadahi dan waktu yang kami miliki juga sangat terbatas maka kami menurunkan sebuah artikel yang ditulis oleh Bapak Ir. H. Idih Purnama Alam dengan judul “BUDIDAYA ITIK PEKING (PEKING DUCK)”. Beliau adalah pegawai Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, sehingga menjadi sangat pas lah ketika pakar dan ahlinya yang berbicara. Namun tidak menutup kemungkinan kalau ada pertanyaan dari pembaca seputar produk ini kami akan berusaha menjawabnya sebatas kemampuan dan kapasitas kami, insyaallah. Semoga bermanfaat.Latar Belakang
Seperti kita ketahui bersama, bahwa perkembangan perunggasan sejak awal tahun 2004 telah banyak didera dengan berbagai cobaan yang banyak mengakibatkan terpuruknya usaha di bidang perunggasan, baik itu peternak ayam ras (petelur/pedaging), ayam buras maupun peternak itik. Dimulai dengan adanya serangan penyakit unggas yang terkenal ganas yaitu penyakit avian influenza atau yang lebih populer dengan sebutan penyakit flu burung sampai dengan kenaikan harga bahan baku pakan ternak maupun pakan ternak jadi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, kondisi seperti itu dirasa sangat menekan terhadap perkembangan perunggasan secara menyeluruh.
Pembangunan sub sektor peternakan tidak bisa terlepas dari kegiatan pembangunan pertanian, karena pembangunan sub sector peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian, hal ini sejalan dengan apa yang telah dicanangkan oleh bapak presiden republik indonesia pada tanggal 11 juni 2005 tentang revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK) di mana peternakan termasuk didalamnya.
Apabila kita amati bersama dari kondisi yang telah terjadi dalam pengembangan pembangunan peternakan fokus yang paling menonjol dan perlu mendapat perhatian serius adalah komodity perunggasan, hal ini disebabkan dengan banyaknya kasus penyakit ai maupun kenaikan harga pakan serta penurunan minat masyarakat terhadap budi daya unggas terutama unggas berupa ayam buras, malahan tidak sedikit kasus penyakit ai ini yang menyerang terhadap manusia, sehingga pembangunan perunggasan perlu disikapi dengan arif dan selectif serta harus bisa menciptakan terobosan alternatif untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan daging yang berasal dari unggas.
Dari pengalaman di lapangan ternyata ada komodity lain selain ayam ras pedaging yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan daging dengan waktu cepat serta kualitas yang tidak kalah dengan ayam ras pedaging yaitu unggas air berupa itik peking (peking duck). Di mana peking duck mempunyai kemampuan untuk menghasilkan produksi daging kurang dari 2 bulan bisa menghasilkan berat badan sekitar 3 - 3,3 kg, sehingga sudah siap untuk dipotong.hal ini telah dibuktikan oleh peternak di kapetakan kecamatan kroya kabupaten Cirebon di mana itik peking umur 53 hari bisa mencapai berat badan sekitar 3,25 kg. Seperti yang telah dimuat dalam harian kompas terbitan Juni 2007.
Dengan melihat kondisi seperti tersebut di atas kami mencoba membuat tulisan mengenai budi daya itik peking dalam rangka akselerasi pembangunan peternakan unggas air untuk pemenuhan kebutuhan akan daging dalam waktu yang relatif cepat, mudah dan bisa dikembangkan oleh masyarakat di pedesaan.
Maksud dan Tujuan
Maksud dari pola pengembangan pemeliharaan itik peking ini antara lain:
1. Untuk mencari alternatif terobosan dalam rangka mempercepat produksi daging yang berasal dari unggas air (itik).
2. Merubah pola usaha unggas air (itik) dari yang nomaden ke arah yang intensif.
3. Menjadikan usaha unggas air (itik) menjadi usaha pokok masyarakat.
4. Menciptakan peternak yang mandiri dan berkualitas (peternak tangguh).
5. Menyediakan permintaan pasar terutama permintaan daging itik yang bekualitas.
Sedangkan tujuan dari budi daya itik peking (peking duck) ini antara lain:
1. Meningkatkan produksi daging itik yang berkualitas.
2. Meningkatkan pendapatan dari para peternak itik.
3. Menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan.
4. Mengurangi tingkat pengangguran.
5. Memperkenalkan usaha peternakan itik jenis pedaging yang bisa menghasilkan daging kualitas prima dalam waktu relatif singkat
6. Disamping penyediaan daging, juga bisa menghasilkan bulu itik (feathers duck) sebagai bahan kerajinan seperti shutle cok, jok kursi, kamoceng dll.
Permasalahan
Dalam setiap kegiatan, tentunya selalu timbul permasalahan baik permasalahan yang besar maupun pemasalahan kecil, dan setiap permasalahan perlu dicarikan alternatif pemecahannya. Masalah itik peking ini ada sedikit permasalahan yang kiranya perlu diambil langkah-langkah untuk mencapai keberhasilan dan yang timbul pada saat ini diantaranya :
1. Permintaan daging itik peking di pasaran cukup tinggi, tetapi sumber pasokan daging pada saat ini masih mengandalkan kepada daging import.
2. Budi daya itik peking pada saat ini masih dikuasai oleh pengusaha besar, sedangkan peternak di pedesaan masih relatif sedikit.
3. Penyediaan bakalan (DOD) peking masih bersifat tertutup, belum secara mudah didapatkan oleh masyarakat luas.
Pola Pengembangan Budidaya Itik Peking (Peking Duck)
System pemeliharaan
Untuk menentukan suatu bentuk usaha terutama dalam usaha ternak itik, maka yang pertama kali diperhatikan yaitu tujuan usaha, apakah tujuannya untuk menghasilkan daging konsumsi atau mau menghasilkan bibit supaya untuk langkah selanjutnya bisa ditentukan system pemeliharaan yang akan diambil.
Dalam usaha perunggasan terutama unggas air (itik) dikenal dengan system pemeliharaan yaitu:
1. System pemeliharaan extensif
2. System pemeliharaan semi intensif
3. System pemeliharaan intensif
System pemeliharaan extensif, di mana pada system ini ternak-ternak dipelihara dengan cara di abur/digembalakan tanpa memperhatikan kandang maupun makanan, karena ternak-ternak tersebut dilepas di tempat-tempat yang mempunyai sumber pakan alami misalnya di daerah-daerah persawahan yang baru panen. Pemeliharaan ini dilaksanakan oleh para peternak yang bersifat tradisional dan nomaden, kondisi ini banyak ditemukan di daerah Jawa Barat bagian utara, karena daerah pantura ini merupakan daerah persawahan yang cukup luas sehingga menjadi potensi bagi pengembangan itik dengan system extensif.
Pemeliharaan dengan system semi intesif, di mana ternak-ternak yang di pelihara sudah memperhatikan kandang ternak dan diberi makan tetapi sewaktu-waktu dilepas untuk mencari makan sewaktu ada peluang pada saat panen padi ataupun pada tempat-tempat yang mempunyai potensi sumber pakan yang alami
Sedangkan pemeliharaan yang intensif, ternak-ternak peliharaan selalu di tempatkan dikandang dan diberi makan secara terus menerus serta sudah memperhatikan aspek-aspek teknis pemeliharaan ternak secara ilmiah dan sudah menggunakan teknologi-teknologi yang dianjurkan.
Untuk pemeliharaan itik peking (peking duck), lebih tepat apabila dilaksanakan dengan system intensif, hal ini disebabkan itik peking (peking duck) merupakan itik ras pedaging yang mempunyai kemampuan kecepatan pertumbuhan dalam waktu yang relatif singkat, di mana dalam kurun waktu pemeliharaan kurang dari 2 (dua) bulan berat badannya sudah bisa mencapai di atas 3 kg dengan kondisi makanan yang baik dan itik sudah siap dijual sebagai itik pedaging, dengan kualitas daging yang prima.
Dalam usaha budi daya itik peking (peking duck) ini dikenal beberapa tahapan pemeliharaan, terutama untuk usaha budidaya pembibitan sedangkan untuk budi daya penggemukan (penghasil daging) hanya dikenal 1 (satu) tahapan pemeliharaan.
Tahapan Pemeliharaan Pembibitan :
A. Pemeliharaan anak (masa starter)
Pemeliharaan anak/masa starter dimulai pada saat itik peking (peking duck) berumur 1 hari sampai umur 60 hari, di mana anak-anak itik dipelihara dalam kandang khusus yaitu untuk kandang anak dengan memakai pemanas/induk buatan dalam rangka menghangatkan tubuh dari anak itik tersebut, hal ini disebabkan pada umur 1-14 hari anak itik tidak tahan dengan cuaca dingin karena belum dilengkapi dengan bulu yang sempurna untuk menahan dingin, sehingga perlu adanya bantuan induk buatan sebagai penghangat tubuh, serta anak itik diberi makan khusus yaitu pakan anak yang mempunyai kandungan protein sekitar 19 - 21% kadar protein dan lebih dikenal dengan pakan “starter”. Setelah umur 14 hari anak itik tersebut sudah mampu untuk menahan hawa dingin sehingga tidak perlu lagi dibantu dengan induk buatan (pemanas), di kandang ini bisa dipelihara sampai umur 60 hari bagi pemeliharaan pembibitan, selanjutnya setelah umur di atas 60 hari dipindahkan ke kandang masa pertumbuhan (grower). Untuk pemeliharaan anak ini bisa dalam bentuk postal ataupun menggunakan kandang box, untuk kandang box biasanya dilakukan pada umur 1 - 14 hari sedangkan dari umur 15 - 60 hari dilaksanakan pada kandang postal karena badan itik sudah mulai besar. Kapasitas kandang pada periode ini yaitu 10 - 15 ekor/m2.
B. Pemeliharaan masa pertumbuhan (periode grower)
Periode pemeliharaan itik peking pada masa pertumbuhan/masa grower, perlu diperhatikan ternak yang dipelihara, karena pada masa ini yang banyak dipelihara adalah itik peking (peking duck) betina sebagai calon bibit pengganti /replacement stock atau persediaan bibit dan juga itik peking jantan yang berfungsi sebagai pejantan pengganti. Untuk mempersiapkan peremajaan bibit, maka perlu dipersiapkan bibit pengganti yang mempunyai kelebihan atau keunggulan tertentu sebagai bibit pengganti, baik jantan maupun betina dengan sex ratio 1 : 4 ( 1 jantan 4 betina). Pada periode ini itik yang dipelihara berumur antara 61 hari sampai dengan 150 hari, sedangkan kapasitas kandang pada masa ini sekitar 6 - 8 ekor/m2.
C. Pemeliharaan peking duck layer/periode bertelur
Itik peking/peking duck yang sudah berumur 5 bulan atau lebih baik jantan maupun betina dikategorikan sebagai itik layer karena pada saat ini kondisi itik sudah bersiap-siap untuk memproduksi telur, ada yang mulai umur 5,5 bulan atau 6 bulan tetapi secara umum mulai bertelur normal pada umur 6 bulan. Itik-itik tersebut ditempatkan pada kandang khusus, yaitu kandang itik dewasa , kandang itik ini dilengkapi dengan tempat bertelur serta kandang umbaran atau lapangan tempat bermain yang dilengkapi dengan kolam/saluran air yang berfungsi untuk mandi itik dan mendinginkan tubuh pada saat siang hari dengan sex ratio sekitar 1 : 4 ( 1 jantan banding 4 betina). Ternak-ternak ini berfungsi sebagai bibit penghasil telur yang siap untuk ditetaskan sebagai sumber dod yang dipasarkan untuk bakalan pemeliharaan itik peking. Kapasitas dikandang dewasa sekitar 3 - 5 ekor/m2.
Tahap Pemeliharaan Penggemukan
Untuk pemeliharaan itik peking/peking duck dengan tujuan penggemukan hanya dilaksanakan dalam 1 (satu) masa pemeliharaan yaitu dari itik berumur 1 (satu) hari sampai itik peking tersebut siap dijual. Dengan makanan dan pemeliharaan yang baik ,berat badan itik peking yaitu mencapai sekitar 3,3 kg selama pemeliharaan kurang lebih 55- 60 hari yaitu mulai umur 1 hari sampai umur 55 hari. Pada umumnya itik-itik yang dipelihara untuk tujuan ini adalah itik peking yang jantan, tetapi yang betinanya pun mempunyai kemampuan yang sama dengan yang jantan hanya berbeda sedikit saja dalam hal berat.
Kalau kita bandingkan antara waktu pemeliharaan dengan hasil produksi daging yang dihasilkan antara itik peking/peking duck dengan ayam ras pedaging akan lebih unggul itik peking, di mana untuk itik peking dengan waktu pemeliharaan sekitar 53 - 55 hari bisa menghasilkan daging berat hidup sekitar 3,3 kg, sedangkan untuk ayam ras pedaging dengan jangka waktu pemeliharaan sekitar 32- 35 hari menghasilkan daging berat hidup sekitar 1,2 - 1,5 kg, sehingga apabila kita bandingkan dengan waktu yang sama maka akan diperoleh berat daging itik peking melebihi berat dari pada ayam ras pedaging. Silahkan buktikan!
Sistem Perkandangan
Sistem perkandangan dalam budi daya itik peking/peking duck bisa dikenal 3 tipe kandang diantaranya :
1. Tipe kandang battery
Dalam tipe kandang ini, ternak dikandangkan satu persatu dalam satu kotak dengan ukuran yang hanya cukup untuk 1 ekor itik peking/peking duck dewasa, dengan ukuran kandang panjang x lebar x tinggi (45 x 45 x 35 cm). Dengan tipe kandang ini biaya untuk kandang relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tipe kandang yang lain. Dengan tipe kandang battery ini, maka sistem perkawinannya harus menggunakan kawin buatan (insiminasi buatan) yang dilakukan oleh tenaga manusia yang ahli dalam insiminasi buatan dengan istilah inseminator. Pada tipe kandang ini kondisi ternak maupun produksi telur dari pada itik peking/peking duck bisa terkontrol secara satu persatu, apakah produktivitasnya tinggi atau rendah, begitu juga dalam pengontrolan penyakitnya akan lebih mudah terkontrol.
2. Tipe kandang postal
Dalam usaha ternak itik yang menggunakan tipe kandang postal, di mana ternak-ternak peliharaan ditempatkan dalam satu ruangan besar dengan jumlah ternak tertentu, di mana pemberian makan dan minuman ditempatkan di dalam ruangan kandang, sehingga ternak itik yang dipelihara selalu berada di dalam ruangan, biasanya tipe ini dalam pemeliharaan itik hanya digunakan untuk itik starter dan grower/masa pertumbuhan tetapi adakalanya digunakan untuk itik periode layer. Kapasitas itik untuk tipe kandang postal ini tergantung dari pada jenis itik yang dipelihara apakah jenis itik starter atau itik grower, untuk umur itik periode starter kapasitas kandang yang digunakan yaitu sekitar 10 - 15 ekor/m2, sedangkan apabila digunakan untuk preiode grower yaitu sekitar 6 - 8 ekor/m2, seandainya digunakan untuk periode layer kapasitas kandang sekitar 3 - 5 ekor/m2.
3. Tipe kandang ranch
Tipe kandang ranch ini merupakan pengembangan dari tipe kandang postal, di mana dalam kandang tipe ranch ini selain ada ruangan tempat ternak juga di bagian luar/di halaman depannya disediakan halaman tempat bermain yang biasa dikenal dengan nama kandang umbaran yang dilengkapi dengan saluran air atau kolam, yang berfungsi untuk mandi/membersihkan kotoran yang menempel di badannya serta berfungsi pula untuk mendinginkan tubuh di waktu siang hari, hal ini disebabkan itik peking merupakan jenis unggas yang tidak tahan terhadap panas, sehingga harus disediakan air untuk pendingin tubuhnya. Tipe kandang ini lebih cocok untuk pemeliharaan ternak unggas air dengan cara pemeliharaan yang intensif.
Seperti kita ketahui bersama, bahwa perkembangan perunggasan sejak awal tahun 2004 telah banyak didera dengan berbagai cobaan yang banyak mengakibatkan terpuruknya usaha di bidang perunggasan, baik itu peternak ayam ras (petelur/pedaging), ayam buras maupun peternak itik. Dimulai dengan adanya serangan penyakit unggas yang terkenal ganas yaitu penyakit avian influenza atau yang lebih populer dengan sebutan penyakit flu burung sampai dengan kenaikan harga bahan baku pakan ternak maupun pakan ternak jadi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, kondisi seperti itu dirasa sangat menekan terhadap perkembangan perunggasan secara menyeluruh.
Pembangunan sub sektor peternakan tidak bisa terlepas dari kegiatan pembangunan pertanian, karena pembangunan sub sector peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian, hal ini sejalan dengan apa yang telah dicanangkan oleh bapak presiden republik indonesia pada tanggal 11 juni 2005 tentang revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK) di mana peternakan termasuk didalamnya.
Apabila kita amati bersama dari kondisi yang telah terjadi dalam pengembangan pembangunan peternakan fokus yang paling menonjol dan perlu mendapat perhatian serius adalah komodity perunggasan, hal ini disebabkan dengan banyaknya kasus penyakit ai maupun kenaikan harga pakan serta penurunan minat masyarakat terhadap budi daya unggas terutama unggas berupa ayam buras, malahan tidak sedikit kasus penyakit ai ini yang menyerang terhadap manusia, sehingga pembangunan perunggasan perlu disikapi dengan arif dan selectif serta harus bisa menciptakan terobosan alternatif untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan daging yang berasal dari unggas.
Dari pengalaman di lapangan ternyata ada komodity lain selain ayam ras pedaging yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan daging dengan waktu cepat serta kualitas yang tidak kalah dengan ayam ras pedaging yaitu unggas air berupa itik peking (peking duck). Di mana peking duck mempunyai kemampuan untuk menghasilkan produksi daging kurang dari 2 bulan bisa menghasilkan berat badan sekitar 3 - 3,3 kg, sehingga sudah siap untuk dipotong.hal ini telah dibuktikan oleh peternak di kapetakan kecamatan kroya kabupaten Cirebon di mana itik peking umur 53 hari bisa mencapai berat badan sekitar 3,25 kg. Seperti yang telah dimuat dalam harian kompas terbitan Juni 2007.
Dengan melihat kondisi seperti tersebut di atas kami mencoba membuat tulisan mengenai budi daya itik peking dalam rangka akselerasi pembangunan peternakan unggas air untuk pemenuhan kebutuhan akan daging dalam waktu yang relatif cepat, mudah dan bisa dikembangkan oleh masyarakat di pedesaan.
Maksud dan Tujuan
Maksud dari pola pengembangan pemeliharaan itik peking ini antara lain:
1. Untuk mencari alternatif terobosan dalam rangka mempercepat produksi daging yang berasal dari unggas air (itik).
2. Merubah pola usaha unggas air (itik) dari yang nomaden ke arah yang intensif.
3. Menjadikan usaha unggas air (itik) menjadi usaha pokok masyarakat.
4. Menciptakan peternak yang mandiri dan berkualitas (peternak tangguh).
5. Menyediakan permintaan pasar terutama permintaan daging itik yang bekualitas.
Sedangkan tujuan dari budi daya itik peking (peking duck) ini antara lain:
1. Meningkatkan produksi daging itik yang berkualitas.
2. Meningkatkan pendapatan dari para peternak itik.
3. Menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan.
4. Mengurangi tingkat pengangguran.
5. Memperkenalkan usaha peternakan itik jenis pedaging yang bisa menghasilkan daging kualitas prima dalam waktu relatif singkat
6. Disamping penyediaan daging, juga bisa menghasilkan bulu itik (feathers duck) sebagai bahan kerajinan seperti shutle cok, jok kursi, kamoceng dll.
Permasalahan
Dalam setiap kegiatan, tentunya selalu timbul permasalahan baik permasalahan yang besar maupun pemasalahan kecil, dan setiap permasalahan perlu dicarikan alternatif pemecahannya. Masalah itik peking ini ada sedikit permasalahan yang kiranya perlu diambil langkah-langkah untuk mencapai keberhasilan dan yang timbul pada saat ini diantaranya :
1. Permintaan daging itik peking di pasaran cukup tinggi, tetapi sumber pasokan daging pada saat ini masih mengandalkan kepada daging import.
2. Budi daya itik peking pada saat ini masih dikuasai oleh pengusaha besar, sedangkan peternak di pedesaan masih relatif sedikit.
3. Penyediaan bakalan (DOD) peking masih bersifat tertutup, belum secara mudah didapatkan oleh masyarakat luas.
Pola Pengembangan Budidaya Itik Peking (Peking Duck)
System pemeliharaan
Untuk menentukan suatu bentuk usaha terutama dalam usaha ternak itik, maka yang pertama kali diperhatikan yaitu tujuan usaha, apakah tujuannya untuk menghasilkan daging konsumsi atau mau menghasilkan bibit supaya untuk langkah selanjutnya bisa ditentukan system pemeliharaan yang akan diambil.
Dalam usaha perunggasan terutama unggas air (itik) dikenal dengan system pemeliharaan yaitu:
1. System pemeliharaan extensif
2. System pemeliharaan semi intensif
3. System pemeliharaan intensif
System pemeliharaan extensif, di mana pada system ini ternak-ternak dipelihara dengan cara di abur/digembalakan tanpa memperhatikan kandang maupun makanan, karena ternak-ternak tersebut dilepas di tempat-tempat yang mempunyai sumber pakan alami misalnya di daerah-daerah persawahan yang baru panen. Pemeliharaan ini dilaksanakan oleh para peternak yang bersifat tradisional dan nomaden, kondisi ini banyak ditemukan di daerah Jawa Barat bagian utara, karena daerah pantura ini merupakan daerah persawahan yang cukup luas sehingga menjadi potensi bagi pengembangan itik dengan system extensif.
Pemeliharaan dengan system semi intesif, di mana ternak-ternak yang di pelihara sudah memperhatikan kandang ternak dan diberi makan tetapi sewaktu-waktu dilepas untuk mencari makan sewaktu ada peluang pada saat panen padi ataupun pada tempat-tempat yang mempunyai potensi sumber pakan yang alami
Sedangkan pemeliharaan yang intensif, ternak-ternak peliharaan selalu di tempatkan dikandang dan diberi makan secara terus menerus serta sudah memperhatikan aspek-aspek teknis pemeliharaan ternak secara ilmiah dan sudah menggunakan teknologi-teknologi yang dianjurkan.
Untuk pemeliharaan itik peking (peking duck), lebih tepat apabila dilaksanakan dengan system intensif, hal ini disebabkan itik peking (peking duck) merupakan itik ras pedaging yang mempunyai kemampuan kecepatan pertumbuhan dalam waktu yang relatif singkat, di mana dalam kurun waktu pemeliharaan kurang dari 2 (dua) bulan berat badannya sudah bisa mencapai di atas 3 kg dengan kondisi makanan yang baik dan itik sudah siap dijual sebagai itik pedaging, dengan kualitas daging yang prima.
Dalam usaha budi daya itik peking (peking duck) ini dikenal beberapa tahapan pemeliharaan, terutama untuk usaha budidaya pembibitan sedangkan untuk budi daya penggemukan (penghasil daging) hanya dikenal 1 (satu) tahapan pemeliharaan.
Tahapan Pemeliharaan Pembibitan :
A. Pemeliharaan anak (masa starter)
Pemeliharaan anak/masa starter dimulai pada saat itik peking (peking duck) berumur 1 hari sampai umur 60 hari, di mana anak-anak itik dipelihara dalam kandang khusus yaitu untuk kandang anak dengan memakai pemanas/induk buatan dalam rangka menghangatkan tubuh dari anak itik tersebut, hal ini disebabkan pada umur 1-14 hari anak itik tidak tahan dengan cuaca dingin karena belum dilengkapi dengan bulu yang sempurna untuk menahan dingin, sehingga perlu adanya bantuan induk buatan sebagai penghangat tubuh, serta anak itik diberi makan khusus yaitu pakan anak yang mempunyai kandungan protein sekitar 19 - 21% kadar protein dan lebih dikenal dengan pakan “starter”. Setelah umur 14 hari anak itik tersebut sudah mampu untuk menahan hawa dingin sehingga tidak perlu lagi dibantu dengan induk buatan (pemanas), di kandang ini bisa dipelihara sampai umur 60 hari bagi pemeliharaan pembibitan, selanjutnya setelah umur di atas 60 hari dipindahkan ke kandang masa pertumbuhan (grower). Untuk pemeliharaan anak ini bisa dalam bentuk postal ataupun menggunakan kandang box, untuk kandang box biasanya dilakukan pada umur 1 - 14 hari sedangkan dari umur 15 - 60 hari dilaksanakan pada kandang postal karena badan itik sudah mulai besar. Kapasitas kandang pada periode ini yaitu 10 - 15 ekor/m2.
B. Pemeliharaan masa pertumbuhan (periode grower)
Periode pemeliharaan itik peking pada masa pertumbuhan/masa grower, perlu diperhatikan ternak yang dipelihara, karena pada masa ini yang banyak dipelihara adalah itik peking (peking duck) betina sebagai calon bibit pengganti /replacement stock atau persediaan bibit dan juga itik peking jantan yang berfungsi sebagai pejantan pengganti. Untuk mempersiapkan peremajaan bibit, maka perlu dipersiapkan bibit pengganti yang mempunyai kelebihan atau keunggulan tertentu sebagai bibit pengganti, baik jantan maupun betina dengan sex ratio 1 : 4 ( 1 jantan 4 betina). Pada periode ini itik yang dipelihara berumur antara 61 hari sampai dengan 150 hari, sedangkan kapasitas kandang pada masa ini sekitar 6 - 8 ekor/m2.
C. Pemeliharaan peking duck layer/periode bertelur
Itik peking/peking duck yang sudah berumur 5 bulan atau lebih baik jantan maupun betina dikategorikan sebagai itik layer karena pada saat ini kondisi itik sudah bersiap-siap untuk memproduksi telur, ada yang mulai umur 5,5 bulan atau 6 bulan tetapi secara umum mulai bertelur normal pada umur 6 bulan. Itik-itik tersebut ditempatkan pada kandang khusus, yaitu kandang itik dewasa , kandang itik ini dilengkapi dengan tempat bertelur serta kandang umbaran atau lapangan tempat bermain yang dilengkapi dengan kolam/saluran air yang berfungsi untuk mandi itik dan mendinginkan tubuh pada saat siang hari dengan sex ratio sekitar 1 : 4 ( 1 jantan banding 4 betina). Ternak-ternak ini berfungsi sebagai bibit penghasil telur yang siap untuk ditetaskan sebagai sumber dod yang dipasarkan untuk bakalan pemeliharaan itik peking. Kapasitas dikandang dewasa sekitar 3 - 5 ekor/m2.
Tahap Pemeliharaan Penggemukan
Untuk pemeliharaan itik peking/peking duck dengan tujuan penggemukan hanya dilaksanakan dalam 1 (satu) masa pemeliharaan yaitu dari itik berumur 1 (satu) hari sampai itik peking tersebut siap dijual. Dengan makanan dan pemeliharaan yang baik ,berat badan itik peking yaitu mencapai sekitar 3,3 kg selama pemeliharaan kurang lebih 55- 60 hari yaitu mulai umur 1 hari sampai umur 55 hari. Pada umumnya itik-itik yang dipelihara untuk tujuan ini adalah itik peking yang jantan, tetapi yang betinanya pun mempunyai kemampuan yang sama dengan yang jantan hanya berbeda sedikit saja dalam hal berat.
Kalau kita bandingkan antara waktu pemeliharaan dengan hasil produksi daging yang dihasilkan antara itik peking/peking duck dengan ayam ras pedaging akan lebih unggul itik peking, di mana untuk itik peking dengan waktu pemeliharaan sekitar 53 - 55 hari bisa menghasilkan daging berat hidup sekitar 3,3 kg, sedangkan untuk ayam ras pedaging dengan jangka waktu pemeliharaan sekitar 32- 35 hari menghasilkan daging berat hidup sekitar 1,2 - 1,5 kg, sehingga apabila kita bandingkan dengan waktu yang sama maka akan diperoleh berat daging itik peking melebihi berat dari pada ayam ras pedaging. Silahkan buktikan!
Sistem Perkandangan
Sistem perkandangan dalam budi daya itik peking/peking duck bisa dikenal 3 tipe kandang diantaranya :
1. Tipe kandang battery
Dalam tipe kandang ini, ternak dikandangkan satu persatu dalam satu kotak dengan ukuran yang hanya cukup untuk 1 ekor itik peking/peking duck dewasa, dengan ukuran kandang panjang x lebar x tinggi (45 x 45 x 35 cm). Dengan tipe kandang ini biaya untuk kandang relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tipe kandang yang lain. Dengan tipe kandang battery ini, maka sistem perkawinannya harus menggunakan kawin buatan (insiminasi buatan) yang dilakukan oleh tenaga manusia yang ahli dalam insiminasi buatan dengan istilah inseminator. Pada tipe kandang ini kondisi ternak maupun produksi telur dari pada itik peking/peking duck bisa terkontrol secara satu persatu, apakah produktivitasnya tinggi atau rendah, begitu juga dalam pengontrolan penyakitnya akan lebih mudah terkontrol.
2. Tipe kandang postal
Dalam usaha ternak itik yang menggunakan tipe kandang postal, di mana ternak-ternak peliharaan ditempatkan dalam satu ruangan besar dengan jumlah ternak tertentu, di mana pemberian makan dan minuman ditempatkan di dalam ruangan kandang, sehingga ternak itik yang dipelihara selalu berada di dalam ruangan, biasanya tipe ini dalam pemeliharaan itik hanya digunakan untuk itik starter dan grower/masa pertumbuhan tetapi adakalanya digunakan untuk itik periode layer. Kapasitas itik untuk tipe kandang postal ini tergantung dari pada jenis itik yang dipelihara apakah jenis itik starter atau itik grower, untuk umur itik periode starter kapasitas kandang yang digunakan yaitu sekitar 10 - 15 ekor/m2, sedangkan apabila digunakan untuk preiode grower yaitu sekitar 6 - 8 ekor/m2, seandainya digunakan untuk periode layer kapasitas kandang sekitar 3 - 5 ekor/m2.
3. Tipe kandang ranch
Tipe kandang ranch ini merupakan pengembangan dari tipe kandang postal, di mana dalam kandang tipe ranch ini selain ada ruangan tempat ternak juga di bagian luar/di halaman depannya disediakan halaman tempat bermain yang biasa dikenal dengan nama kandang umbaran yang dilengkapi dengan saluran air atau kolam, yang berfungsi untuk mandi/membersihkan kotoran yang menempel di badannya serta berfungsi pula untuk mendinginkan tubuh di waktu siang hari, hal ini disebabkan itik peking merupakan jenis unggas yang tidak tahan terhadap panas, sehingga harus disediakan air untuk pendingin tubuhnya. Tipe kandang ini lebih cocok untuk pemeliharaan ternak unggas air dengan cara pemeliharaan yang intensif.
Nikmatnya Aneka Bebek dan Gulai Kepala Kakap
ANDA penggemar masakan bebek? Datanglah ke Restoran "Bebek Boenda" di Jalan Raya Ciater Barat, Rawabuntu, BSD, Serpong, Tangerang.
Di sini, Anda dapat menikmati santapan aneka bebek, mulai dari bebek goreng. bebek bakar, bebek cabe merah, bebek cabe hijau, dan bebek lada hitam. Hidangan aneka bebek ini akan terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sambal setan (disebut sambal setan karena rasanya yang sangat pedas) dan sambal mangga.
"Menu aneka bebek ini merupakan hasil kombinasi buatan sendiri, yang disesuaikan dengan lidah kita," kata Ny Evy Panca Laksana, pemilik Restoran "Bebek Boenda" kepada Kompas, hari Minggu (26/10) siang.
Kelebihan hidangan bebek di "Bebek Boenda", rasanya empuk dan tidak amis. Dibandingkan ayam, bebek memang lebih gurih. Bebek ini hasil modifikasi. Bebek cabe hijau misalnya, digoreng lebih dahulu, baru kemudian dicampur dengan cabe hijau goreng.
Demikian pula bebek cabe merah dan bebek lada hitam. Di sinilah keunikan masakan bebek di "Bebek Boenda" di BSD. Harga satu porsi bebek Rp 15.000, sudah termasuk lalapan dan sambal. Jika Anda ingin menikmati dengan nasi uduk, Anda tinggal menambah Rp 4.000. Tapi jika ingin makan dengan nasi putih, Anda cukup membayar Rp 3.000 per porsi.
Rata-rata 30-40 ekor bebek dihabiskan dalam satu hari atau 120 sampai 160 porsi dalam satu hari. Sejumlah selebriti pernah mendatangi "Bebek Boenda" antara lain Audy, personel grup Band Elemen dan J-Rock, bintang sinteron Verlita Evelin.
Mantan pejabat Orde Baru Harmoko juga pernah mencicipi nikmatnya bebek hasil racikan "Bebek Boenda". Gulai Kepala Kakap Selain bebek, masakan khas unggulan "Bebek Boenda" adalah gulai kepala kakap, yang disajikan dengan bumbu khas masakan padang. "Gulai kepala kakap sebetulnya menu utama restoran ini ketika dibuka sejak dua tahun lalu," kata Cipta Panca Laksana, yang juga Manajer Produksi Stasiun Global TV.
Harga satu porsi gulai kepala kakap ini Rp 35.000, dan cukup dimakan untuk dua orang. Kuah santan gulai ini dicampur dengan bawang merah mentah dan cabe rawit, serta daun ruku-ruku, khas masakan padang.
Selebriti yang pernah menikmati gulai kepala kakap antara lain Nani Wijaya dan Sahrul Gunawan. Di luar menu bebek dan kakap, resto ini menyediakan pula sop iga, serta ayam goreng dan ayam bakar. "Awalnya, saya dan istri sibuk menjaga tamu restoran," kata Panca.
Dua tahun lalu, karyawannya empat orang dan sekarang sudah 15 orang. Restoran "Bebek Boenda" berkapasitas 40 tempat duduk. Lokasinya di tepi Jalan Raya Ciater. Rawabuntu, dekat Taman Tekno BSD, atau di depan SPBU.
Jika Anda datang dari Jakarta, masuk lewat jalan tol TB Simatupang-Pondok Indah-Bintaro-BSD, sampai mentok. Lalu ambil jalan kiri ke arah Serpong-Parung. Dari pertigaan Kencana Loka, terus ke arah Taman Tekno. Dua ratus meter sebelum Pecel Madiun, di sanalah lokasi "Bebek Boenda". Nah, Anda penggemar bebek atau gulai kepala kakap? [dari www.kompas.com]
Di sini, Anda dapat menikmati santapan aneka bebek, mulai dari bebek goreng. bebek bakar, bebek cabe merah, bebek cabe hijau, dan bebek lada hitam. Hidangan aneka bebek ini akan terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sambal setan (disebut sambal setan karena rasanya yang sangat pedas) dan sambal mangga.
"Menu aneka bebek ini merupakan hasil kombinasi buatan sendiri, yang disesuaikan dengan lidah kita," kata Ny Evy Panca Laksana, pemilik Restoran "Bebek Boenda" kepada Kompas, hari Minggu (26/10) siang.
Kelebihan hidangan bebek di "Bebek Boenda", rasanya empuk dan tidak amis. Dibandingkan ayam, bebek memang lebih gurih. Bebek ini hasil modifikasi. Bebek cabe hijau misalnya, digoreng lebih dahulu, baru kemudian dicampur dengan cabe hijau goreng.
Demikian pula bebek cabe merah dan bebek lada hitam. Di sinilah keunikan masakan bebek di "Bebek Boenda" di BSD. Harga satu porsi bebek Rp 15.000, sudah termasuk lalapan dan sambal. Jika Anda ingin menikmati dengan nasi uduk, Anda tinggal menambah Rp 4.000. Tapi jika ingin makan dengan nasi putih, Anda cukup membayar Rp 3.000 per porsi.
Rata-rata 30-40 ekor bebek dihabiskan dalam satu hari atau 120 sampai 160 porsi dalam satu hari. Sejumlah selebriti pernah mendatangi "Bebek Boenda" antara lain Audy, personel grup Band Elemen dan J-Rock, bintang sinteron Verlita Evelin.
Mantan pejabat Orde Baru Harmoko juga pernah mencicipi nikmatnya bebek hasil racikan "Bebek Boenda". Gulai Kepala Kakap Selain bebek, masakan khas unggulan "Bebek Boenda" adalah gulai kepala kakap, yang disajikan dengan bumbu khas masakan padang. "Gulai kepala kakap sebetulnya menu utama restoran ini ketika dibuka sejak dua tahun lalu," kata Cipta Panca Laksana, yang juga Manajer Produksi Stasiun Global TV.
Harga satu porsi gulai kepala kakap ini Rp 35.000, dan cukup dimakan untuk dua orang. Kuah santan gulai ini dicampur dengan bawang merah mentah dan cabe rawit, serta daun ruku-ruku, khas masakan padang.
Selebriti yang pernah menikmati gulai kepala kakap antara lain Nani Wijaya dan Sahrul Gunawan. Di luar menu bebek dan kakap, resto ini menyediakan pula sop iga, serta ayam goreng dan ayam bakar. "Awalnya, saya dan istri sibuk menjaga tamu restoran," kata Panca.
Dua tahun lalu, karyawannya empat orang dan sekarang sudah 15 orang. Restoran "Bebek Boenda" berkapasitas 40 tempat duduk. Lokasinya di tepi Jalan Raya Ciater. Rawabuntu, dekat Taman Tekno BSD, atau di depan SPBU.
Jika Anda datang dari Jakarta, masuk lewat jalan tol TB Simatupang-Pondok Indah-Bintaro-BSD, sampai mentok. Lalu ambil jalan kiri ke arah Serpong-Parung. Dari pertigaan Kencana Loka, terus ke arah Taman Tekno. Dua ratus meter sebelum Pecel Madiun, di sanalah lokasi "Bebek Boenda". Nah, Anda penggemar bebek atau gulai kepala kakap? [dari www.kompas.com]
Serba Bebek yang Unik
text TEXT SIZE :
Share
Koran SI - Koran SI
Foto: Ist
DENGAN pengetahuan tentang karakter daging, bebek bisa dihadirkan sebagai menu unggulan favorit keluarga. Mulai dari bebek panggang, rendang, hingga bebek peking.
Dulu tidak banyak orang yang berminat mengolah daging bebek, karena aromanya yang cenderung lebih amis dan lebih keras dibandingkan dengan daging ayam atau unggas lainnya. Namun, seiring semakin modernnya cara mengolah makanan, daging bebek kini bahkan menjadi salah satu menu bergengsi dan banyak diminati masyarakat. Berbagai olahan daging bebek bisa dibuat di rumah oleh ibu-ibu rumah tangga.
Walaupun mengolahnya terbilang lebih sulit daripada mengolah daging ayam, namun dengan pengetahuan dan sedikit tip, daging bebek bisa menjadi menu favorit yang menjadi idola keluarga. Untuk mendapatkan menu olahan bebek yang berkualitas dan memiliki aroma yang wangi,daging bebek bisa direndam dulu dengan air jeruk nipis sebelum diolah.
Lakukan perendaman ini selama kurang lebih dua jam. Atau jika tidak terburu-buru memasaknya lebih baik jika didiamkan seharian. Selain merendam daging bebek dalam air jeruk nipis,cara lain yang mempengaruhi rasa adalah usia bebek yang dagingnya diambil. Semakin tua seekor bebek, maka dagingnya akan semakin alot dan lebih amis.
"Kalau hendak memasak daging bebek, selain bumbu, memilih usia bebek ikut mempengaruhi empuk atau tidaknya daging," kata Executive Chef Indonesian Resto di kompleks Kelapa Gading Jakarta, Abdul Hadi, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut ditambahkan Abdul Hadi, daging bebek memiliki serat yang lebih kasar dan daging yang lebih basah dibandingkan daging ayam.
"Untuk mengolah sebuah daging bebek diperlukan pengetahuan tentang tekstur dagingnya. Kalau tidak akan sulit mendapatkan rasa yang benar-benar enak," kata dia lagi.
Berbagai menu berbahan dasar daging bebek bisa dibuat, misalnya bebek goreng madura yang terkenal, bebek panggang yang cocok dikonsumsi bersama lalapan, rendang bebek yang makin mantap dikonsumsi dengan nasi hangat yang masih mengepulkan asap,atau bebek peking panggang yang disajikan dengan mengirisnya tipis. Selain itu, pengunjung yang datang ke resto ini juga akan dimanjakan dengan aneka olahan bebek lainnya.
Misalnya bebek rica-rica bagi penyuka rasa yang lebih pedas atau ada pula bebek goreng penyet yang awalnya berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Kalau bebek rica-rica pedas karena memang banyak menggunakan cabai,bebek goreng penyet memiliki keunikan karena biasanya langsung disajikan bersama ulekannya.
"Dari mana pun bebek kita berasal, kita mengutamakan keotentikan rasa. Jadi makan di sini atau di daerah aslinya rasa bebek akan sama," kata pria paruh baya tersebut.
Tidak sampai di situ saja, menurut Hadi, resto yang telah dikelolanya empat tahun lalu tersebut juga menyajikan rendang dengan rasa yang sama dengan rendangrendang yang dijual di restoran Padang.
"Rendang bebek memang proses pembuatannya yang agak lama. Semakin kering rendang semakin enak, namun kita memilih rendang basah karena lebih segar," tuturnya.
Untuk mendapatkan rendang daging bebek yang berkualitas, Hadi mengaku tidak terlalu selektif dalam memilih bahan mentahnya. Itu karena proses pembuatan rendang yang lama.
"Kalau bebeknya kemudaan, dagingnya akan cepat hancur.Tipsnya jangan mengaduk sering-sering rendang yang sedang dimasak. Cukup sekali-kali aja agar tidak lengket," kata Hadi menambahkan. (nsa)
Share
Koran SI - Koran SI
Foto: Ist
DENGAN pengetahuan tentang karakter daging, bebek bisa dihadirkan sebagai menu unggulan favorit keluarga. Mulai dari bebek panggang, rendang, hingga bebek peking.
Dulu tidak banyak orang yang berminat mengolah daging bebek, karena aromanya yang cenderung lebih amis dan lebih keras dibandingkan dengan daging ayam atau unggas lainnya. Namun, seiring semakin modernnya cara mengolah makanan, daging bebek kini bahkan menjadi salah satu menu bergengsi dan banyak diminati masyarakat. Berbagai olahan daging bebek bisa dibuat di rumah oleh ibu-ibu rumah tangga.
Walaupun mengolahnya terbilang lebih sulit daripada mengolah daging ayam, namun dengan pengetahuan dan sedikit tip, daging bebek bisa menjadi menu favorit yang menjadi idola keluarga. Untuk mendapatkan menu olahan bebek yang berkualitas dan memiliki aroma yang wangi,daging bebek bisa direndam dulu dengan air jeruk nipis sebelum diolah.
Lakukan perendaman ini selama kurang lebih dua jam. Atau jika tidak terburu-buru memasaknya lebih baik jika didiamkan seharian. Selain merendam daging bebek dalam air jeruk nipis,cara lain yang mempengaruhi rasa adalah usia bebek yang dagingnya diambil. Semakin tua seekor bebek, maka dagingnya akan semakin alot dan lebih amis.
"Kalau hendak memasak daging bebek, selain bumbu, memilih usia bebek ikut mempengaruhi empuk atau tidaknya daging," kata Executive Chef Indonesian Resto di kompleks Kelapa Gading Jakarta, Abdul Hadi, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut ditambahkan Abdul Hadi, daging bebek memiliki serat yang lebih kasar dan daging yang lebih basah dibandingkan daging ayam.
"Untuk mengolah sebuah daging bebek diperlukan pengetahuan tentang tekstur dagingnya. Kalau tidak akan sulit mendapatkan rasa yang benar-benar enak," kata dia lagi.
Berbagai menu berbahan dasar daging bebek bisa dibuat, misalnya bebek goreng madura yang terkenal, bebek panggang yang cocok dikonsumsi bersama lalapan, rendang bebek yang makin mantap dikonsumsi dengan nasi hangat yang masih mengepulkan asap,atau bebek peking panggang yang disajikan dengan mengirisnya tipis. Selain itu, pengunjung yang datang ke resto ini juga akan dimanjakan dengan aneka olahan bebek lainnya.
Misalnya bebek rica-rica bagi penyuka rasa yang lebih pedas atau ada pula bebek goreng penyet yang awalnya berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Kalau bebek rica-rica pedas karena memang banyak menggunakan cabai,bebek goreng penyet memiliki keunikan karena biasanya langsung disajikan bersama ulekannya.
"Dari mana pun bebek kita berasal, kita mengutamakan keotentikan rasa. Jadi makan di sini atau di daerah aslinya rasa bebek akan sama," kata pria paruh baya tersebut.
Tidak sampai di situ saja, menurut Hadi, resto yang telah dikelolanya empat tahun lalu tersebut juga menyajikan rendang dengan rasa yang sama dengan rendangrendang yang dijual di restoran Padang.
"Rendang bebek memang proses pembuatannya yang agak lama. Semakin kering rendang semakin enak, namun kita memilih rendang basah karena lebih segar," tuturnya.
Untuk mendapatkan rendang daging bebek yang berkualitas, Hadi mengaku tidak terlalu selektif dalam memilih bahan mentahnya. Itu karena proses pembuatan rendang yang lama.
"Kalau bebeknya kemudaan, dagingnya akan cepat hancur.Tipsnya jangan mengaduk sering-sering rendang yang sedang dimasak. Cukup sekali-kali aja agar tidak lengket," kata Hadi menambahkan. (nsa)
Langganan:
Postingan (Atom)