Selasa, 24 November 2009

Bebek Peking dengan Bumbu Nusantara di Ibis Tamarin


Kamis, 8 Oktober 2009 | 16:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini Bebek Peking dikenal dengan kelezatan dan keempukan dagingnya selalu diidentikkan dengan masakan dari China, yang pengolahannya hanya dipanggang. Namun kali ini Hotel Ibis Tamarin Jakarta menyajikan hidangan Bebek Peking dalam bentuk lain yang kental dengan sentuhan khas masakan Nusantara Indonesia.

Hidangan bebek dalam khasanah masakan Nusantara Indonesia juga merupakan hidangan yang banyak dijumpai dalam hidangan masyarakat Indonesia, seperti Gulai Bebek Cabe Hijau yang berasal dari Sumatera Barat atau Padang, Semur Bebek dan Bebek Penyet yang dikenal berasal dari Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Nah, kali ini, Executive Chef Hotel Ibis Tamarin, Leonardus, menciptakan suatu kreasi baru di mana bebek yang disajikan dalam menu-menu Nusantara tersebut bukan dari bebek seperti biasanya. Leo menciptakan menu dari Bebek Peking, sehingga hidangan nusantara ini menjadi lebih istimewa.

Menu-menu kreasi baru tersebut terdiri dari Gulai Bebek Peking Cabe Hijau, Semur Bebek Peking Lada Hitam, dan Bebek Peking Penyet dapat dijumpai dan dinikmati di Restoran La Table, Hotel Ibis Tamarin Jakarta, yang berlokasi di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, selama bulan September dan Oktober 2009 dengan harga Rp. 90.000 ++ / porsi.

"Harga ini sudah termasuk satu paket nasi dan pilihan menu Bebek Peking serta segelas Lemon Tea dingin atau hangat," kata Ibis Network PR Manager Yulia Maria hari Kamis (8/10). Nah, Anda berminat?

Gurihnya Daging Bebek Hasil Selingkuh Dengan Mentok

Khoirunnisa - detikFood, Senin, 22/12/2008 12:04 WIB

Jakarta - Nama : Khoirunnisa
Email : sun4ines[at]yahoo.com
Alamat : Bogor

Semua menu andalan yang ada di rumah makan ini adalah bebek dan entok. Jadi tak salah jika dinamakan rumah makan Bebek Tik Tok. Mau daging bebek yang dibumbui seperti rendang, atau sup bebek yang rasanya lezat dengan semburat rasa pedas dari potongan cabai hijau? Semuanya ada disini!

Hal ini bermula dari ibu saya yang hobi sekali menonton acara di televisi yang memuat wisata kuliner. Biasanya ibu akan mencatat jenis masakan baru, untuk di masak di rumah. Supaya orang rumah nggak bosen dengan masakan yang itu-itu saja. Namun suatu hari, ibu saya mengajak saya pergi ke Depok untuk berwisata kuliner yang ia ketahui dari televisi.

Wah, tumben sekali pikir saya. Setelah mencari-cari dan tersasar, akhirnya tempat yang kami cari ketemu juga, Rumah Makan Tik tok. Ibu saya bilang "Kok rumah makannya beda dengan yang di TV ya?". Pantas saja, rumah makan yang kami kunjungi adalah cabangnya, tak heran kalau berbeda.


Karena sudah kelelahan dan sangat lapar sekali, karena mencari-cari rumah makan ini dari siang hari sampai menjelang maghrib, akhirnya langsung saja saya pesan dua porsi makanan dengan jenis masakan yang berbeda. Supaya ibu saya bisa mencicipinya dan barangkali bisa membuatnya di rumah.

Menu andalan di sana adalah daging bebek yang di masak seperti bumbu rendang yang rasanya lumayan pedas. Rasanya sangat enak sekali dan dagingnya juga sangat empuk. Karena saya suka dengan masakan yang berkuah, akhirnya pelayannya menawarkan kepada saya sup bebek. Hm....mendengar kata sup, saya langsung mengiyakan tawaran pelayan tadi.

Sup bebek disajikan dalam mangkuk yang lumayan besar. Didalamnya terapat potongan cabe hijau dan potongan daging bebek yang lumayan banyak. Daging yang dijadikan sup disini adalah bagian leher bebek. Jadi sedikit sekali daging bebek yang bisa saya nikmati karena segian besarnya adalah tulang-tulang.

Tapi jangan salah, mungkin daging yang bisa anda rasakan memang tak seberapa jumlahnya. Akan tetapi rasa supnya sangat lezat sekali dan ini yang membuat saya ketagihan. Aroma jeruk dalam sup, benar-benar sangat terasa sehingga dapat mengesampingkan aroma amis dari daging bebek. Kuahnya begitu kental dan banyak.Tidak ketinggalan pula rasa pedasnya yang pas. Serta beberapa potongan sayuran seperti buncis, wortel dan seledri, menambah nilai gizi. Benar-benar sangat lezat sekali.

Sampai dirumah pun, saya masih terbayang-bayang dengan kelezatan sup bebek dari Rumah Makan Tik-Tok tersebut. Sampai-sampai saya merayu ibu saya untuk membuatkan sup bebek seperti itu setibanya di rumah.

Bahkan saya telah berniat, bila ada waktu senggang saya akan mengajak teman-teman saya untuk makan di rumah makan tersebut. Harga untuk setiap masakan di sana boleh saya bilang murah untuk rasa yang sangat istimewa. Saya juga yakin Anda pun akan berpendapat sama dengan saya.

Bebek Tik Tok Van Depok
KH.M.Usman No.81A Kukusan, Depok

(eka/Odi)

Senin, 23 November 2009

Menikmati Kepiting Alaska di Seberang Bundaran HI

Jum'at, 26 September 2008 | 08:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ada segelas cocktail buah saat beduk ditalu. Juga secangkir teh hangat. Makanan pembuka atau tajil di The Duck King Res taurant ini cukup memuaskan rasa dahaga.

Tak lama muncul sederetan menu menggoda di meja bundar itu. Bebek Peking Ala The Duck King, sepertinya satu yang tak boleh dilewatkan. Kulitnya renyah, krispi. Dagingnya pun cukup tebal dengan bumbu yang meresap di antara sela-sela serat dagingnya. Hemmm...


Sambil menikmati makanan, mata pun disuguhi interior menawan khas imperial. Apalagi di setiap dinding dan sekat dihiasi gelas-gelas kaca, sehingga ruangan berkapasitas 360 tempat duduk itu terkesan lebih luas dan glamour.

Menu lain yang juga menjadi andalan restoran yang berlokasi di Gran Indonesia lantai 3A ini adalah seafood. Sebut saja Kepiting Alaska yang berukuran besar itu. Anda bisa meminta chef restoran untuk memasak kepiting import itu sesuai selera Anda. Bisa digoreng, dibumbu saus padang, atau lainnya.

Apapun bumbunya, coba gigit daging kepitingnya itu. Meski tak jauh berbeda dengan kepiting pada umumnya, tapi seratnya lebih terasa di lidah. Dagingnya lebih tebal.

Rasa ‘asyik’ di lidah pun terulang saat menikmati tim ikan malas ala Thai. Pemilihan ikannya yang segar membuat daging ikan itu terasa fresh di lidah, juga bumbunya yang spicy meresap penuh sampai tulangnya. Tentu masih ada menu lain yang bisa dipilih, seperti kerang bambu, tim tahu scallop jamur, atau lumpia goreng ikan dengan keju.

Untuk minuman ada berbagai pilihan. Aneka jus segar, atau ini dia yang khas di sini, Superior Chinesse Tea. Anda bisa memilih Superior Flower Tea atau Superior Jin Long Tea yang pastinya akan menambah nikmat santapan.

Sambil menyeruput sedikit demi sedikit teh yang menyegarkan itu, lihatlah sekeliling ruangnya yang ditata apik. Interior ruangan ternyata didominasi warna hitam, putih, cokelat sebagai warna utama. Yang menarik adalah koridor masuknya, kaca perunggu yang melekat pada dinding, pilar-pilar serta atapnya memberikan efek refleksi cahaya secara horizontal maupun vertikal. Suasana pun terasa nyaman dan mewah. Di salah satu sisinya, melalui jendela kaca selebar 40 meter, sembari makan malam, Anda pun bisa menikmati bundaran Hotel Indonesia yang sarat dengan catatan sejarah itu lengkap dengan patung Selamat Datang- nya.

Cukup? Jangan dulu, pesanlah makanan penutupnya yang tak kalah istimewa dengan makanan utamanya. Puding dengan cita rasa pilihan antara jeruk bali, avocado sago, cofee, serta durian sago. Hmm.. Lengkap sudah buka puasa kali ini. A dining experience offering more than just great food – certainly.

Susandijani

Tetek Bengek Bebek

http://www.tempointeraktif.com

Bebek lebih rumit pemeliharaannya daripada ayam. Harus digembala, makanannya harus dijaga dan baru bertelur sesudah 6 bulan. Bila telur yang menetas jantan dilempar ke pasaran.

SIAPA orang yang paling dulu makan daging ayam dan telurnya? Menurut Ensyclopaedia Britannica, bangsa Cinalah yang pertama kali menangkap ayam lantas dimasak dan dimakan. Itu sudah dimulai sejak 1.400 tahun sebelum Masehi, katanya. Tidak ada catatan kapan telur bebek dan dagingnya juga dimakan manusia. Tapi hidangan bebek Peking sekarang ini terkenal di seantero dunia meskipun hanya dijual di restoran-restoran besar saja. Biar begitu, telur bebek tidak sepopuler telur ayam: tidak semua isi dunia terbiasa makan telur bebek. Cuma bangsa-bangsa Timur --termasuk Eropa Timur -- yang mau menyantap telur yang lebih besar ini.

Itu menguntungkan juga bagi para bebek: mereka tidak begitu "diperkosa" seperti ayam -- yang sekarang ini diteliti dengan matang sekali bagaimana bisa memprodusir telur sebanyak mungkin Biarpun nyonya-nyonya bebek bisa bertelur antara 300-360 butir setahunnya -- artinya bisa setahun penuh tanpa cuti -- tampaknya orang tidak terlalu hirau. Sebab telur mereka ini memang lebih amis dibanding telur ayam. Memang, amis tidak amis terutama terasa bagi orang yang sedikit kaya. Sebab bagi penduduk yang taraf hidupnya seperti ukuran Asia, itu tak jadi soal. Yang penting telur bebek lebih murah: di penggorengan dia mekar menjadi lebih banyak.

Selada Belanda. Daerah Kerawang lumbung padi Jawa Barat, adalah juga gudang bebek. "Bebek tidak bisa dibiarkan begitu saja seperti ayam", kata Pak Tatang dari desa Pacing, Kerawang, "karena bebek harus digembala". Kalau lupa saja membimbingnya, bebek-bebek yang selalu rapi berjalan beriringan akan ngeloyor ke mana-mana. Akibatnya anda bisa berkonfrontasi dengan tetangga yang diselonongi bebek-bebek tersebut.

Lebih penting lagi: dengan digembalakan, produksi telur bebek bisa naik. Seekor bebek baru bisa menghasilkan telur kalau umurnya sudah 6 bulanan. Asal makanannya dijaga, di pagi hari pemilik akan diberi hadiah telur yang warnanya putih atau kehijau-hijauan. "Dan makanan dalam hal ini penting", ujar Pak Tatang lagi. Sebab kalau makanan tidak beres, telur tidak tersedia. Memang pada dasarnya bebek bisa makan segala macam. Mulai dari cacing, pucuk pohon padi muda sampai ke anak ikan. Tapi biasanya pemilik menyediakan ramuan gabah, katul dan sayuran seperti kangkung -- yah mirip-mirip hidangan selada orang Belanda.

Menebak bebek. Itu untuk sarapan pagi. Siang hari, sebaiknya bebek-bebek digembala di antara pematang sawah tepi-tepi sungai. Menjelang matahari hilang, bebek-bebek digiring pulang biasanya mereka dibiarkan dulu untuk membersihkan diri: berendam-rendam di sungai, kemudian naik ke atas sambil menyisik-nyisik bulu dan ketiak. Setelah rapi, baru digiring pulang. Karena itu, "bebek ini ikut saja dengan kehidupan kami", kata Tatang. Maksudnya kalau sedang ada panen, telurpun turut panen. Celakanya, di kala petani dilanda paceklik, hasil telurpun ikut paceklik. "Pokoknya ngurus bebek cukup ruwetlah", kata Tatang.

Tapi, omong-omong, Tatang punya keahlian khusus juga -- yang biasanya dimiliki beberapa orang bebekwan lain. Mereka ini bisa menebak telur bebek: mana yang akan jadi jantan dan mana yang betina. Biasanya yang dilempar ke pasaran telur-telur yang nantinya menetas jadi bebek jantan. Ini tentu menakjubkan, karena semua telur bulat bentuknya. Bagaimana bisa tahu? "Wah ini sulit dikasih keterangan. Soalnya sudah di sini ini", kata Tatang sambil menunjuk dada dan kepalanya. Rupanya para laki-laki bangsa bebek hanya punya satu peranan. Kawini isteri mereka yang banyak itu, dan kalau ada calon laki-laki yang akan lahir, jual saja.

Minggu, 22 November 2009

Raup Jutaan Rupiah dari Tulang


Selasa, 7 April 2009 | 11:50 WIB

KOMPAS.com — Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba beternak lele. Ketika tengah menguras kolam untuk panen, Beni dan rekannya menemukan tumpukan tulang ikan dan ayam, sisa pakan lele. Tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tulang belulang yang sering kali dianggap orang tak berharga itu mereka ubah menjadi sepeda ontel, naga, motor besar, sampai becak.

Kerajinan dengan bahan baku tulang belulang pula yang membuat laki-laki bernama lengkap Beni Tri Bawono ini mengikuti berbagai pameran kerajinan, di antaranya di Yogyakarta dan Jakarta.

Dalam berbagai pameran itu, miniatur sepeda ontel, monster, sepeda motor gede atau moge seperti Harley Davidson, becak, dan kapal layar diberi harga sekitar Rp 1 juta. Adapun kerajinan berbentuk naga yang panjangnya lebih dari satu meter ditawarkan sekitar Rp 10 juta. Harga yang relatif tinggi, menurut Beni, merupakan bagian dari penghargaan atas kreativitas mencipta.

Bahan baku utama kerajinan itu dari tulang belulang ”gratisan” yang sebagian merupakan limbah warung makan di sekitar rumahnya. Bahan baku kerajinan itu tak hanya tulang ayam, tetapi juga tulang ikan dan tulang bebek. Sebagian besar tulang itu tidak dibentuk sesuai kebutuhan, tetapi kreativitaslah yang disesuaikan dengan bentuk tulang-tulang yang tersedia.

Sadel untuk sepeda ontel, misalnya, dibuat dari potongan punggung ayam, ban sepeda dari leher ayam yang dibentuk melingkar. Jeruji dibuat dari patahan tulang sayap, sedangkan kemudi sepeda dari tulang bebek. Ini yang menyebabkan pembuatan kerajinan seperti sepeda onthel bisa memakan waktu 10-15 hari, sementara untuk membuat naga yang lebih rumit diperlukan waktu hampir empat bulan.

Proses pembuatan kerajinan itu diawali dengan membersihkan tulang dari sisa-sisa daging. Untuk menghemat tenaga, hasil berburu tulang pada malam hari di warung-warung makan itu dia lemparkan ke kolam lele di belakang rumahnya. Setelah tiga hari, tulang itu diangkat dan direndam dalam air berformalin selama sehari semalam. Tulang-tulang itu kemudian dijemur hingga berwarna putih kering sambil sesekali disemprot formalin.

Tulang yang sudah benar-benar kering lalu mulai direkatkan dengan lem, sesuai dengan ide bentuk benda yang muncul. Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, rangkaian itu disemprot dengan cairan pembersih dan disapu dengan pewarna mutiara. Untuk memberi nilai tambah pada produknya, kerajinan itu dimasukkan ke dalam bingkai kaca.

”Kaca bingkainya juga kami potong sendiri dan sengaja dibentuk agar bisa dibuka. Ini supaya orang mudah membersihkannya, cukup disemprot cairan pembersih supaya awet. Asal tidak berada di tempat lembab, kerajinan ini bisa tahan lama,” kata Beni yang tinggal di Kelurahan Kebonbimo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Andil rekan

Kreativitas membuat kerajinan tulang yang diberi label nama Boneart-Tlatar itu tak terlepas dari andil teman mainnya sejak kecil, Parmono atau Mono (27), panggilannya. Tentang nama merek produknya itu, kata Beni, ”boneart” untuk menggambarkan kerajinan ini terbuat dari tulang belulang. Adapun ”Tlatar” adalah tempat kelahirannya.

Mono membantu Beni mengurus 13 kolam lele di belakang rumahnya. Memelihara lele adalah usaha yang dijalani Beni untuk menyambung hidup setelah terkena PHK massal dari pabrik tekstil di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, akhir tahun 2007.

Pada awal tahun 2008, Beni dan Mono mulai memanen lele. Setelah menguras habis air kolam, di tepian kolam teronggok tumpukan tulang-tulang sisa pakan tambahan lele. Mono melihat kepala ayam yang sudah menjadi kerangka. Entah mengapa, ketika itu imajinasinya melayang, membayangkan kepala ayam itu seperti kepala monster. Hari itu juga Mono dibantu Beni mencoba membentuk sosok monster yang tergambar dalam benak mereka.

Hasilnya ternyata lumayan unik meski masih sederhana. ”Monster” itu lalu dipajang di ruang tamu rumah Beni. Beberapa kenalannya yang melihat ”monster” berbahan tulang sisa pakan lele itu tertarik dan memesan produk serupa.

Merasa ada peluang, jiwa bisnis Beni muncul. Dia mengajak Mono membuat lebih banyak kreasi hingga kemudian hasil karya mereka juga diketahui dinas usaha kecil dan menengah setempat. Mereka kemudian diajak ikut pameran ke berbagai tempat dan kota.

”Sewaktu pameran di Yogyakarta, kami sudah mendapat pesanan meski jumlahnya relatif kecil. Namun, karena ini produk kerajinan tangan, memang tak bisa langsung dikerjakan dalam waktu cepat,” katanya.

Duet Beni dan Mono lalu mencoba mengembangkan bentuk selain sosok monster. Mereka mencoba membuat sesuatu yang lebih menantang. Namun, Mono memutuskan untuk berhenti dua bulan lalu. Maka, Beni bekerja sendiri meneruskan usaha kerajinan berbahan baku tulang belulang itu.

Tawaran lewat ”blog”

Meski bisa dikatakan unik, kata Beni, pemasaran produk kerajinan tulang ini masih tertatih-tatih. Ia baru bisa berharap dari pameran ke pameran. Dia masih enggan menawarkan kerajinan tulang itu melalui galeri seni.

”Saya berencana membuat galeri sendiri di rumah, tetapi masih belum terwujud karena terkendala modal. Untuk membuat karya yang dipamerkan di Jakarta saja, saya sudah habis-habisan. Uang dari hasil menjual lele nyaris semuanya dipakai untuk modal membuat kerajinan,” tuturnya sambil menunjukkan belasan kerajinan tulang.

Untuk mengatasi masalah pemasaran, sekitar sebulan lalu Beni dibantu sepupunya mencoba menggunakan jejaring internet. Dia membuat blog yang berisi foto-foto dan narasi singkat tentang kerajinan tulang produknya dalam www.boneart-tlatar.blogspot.com. Namun, media ini masih sangat sederhana, baik tampilan maupun isinya.

”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan bernilai tinggi. Saya berharap setelah pemasarannya bisa lebih luas, saya bisa mengajak orang-orang di kampung untuk ikut membuatnya. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” ungkapnya optimistis.(Antony Lee)

Sumber: Kompas Cetak

125 Orang Kejar-kejar Bebek


http://www.kompas.com, edisi Senin, 18 Agustus 2008 | 11:58 WIB

SURABAYA, SENIN - Sebanyak 125 orang yang berasal dari Kecamatan Genting, Surabaya mengikuti lomba menangkap bebek di Sungai Kalimas, Surabaya, Senin (18/8) siang.

Acara yang digelar untuk memperingati HUT ke-63 Kemerdekaan RI tersebut cukup meriah. Bahkan, sejumlah warga Kota Surabaya berdatangan melihat secara langsung acara tersebut.

Sementara itu, para peserta lomba terdiri atas orang tua, anak muda hingga anak-anak terlihat begitu antusias menangkap bebek. Mereka terlihat saling berebutan menangkap bebek tersebut.

Ketua panitia, Rudi Irawan Anwar, mengatakan, dalam lomba itu, sebanyak 30 bebek dilepas secara dua tahap ke Kalimas.

"Peserta tidak dibatasi umur, selain para orang tua dan anak muda, anak-anak juga banyak yang ikut," katanya.

Hadiah yang diperebutkan dalam lomba itu, antara lain sepeda gunung, telepon seluler (ponsel), jam dinding, dan hadiah lainnya.

Adapun dipilihnya Kalimas sebagai tempat dalam lomba kali ini, kata dia, karena sungai memiliki nilai historis yang tinggi. Pada zaman kerajaan Majapahit, sungai ini pernah dilewati para perajurit Majapahit ketika menjalankan tugas kenegaraan.

ABI
Sumber : Ant

Kemeripik Laba Bebek Kremes

Kamis, 14 Mei 2009 | 11:06 WIB


KOMPAS.com — Pernahkah mengudap bebek kremes? Rasanya... yummy. Bagi pebisnisnya, laba dari bebek kremes juga tak kalah nikmatnya. Buktinya adalah Samsianata.

Bermula dari iseng, tahun 2006, Samsianata membuka rumah makan dengan menu andalan bebek goreng. Agar tak sama dengan kedai menu bebek lainnya, Sam, panggilan akrab Samsianata, menyajikan menu bebek yang berbeda. "Sagu membalut daging bebek pakai tepung sehingga jadi kremes," katanya.


Selain itu, Sam juga menggunakan rempah-rempah asli Indonesia. "Sehingga dagingnya empuk dan tidak bau amis," klaim Sam yang menamakan usahanya: Bebek Kremes Wong Jojga.

Saat ini di gerai Bebek Kremes Wong Jogja tersedia 19 menu makanan dan tujuh menu minuman. Andalannya, tentu saja menu bebek. Selain bebek, ada juga tahu, tempe, ayam, baknmi, dan sebagainya. Tapi, kebanyakan menu tadi disajikan dengan balutan kremes alias tepung yang menjadi ciri khas Sam. Menu minuman andalannya adalah wedang wayang, yakni campuran berbagai rempah dengan krim.

Sam mengaku, produk makanan buatannya laris manis diserbu pembeli. Karena itu, pada April 2008 Sam menawarkan kemitraan Bebek Kremes Wong Jogja. Tawaran kemitraan itu cukup laku. Buktinya, baru setahun sejak ditawarkan dia sudah berhasil menjaring 18 mitra yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung, Yogyakarta, dan Medan.

Cukup Rp 50 juta

Sam menetapkan beberapa persyaratan bagi yang berminat menjadi mitranya. Pertama, investasi awal Rp 50 juta untuk kerja sama 10 tahun.

Kedua, talon mitra harus menyediakan tempat usaha dengan luas minimal 100 meter persegi dan lahan parkir yang mampu menampung minimal lima mobil. Khusus yang mengambil lokasi di mal, si mitra bisa menempati ruangan dengan luas 20 meter persegi. Oh ya, tempat usaha tersebut juga harus memiliki kamar mandi.

Dengan menyetor investasi awal tadi, si mitra akan mendapat perlengkapan promosi berupa brosur dan spanduk. "Ada juga promosi lokal dan nasional selama seminggu pertama pembukaan," jelas Sam.

Tidak ketinggalan, Sam juga memberi pelatihan bagi 15 karyawan mitra. Terakhir, Sam akan memberi paket perdana senilai Rp 2 juta sebagai alat promosi saat pembukaan perdana, berupa paket makanan dan minuman lengkap.

Agak berbeda dari kebanyakan tawaran kemitraan, Sam tidak mengharuskan mitra membeli bahan baku kepadanya. Si mitra bisa membeli sendiri semua kebutuhan usaha. "Karena saya membuka semua rahasia dapur termasuk bumbunya," ajar Sam.

Sam juga tak mematok uang royalti. Hanya, ketika mitra berniat meneruskan kerja sama, Sam memungut Rp 25 juta sebagai biaya perpanjangan. Sam menjanjikan mitra balik modal dalam 24 bulan. Itu dengan asumsi pendapatan kotor Rp 1,5 juta per hari.

Yenny, mitra Bebek Kremes Wong Jogja di Bekasi sejak tahun 2006, mengaku bisa mencapai target itu karena setiap hari bisa meraup pendapatan Rp 4 juta hingga Rp 6 juta. "Laba bersihnya sekitar 30 persen," beber Yenni.

Yenni memperoleh laba sebesar itu setelah dia mengurangi omzetnya dengan berbagai biaya, yakni biaya bahan baku sebesar 30 persen, sewa tempat sebesar Rp 70 juta, biaya gaji pegawai, dan berbagai biaya lainnya. (Dessy Rosalina/Kontan)