Minggu, 22 November 2009

Kuliner Keraton

http://www.kompas.com, edisi Kamis, 31 Januari 2008 | 00:39 WIB

by: Bondan Winarno

Tulisan saya minggu kemarin memicu ingatan pada diskusi dua tahun yang lalu di milis Jalansutra tentang kuliner keraton alias royal cuisine. Yohan Handoyo yang memulai diskusi mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah bedanya dengan masakan rakyat biasa? Atau cuma masakan biasa yang menggunakan bahan-bahan luar biasa? Atau malah cuma penampilannya saja yang dibuat bergaya?

Yohan ketika itu mencoba melakukan riset dan ternyata menemukan bahwa haute cuisine di Prancis punya sejarah yang panjang. Tidak percaya? Baca saja komik Asterix. Bukankah Obelix yang sangat doyan celeng panggang jadi kaget ketika melihat bahwa ternyata bangsawan Romawi sudah lebih dulu menyukai sajian itu. Sayangnya, Obelix tidak singgah sempat ke Puri Ubud dan melihat para raja Bali menyantap be guling.

Mungkin sekali pertanyaan-pertanyaan Yohan itu dipicu oleh undangan Mas Iwan Tirta beberapa bulan sebelumnya yang mengajak kami berhalalbihalal di rumahnya. Mas Iwan menyajikan berbagai hidangan yang menurutnya dimasak berdasar resep-resep Puro Mangkunegaran. Sekalipun bergaris darah Cirebonan, Mas Iwan memang dikenal sangat dekat dengan keluarga Mangkunegaran.

Tetapi, Mas Iwan sendiri justru berpendapat bahwa keraton-keraton di Jawa justru tidak mempunyai royal cuisine yang dapat dibandingkan dengan istana-istana Prancis atau Italia pada abad ke-18. Menurutnya, keraton-keraton Surakarta dan Yogyakarta di masa itu malah mengirim jurumasaknya untuk belajar masak di keluarga-keluarga Belanda. Perlu pula dicatat bahwa pada masa itu banyak pangeran muda yang justru “dititipkan” kos pada keluarga-keluarga Belanda, sehingga menyerap kebiasaan kuliner asing. Salah satu makanan kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX – yang di masa mudanya bersekolah di Negeri Belanda – adalah sup makaroni yang kemudian diadaptasi menjadi sajian khas keraton Yogya.

Tidak heran bila banyak sajian Puro Mangkunegaran yang sebetulnya juga merupakan fusion dengan masakan Belanda. Sambel goreng srinthil, misalnya, adalah sambel goreng yang dibuat dari bulatan-bulatan kecil daging cincang yang diadaptasi dari masakan Belanda. Bulatan daging ini juga kemudian hadir dalam sup dengan kacang kapri dan potongan sosis.

Salah satu hidangan khas Solo yang menampakkan fusion dengan kuliner Belanda adalah selat solo yang mungkin sekali nama aslinya adalah sla atau salad. Sajian ini merupakan silang antara semur, biefstuk, dan selada. Jejak-jejak kebelandaannya masih sangat kuat. Bukankah sosis solo juga sebetulnya merupakan blaster antara semar mendem dan saucijsbrood-nya wong londo?

Sebaliknya, Kanjeng Gusti Ratu Alit, putri kesayangan almarhum Sri Sunan Pakubuwono XII yang memang diberi “kekuasaan” untuk mengurusi dapur keraton pada waktu itu, justru berpendapat bahwa sajian khas keraton-lah yang kini populer menjadi santapan rakyat. Menurutnya, contoh yang paling nyata adalah nasi liwet. Sajian yang dulunya merupakan kesukaan para raja dan keluarganya, kemudian menyusup menjadi sajian yang populer di kalangan masyarakat luas. Pernah cicipi nasi liwet Bu Wongso Lemu, ‘kan? Dia bukan saudaranya William Wongso, lho?

Bagaimana pula dengan keraton-keraton di luar Jawa? Apakah mereka mempunyai santapan khusus bagi para ningrat di lingkungan baluwarti? Saya pernah berkunjung ke Istana Pagaruyung di Sumatra Barat dan Istana Gowa di Sulawesi Selatan, tetapi tidak pernah mendengar tentang adanya masakan yang hanya disuguhkan di sasana andrawina kerajaan.

Tetapi, di Istana Sultan Maimoon di Medan, saya justru sempat mencicipi masakan-masakan Teuku Zahdi yang konon memang dulunya diperuntukkan bagi para bangsawan. Yang saya cicipi misalnya adalah anyang jantung pisang, sambal serai, bubur pedas, serta tepung banda (kue ini juga disebut bolu kamboja). Anyang adalah masakan seperti urap di Jawa, sayurnya jantung pisang, pakis, dan tauge. Sambal serainya sangat gurih, karena diisi udang basah dan udang kering, dengan kelapa bakar yang ditumbuk, disantap dengan ketupat. Bubur pedasnya mirip bubuh pedah di Aceh, dibuat dari 44 macam bahan dan bumbu. Sama dengan di Solo, santapan para Raja Deli inipun kini populer sebagai masakan rakyat. Bedanya, masakan khas ini hanya muncul pada bulan suci Ramadhan, karena rupanya terlalu rumit untuk disajikan sebagai makanan sehari-hari.

Sekalipun secara terbatas kita juga mengenal adanya berbagai santapan kesukaan para raja di masa lalu, tetapi sebetulnya jenis-jenis masakan itu tidak banyak berbeda dari masakan yang juga dinikmati oleh rakyat. Berbeda sekali dengan definisi royal cuisine seperti yang dapat kita pelajari dari istana-istana Prancis, Italia, China, Jepang, dan Korea. Kuliner istana di sana benar-benar dibuat dari bahan yang sangat eksklusif, dan prosesnya pun sangat eksklusif. Sekarang, di Beijing ada beberapa restoran khusus yang menyajikan menu imperial dinner dengan harga selangit.

Jangan khawatir! Di Yogya malah ada dua restoran yang diselenggarakan langsung oleh keluarga keraton. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa kuliner keraton bukanlah sesuatu yang eksklusif. Resep keraton “sengaja” dibocorkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Restoran “Bale Raos” yang terletak di bagian selatan keraton Yogya, di Jalan Magangan Kulon, misalnya, menyediakan berbagai sajian kesukaan para raja. Ada bebek suwar-suwir dengan bumbu kedondong kesukaan Sri Sultan HB IV. Ada pula singgang ayam kesukaan Sri Sultan HB IX. Tetapi, he he, jangan kaget kalau menemukan sajian khas Surabaya di sana, yaitu lontong kikil. Rupanya, ada seorang pangeran yang ketika berkunjung ke Surabaya jatuh hati pada masakan ini, sehingga kemudian juga memerkaya khasanah kuliner Keraton Ngayogyakarta.

Di bagian depan keraton, di Jalan Rotowijayan, juga ada “Gadri Resto” yang langsung ditangani oleh BRAy. Hj. Nuraida Joyokusumo. Restoran ini berlokasi di rumah pangeran, sehingga para tamu dapat menikmati suasana khas keningratan. Sekalipun berasal dari Kalimantan, istri GBPH Joyokusumo (adik merangkap ajudan Sri Sultan HB X) ini ternyata tekun belajar kuliner keraton. Ia bahkan sudah menulis buku resep-resep masakan yang disukai para raja-raja pendahulu.

Tamu yang berkunjung ke “Gadri” biasanya akan disambut dengan welcome drink yang disebut Royal Secang. Wedang secang yang dibuat dari jahe, kayu manis, dan serutan kayu secang sehingga berwarna merah ini adalah kesukaan Sri Sultan HB IX juga. Minuman ini sekarang juga disajikan dengan es untuk mengikuti zaman.

Jangan lupa mencicipi hidangan “Gadri” yang bertajuk Nasi Blawong. Blawong sama sekali tidak mencerminkan sajiannya, melainkan referensi terhadap piring sajinya. Di masa lalu, hidangan untuk para raja disajikan dalam piring yang didatangkan dari Belanda dengan motif Delft blauw (biru). Nama piring itu dalam bahasa Jawa kemudian menjadi piring blawon.

Di tengah piring itu diceplok nasi yang berwarna merah muda. Ini adalah nasi gurih yang bumbu utamanya adalah bawang merah. Selain menciptakan efek segar, bawang merah inilah yang “bertanggung jawab” mewarnai nasi itu menjadi merah muda. Di sekitar nasi ceplok itu ditata lauk-pauknya yang tidak terlalu mewah, yaitu: ayam goreng lengkuas, daging sapi lombok kethok, dan telur masak pindang yang kemudian digoreng.

Nasi blawong adalah santapan raja yang memang hanya dapat ditemukan di “Gadri”. Tetapi, favorit raja seperti nasi langgi dan nasi punar kini sudah umum dijumpai di berbagai tempat makan umum.

Dalam daftar menunya, “Gadri” menyajikan berbagai sajian yang memang harus dicoba satu per satu, seperti: daging sanggar, pastel krukup, untup-untup sayur, sayur klenyer, dan lain-lain. Coba juga dessert-nya yang khas seperti: pandekuk, rondo topo, tapak kucing, atau prawan kenes.

Sabtu, 21 November 2009

Bebek Goreng & Bakar Populer

Devita Sari - detikFood, http://www.detik.com, Rabu, 01/08/2007 10:17 WIB

Jakarta - Penasaran ingin membuat bebek goreng yang empuk nan lezat? atau ingin menggali rahasia agar bebek tidak berbau amis?

Tak perlu bingung, karena jawabannya ada di buku mungil ini. Berbagai variasi olahan bebek dari berbagai daerah, plus cara membuat aneka sambal pun tersaji komplet. Bahkan, siapa tahu impian untuk menjadi juragan bebek dapat terwujud. Nah, cobain yuk!! Mungkin bagi sebagian orang bebek bukanlah makanan favorit.


Bau amis yang mengganggu ketika menyantap makanan ini membuat orang enggan untuk menyantapnya. Padahal jika diolah dan disajikan dengan benar, bebek dapat menjadi hidangan yang unik dan luar biasa lezat. Di buku yang berjudul Bebek Goreng & Bakar ini sang penulis mengupas tentang rahasia menghidangkan sajian bebek yang lezat dan gurih.

Pada awal bab, sang penulis yaitu Ibu Odilia Winneke yang berpengalaman sebagai food editor dan food stylist ini mengungkapkan awal mula bebek atau itik dan jenis-jenisnya di Indonesia. Sedangkan pada bab berikutnya dijelaskan cara-cara mengolah bebek yang baik dan benar. Selain agar tidak berbau anyir, juga untuk menambah rasa gurih bebek ketika dimasak. Dimana hal tersebut sebenarnya merupakan kunci penting dalam memasak hidangan bebek.

Pada bab selanjutnya pembaca akan disodori dengan aneka hidangan bebek dari berbagai wilayah di Indonesia. Pada halaman 10 contohnya, terdapat resep Bebek Goreng Surabaya yang gurih dan empuk plus foto-foto cantik hasil jepretan kamerawan Harry Wibawa.

Selanjutnya terdapat resep Bebek Goreng Kremes, yaitu bebek goreng yang ditaburi kremesan yang kress...kress diatasnya ini merupakan hidangan bebek yang cukup populer saat ini; Bebek Goreng Bali, yaitu sajian bebek yang berasal dari Bali ini biasanya disajikan dengan pelengkap sambal matah dimana cara pembuatannya pun akan dibeberkan di akhir bab.

Selain bebek goreng masih banyak resep bebek bakar lainnya yang tak kalah lezat. Bebek Bakar Banyumas yang dilumuri oleh kecap dan irisan cabai rawit merah dan hijau ini sangat menarik dan unik untuk dicoba. Jika suka rasa yang lebih pedas Anda dapat mencoba resep Bebek Bakar Cabai yang rasa pedasnya cukup mengigit... dijamin Anda pun akan terengah-engah kepedasan. Sajian bebek goreng ataupun bakar tidak akan komplet jika tanpa sambal.

Di akhir bab, tak lupa penulis menyajikan resep-resep aneka sambal yang cocok untuk sajian bebek. Sambal matah yang unik ini didominasi dengan irisan bawang dan cabai rawit merah; sambal mangga, yaitu mangga yang diserut halus ini dicampur dengan sambal yang telah dihaluskan; Sambal Rawit; hingga Sambal Cabai Hijau yang puedesss... semuanya dituturkan komplet mulai dari bahan-bahan hingga cara membuatnya.

Nah, jika ingin membuat bebek yang gurih dan lezat tak perlu menjadi pakar bebek. Dijamin, dengan buku terbitan Gramedia ini Anda dapat membuat hidangan bebek secantik dan seenak sajian resto. Apalagi karena semua resepnya telah diuji coba, jadi kemungkinan gagal pun akan semakin kecil. Selamat mencoba ya!!

Hidangan Favorit Terpopuler Bebek Goreng & Bakar Odilia Winneke PT Gramedia Pustaka Utama Harga : Rp 30.000,00 Dapat diperoleh di semua toko buku Gramedia (dev/Odi)

Jumat, 20 November 2009

Barack Obama, Bebek Sawah di Menteng Dalam


Kamis, 23 Oktober 2008 | 13:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Setiap menyaksikan Barack Obama di televisi, ingatan Djoemiati melenting ke masa yang jauh. Nenek 66 tahun yang tinggal di Menteng Dalam, Jakarta Pusat, itu ingat betul senator Illinois dari Partai Demokrat tersebut. Djoemiati tahu sang senator kini tengah berlaga merebut kursi kandidat Presiden Amerika Serikat. Dialah Barry Soetoro kecil yang tengil. ”Ya, itu dia, Barry. Kalau lari, dia mirip bebek sawah,” ucap Djoemiati terkekeh.

Barry nama panggilan Obama semasa bocah di Jakarta. Usianya baru enam tahun pada 40 tahun lalu saat dia bersama ibunya, Ann Dunham, dan ayah tirinya, Lolo Soetoro, tinggal bertetangga dengan Djoemiati. Coenraad Satjakoesoemah, kini 77 tahun, suami Djoemiati, menjual sebagian tanahnya di Jalan Kiai Haji Ramli 16 di kawasan Menteng Dalam kepada Lolo. Saat itu keluarga Lolo baru pindah dari Papua.

Segera saja Djoemiati terkesan saat berkenalan dengan Barry. Bocah berkulit hitam, berbadan gemuk, dan berambut ikal itu cepat bergaul dengan anak-anak sebayanya di kampung. Kendati belum bisa berbahasa Indonesia, dia mau diajak main apa saja. Petak umpet, gulat, tembak-tembakan, kasti, hingga sepak bola, Barry hayo saja. Barry paling senang berlari. Gaya larinya kerap menjadi bahan tertawaan warga Menteng Dalam. Mereka menyebut dia ”si Bebek Sawah”. ”Dia itu gemuk, jadi kalau lari lucu banget,” ujar Djoemiati kepada Tempo.

Keluarga Soetoro pindah ke Menteng Dalam dengan membawa pelbagai ornamen tradisional rumah Papua. ”Saya pertama kali tahu tombak Irian, ya, waktu main ke rumah Barry,” tutur Eddy Purwantoro, 51 tahun, tetangga sebelah Barry.

Lolo Soetoro juga membawa serta hewan peliharaan, seperti ular, biawak, kura-kura, kera, hingga beberapa jenis burung dari Papua. Hewan-hewan itulah yang kerap dipamerkan Barry kepada teman-temannya. Yunaldi Askiar, 45 tahun, tetangganya yang lain, bercerita, ia pernah marah ketika Barry membuatnya kaget saat menyodorkan kepala kura-kura ke wajahnya. Tapi amarah Yunaldi tak berlangsung lama. Tak sampai sebulan kemudian hewan itu lenyap lantaran rumah Lolo diterjang banjir.

Tak bisa memamerkan hewan peliharaan, Barry tak kehabisan akal. Teman sekelas Yunaldi di kelas I Sekolah Dasar Katolik Fransiskus Strada Asisi (sekarang Fransiskus Asisi), Menteng, itu menunjukkan beberapa koleksi pistol mainan. Johny Askiar, 50 tahun, kakak Yunaldi, pernah diberi sebuah pistol mainan oleh Barry.

Bagi Johny, tetangganya di ujung Jalan Ramli itu terhitung teman baik hati. Selain punya banyak pistol mainan yang mirip pistol asli, bocah kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961, itu punya spidol. ”Waktu itu hanya anak orang kaya yang memiliki spidol,” ujar Johny mengenang. Johny kini membuka usaha bengkel sepeda motor di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sepulang sekolah, Johny dan Yunaldi biasa mengundang Barry ke rumah mereka. Di rumah nomor 18 itu mereka bermain gulat atau petak umpet. ”Kalau dijaili, Barry suka berseru, cuang! Cuang!” Johny menirukan aksen cadel Barry saat menyebut kata curang.

Johny mengaku ia memang kerap menggoda Obama. Misalnya, menjitak kepala atau memain-mainkan rambut keriting Barry. ”Habis, gemas dengan rambutnya itu,” ujarnya. ”Lucunya lagi, kalau kehujanan, air tetap ngembeng di kepalanya.”

Keakraban Barry dan Johny-Yunaldi menular kepada orang tua mereka. Ann Dunham, yang masih menggendong Maya Cassandra Soetoro, adik Obama, selalu menjahitkan baju-bajunya kepada Eti Hayati, kakak Johny. Keluarga Askiar, yang berasal dari Padang, kerap mengundang makan keluarga Lolo. Sepulang sekolah, Barry bahkan biasa makan di rumah Johny. Makanan favorit Obama: rendang.

Dalam soal makan, terutama jika ada rendang atau roti cokelat, Barry amat lahap. Djoemiati mengisahkan, suatu hari, ketika Obama main ke tetangga, dia hampir menghabiskan kue tar yang hendak disuguhkan kepada tamu keluarga itu. Lantaran berang, pembantu rumah itu mengejar-ngejar Barry. ”Si Bebek Sawah” lari terbirit-birit sebelum bersembunyi di kolong tempat tidur.

Kata-kata curang, jangan ganggu, dan jangan begitu merupakan ungkapan bahasa Indonesia yang paling sering diucapkan Obama kecil. Israella Pareira Darmawan, 64 tahun, guru Barry sewaktu kelas I di sekolah Asisi, menyebutkan kosakata Indonesia Barry amat terbatas di bulan-bulan awal masuk sekolah. Baru pada bulan keempat dan kelima, Obama mulai bisa berbahasa Indonesia meski terbata-bata.

Nilai bahasa Indonesia Barry cuma 5. Tapi ia amat pandai matematika. Secara keseluruhan Obama masuk sepuluh besar. ”Dia anak cerdas, sabar, mudah bergaul,” kata Israella.

Ibu guru itu masih ingat, Obama suka membela teman-temannya yang bertubuh kecil. Ia kerap memeluk atau memegang tangan teman mainnya yang jatuh dan menangis. Bertubuh paling jangkung, Barry senang memimpin barisan. ”Kalau guru masih belum masuk kelas, dia akan melarang siapa pun masuk kelas lebih dulu,” ucap Israella.

Di Asisi, Obama bersekolah dari 1968 hingga 1970 awal. Selanjutnya ia pindah ke Sekolah Dasar 01 Besuki, Menteng (sekarang Sekolah Dasar Negeri Menteng 01, Jalan Besuki) saat kelas III. Barry bersekolah di Besuki cuma sampai akhir kelas IV. Dia kemudian melanjutkan pendidikan dasarnya di Hawaii, Amerika Serikat.

Kawan-kawan di sekolah dasar Besuki ini pada awal Maret lalu membentuk Obama Fans Club. Alumni sekolah tahun 1973 itu berkumpul di Sekolah Dasar Negeri Menteng 01 dan memberikan dukungan kepada sang kawan untuk terus melaju dalam pemilihan Presiden Amerika. Belakangan nama Obama Fans Club itu berganti menjadi Yayasan Besuki 73. ”Nama Fans Club kurang tepat. Barry kan teman kami,” kata Sonni Gondokusumo, pengusaha 47 tahun.

Sandra Sambuaga-Mongie, 47 tahun, mengenang Barry sebagai kawan yang mudah berteman dan tak gampang marah. Sementara itu, Widiyanto, karyawan Prima Cable Indo, tak pernah lupa pada tangan kidal Barry. Obama sering menunjukkan gambar-gambar tokoh superhero, seperti Batman dan Spiderman, hasil coretan tangan kidalnya. ”Ia juga ikut pramuka dan karate,” ujar Widiyanto.

Fotografer Rully Dasaad, 48 tahun, mengenang Obama sebagai kawan yang sama-sama hiperaktif. Barry dan Rully dikenal tak bisa diam dan kerap menebarkan bau apak keringat kepada kawan-kawan mereka setelah bermain kasti. ”Saya ingat waktu ikut pramuka, Barry pernah diikat oleh kakak kelas karena tak bisa diam,” ujarnya.

Rully juga merekam cerita tiga bulan pertama Obama bersekolah di sekolah dasar Besuki. Barry tak pernah mau menyanyi. Tapi, setelah itu dia senang menyanyikan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Salah satu lagu kesukaannya: Maju Tak Gentar.

Apa cita-cita Obama kecil? Kawan-kawan Barry di sekolah Asisi ataupun sekolah Besuki berusaha memeras memori mereka, tapi tak berhasil mengail cerita ini. Hanya Bu Guru Israella yang segera teringat pelajaran mengarang di kelas III. Dengan tema ”Cita-citaku”, Barack Obama pernah menulis: ”Cita-citaku: presiden”.

Obama kecil adalah Obama yang punya kehidupan berwarna. Ia cerdas, mudah bergaul, melindungi teman-temannya, berusaha keras belajar bahasa Indonesia, senang menyanyi lagu perjuangan, menimba sendiri air sumur di rumahnya, dan suka mengenakan kain sarung pemberian ayah tirinya.

Media-media Amerika berusaha keras membongkar sisi spiritual Obama ini untuk menyerang sang calon presiden. Coenraad, misalnya, pernah berang ketika ucapannya tentang sekolah Obama dipelesetkan: dari Asisi menjadi Asisyiah. ”Padahal jauh berbeda. Asisi adalah sekolah Katolik,” ujarnya.

Eddy Purwantoro sering bermain bersama Barry di masjid. Juga, di saat bulan puasa keduanya biasa main-main di masjid. ”Barry sering pakai sarung untuk menutup mukanya. Kami bermain ninja-ninjaan,” Eddy menjelaskan. Tapi Eddy tak pernah melihat Barry menjalankan salat. Yang ia tahu, Barry penganut Nasrani. Yang memeluk Islam adalah ayah tirinya, Pak Lolo.

Kini Coenraad, para tetangga, teman-teman, dan guru Obama sangat berharap ”sang Bebek Sawah” yang mereka banggakan bisa menembus Gedung Putih. Jika itu terjadi, kata Coenraad, ”Dia adalah warga Menteng Dalam pertama yang jadi Presiden Amerika.”

[Yos Rizal Suriaji, Bayu Galih, Rafly Wibowo]

Bebek Terkena Penyakit Aneh, Peternak Sumenep Bangkrut

Minggu, 16 Agustus 2009 | 14:18 WIB

TEMPO Interaktif, Sumenep - Sepuluh peternak bebek potong di Desa Ganding Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, mengalami kebangkrutan. Bebek potong mereka mati mendadak tertular penyakit aneh.

"Kejadiannya sudah tiga bulan lalu, sekarang saya tidak beternak lagi," kenang Jesid, 40 tahun, peternak bebek potong Desa Ganding, Minggu (16/8).

Jesid menceritakan, kematian puluhan ekor bebeknya, di mulai akhir bulan Mei lalu, ketika isu flu burung dan flu babi sedang marak. Sejak itu, setiap pagi dua hingga tiga ekor bebek yang siap jual mati, dengan ciri tubuh kaku dan hidungnya mengeluarkan lendir. "Saya rugi hampir empat juta, modal habis total," katanya.

Bisnis ternak bebek, kata Jesid, belum genap dua tahun digelutinya. Ia tertarik, setelah melihat teman-temannya sukses dengan beternak bebek potong. "Awalnya saya bisa untung ratusan ribu sekali panen," kenangnya.

Berbeda dengan Jesid, nasib lebih beruntung dialami Mabruhah. Perempuan berusia 33 tahun ini mengaku hanya mengalami rugi kecil karena masih sempat menjual seluruh bebeknya, setelah mendengar bebek milik Jesid mati mendadak tertular penyakit.

"Waktu itu, Bebek saya sudah sempat mati beberap ekor," katanya seraya menambahkan di Desa Ganding terdapat sepuluh peternak bebek dan bangkrut semua.

Kasus serangan penyakit terhadap ternak bebek potong ini, kata Mabruhah, telah dilaporkan kepada perangkat desa. Namun, belum ada tindakan apa pun. "Bangkainya kita kubur aja, takut tertular flu burung," katanya.[MUSTHOFA BISRI]

Bebek Renyah ala Bali

Jum'at, 27 Februari 2009 | 10:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bebek sepertinya tengah menjadi menu primadona di ibu kota. Beragam restoran menawarkan sajian dari bebek sebagai hidangan utama. Mulai dari bebek sambal hijau, bebek goreng, hingga bebek bakar. Tak ketinggalan beragam cara dilakukan untuk menjadi daya tarik. Tengok saja pemandangan peternakan yang ditawarkan untuk pengunjung oleh rumah makan Tiktok van Depok di Kukusan, Depok, Jawa Barat.

Tak kalah unik yang disuguhkan sebuah restoran bebek dari Pulau Dewata di tengah ibu kota. Tepatnya di Jalan H Agus Salim. Hadir dengan suasana lebih modern, Bebek Bengil tetap menampilkan suasana ciri khas Bebek Bengil Bali. Mulai dari desain pohon yang dibalut kain sarung kotak-kotak hitam putih hingga lukisan pemandangan alamnya.


Bebek Bengil alias Dirty Duck Diner tak lain dari restoran bertaraf internasional yang pertama hadir di Ubud, Gianyar, Bali, dengan luas 100 hektare. Nama Bengil, yang berarti kotor, terinspirasi dari munculnya iringan bebek yang melintas di depan restoran yang dikelilingi sawah ini.

Pemilik Bebek Bengil, Anak Agung Raka Sueni mengatakan meski hadir dengan area yang lebih kecil, yakni 17 hektare, suasana Bali tetap menjadi sajian utama di restoran ini. "Kami ingin mengemasnya menjadi lebih modern saja. Sesuai dengan karakter masyarakat Jakarta yang beragam," katanya di sela-sela pembukaan restoran di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berbeda dari restoran di Bali yang dikelilingi sawah dan hanya memiliki satu lantai, di Jakarta, Bebek Bengil hadir dengan dua lantai. Uniknya, di lantai dua terdapat dua tempat berupa balkon, sehingga pengunjung dapat menikmati bebek dengan menatap panorama luar, meskipun pemandangannya berupa gedung-gedung.

Tak hanya suasana yang dicoba disesuaikan mirip Bali, menu andalan juga sama dengan yang disuguhkan di Ubud, yakni bebek bengil, berupa bebek goreng nan renyah. Tak mau kehilangan cita rasa bebek bengil Gianyar, bumbu untuk bebek bengil di Jakarta pun didatangkan langsung dari Pulau Dewata.

Membuka menu makan malam kami, hadir sate khas Bebek Bengil yang terdiri dari tiga macam, yakni sate lilit, sate udang, dan sate ayam. Lumayan mengganjal perut saya yang sudah menyanyi karena menahan embusan angin kencang malam itu. Setelah puas menikmati suasana Bali di tengah hiruk-pikuk ibu kota, akhirnya bebek bengil singgah di meja kami. Satu porsi nasi dan sepotong bebek goreng yang terlihat sangat garing serta sambal. Ada dua macam sambal, yakni sambal matang berupa cabe merah serta sambal mentah berupa irisan cabe dan bawang. Ditambah sayuran berupa kacang panjang dan taoge dengan bumbu kelapa, di sini dikenal sebagai urap. Menggiurkan!

Tanpa basa-basi, kami pun langsung menyantap bebek bengil itu. "Emang garing banget, sampai ke tulangnya," ujar rekan saya, Wulan. Ditimpali rekan lain, Indri, menyebut sambal yang lebih enak adalah sambal mentah. Ya, apa yang dibilang oleh teman-teman saya memang benar. Bebek bengil berbeda dari bebek yang pernah saya makan sebelumnya. Lebih garing dan renyah. Aroma amis yang biasa tercium dari bebek sama sekali tak singgah di hidung. Namun, untuk ukuran bumbu Bali, menurut saya, masih kurang tajam di lidah. Rasa gurih dan rempah Bali tidak begitu menonjol dibandingkan dengan masakan Bali lain.

Makan malam kami ditutup dengan kue-kue nan legit. Seperti the original skin devil dark food cake, Italian tiramisu, dan carrot cake ala Bebek Bengil. Meski tak terlalu menohok di lidah, rasa bebek bengil cukup mengobati kerinduan pada menu Bali. Selain bebek bengil, beragam menu juga tersaji, seperti sup ayam, tom yam goong, nasi campur Bali, sajian laut panggang, atau dada ayam panggang. Nah, untuk mencicipinya, Anda kudu merogoh kocek sebesar Rp 73.000++ per satu porsi bebek bengil. Tentunya ada bonus suasana Bali dan menu yang dijamin halal.[S. IKA SARI]

Kesenian rawa-rawa

Pesta seni kalimantan barat berlangsung di lapangan pahlawan amuntai. 80 anak sekolah dasar membuka acara dengan tarian baingun itik, yang menggambarkan kesibukan bebek di rawa-rawa. (sr)

Dari http://www.tempointeraktif.com

IDAMAN menyelenggarakan satu pesta seni, akhirnya kesampaian juga di Kalimantan Selatan. "Sudah sejak tahun 60-an terkandung niat serupa ini, tapi selalu kandas dijegal Lekra", kata Drs Yustan Aziddin, Wakil Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalsel. Itu sebabnya gerangan upacara pembukaan yang berlangsung di lapangan Taman Pahlawan Amuntai, 10 Pebruari lalu, lumayan juga meriahnya. Dalam buku acara direncanakan melepas sejumlah belibis ke udara. Apa lacur: akhirnya "pembaharuan dengan belibis" itu terpaksa diurungkan, diganti merpati dan balon-balon warna-warni sebagai biasa. Penggantian itu konon disebabkan orang kuatir jangan-jangan burung penghuni rawa itu malahan iseng merayani gelanggang dan tak mau terbang.

Sayang sebiji.

Sesaat pelepasan merpati dan balon, lapangan memang segera terisi oleh 80 anak-anak sekolah dasar yang berketopong karton itik. Mereka memainkan tarian Bangun Itik -- yang gerak-geriknya melambangkan kerja penggembala itik. Tarian ini diciptakan orang Amuntai, Kestaiari namanya. Gambaran pengangon bebek itu dimainkan kanak-kanak dengan luwes menirukan kesibukan bebek di rawa-rawa. Di akhir pergelaran tak diabaikan menampilkan kebiasaan kaum itik: bertelur. Dan di lapangan itu telur bergelindingan -- telur betul-betul -- dipungut dan dikumpul sang gembala ke dalam satu keanjang.

Pada giliran itik-itik itu naik ke tribune, satu-persatu mereka mencomot itu telur dari keranjang untuk disampaikan kepada para tetamu undangan yang mulia, tak terkecuali kebagian Aris Kartadipura Ketua DPRD propinsi Kalsel sementara Gubernur Subardjo tak hadir lantaran harus raker di Jakarta dan diwakili Drs Badrum Aran. Pembawa acara lantas mengomentari. "Telur yang dipersembahkan semuanya telah dimasak! Tak usah kuatir pecah dan kalau mau bisa disantap sekarang juga!". Tawaran protokol disambut rada kikuk oleh para tetamu -- mungkin juga sebab mereka teringat ungkapan "sayang anak", tapi sayangnya cuma sebiji. Orang-orang memang pada ketawa-ketawa kecil selama dimainkannya itu tarian Bangun ltik yang diiringi gesekan biola dan tabuhan gendang Kadir Umar dan kawan-kawan, membawakan lagu daerah Dundam Sayang.

Berkayuh sampan.

Pekan kesenian seKalimantan Selatan ini diikuti oleh 11 kontingen kotamadya plus kabupaten, dengan 389 peserta. Orang sana menyebut peristiwa ini aruh saniman alias pesta. Berapa biaya yang dihabiskan? "Rp 3 juta di luar biaya listrik" jawab Makkie BA, Humas Pemda Hulu Sungai Utara. Diperincinya: "Dari Gubernur via DKD Rp 500 ribu, selebihnya sumbangan masyarakat". Yang terbanyak dari sektor pelabuhan. "Per kwintal karet masuk kami minta Rp 100 atau Rp 1.000 per-ton". Sedang dari pengusaha kayu dan pemborong, menurut Makkie, "Yayang menyumbang Rp 250 ribu buat dibelikan lampu merkuri".

Dengan uang sebegitu, pesta seniman diselenggarakan dengan memperlombakan seni suara dan deklamasi. Tapi bagi penduduk setempat hiburan lain yang disajikan, seperti damarwulan, kuda gepang, mamana, japen dan madi hin nampaknya cukup menarik. TiaF malam orang-orang dari kawasan perbu kitan Awayan, Paringin, Lampihong, Juai, ramal-ramai turun ke Amuntai naik sepeda atau berkayuh sampan, atau pun jalan kaki. Pementasan sandiwara oleh Ajim Aryadi dari produksi DKD yang mengambil naskah Iwan Simatupang berjudul Taman -- menurut laporan Rahmat Marlim -- "kurang dapat dihayati penonton". (Begitu pula nasib drama arena Penggali Intan yang dibawakan kabupaten Tapin, karangan Kirjomulyo

Krung! Krung!

Di samping penampilan naskah dari Jakarta da Yogya itu disajikan pula buah tangan pengarang pribumi, yakni pribumi setempat -- seperti Ajim Aryadi yang mengetengahkan Alam Roh Kalimantan, Kurtubi dari Handangan menghidangkan Broncus yang konon minikata, Benawa dari Banjarbaru menyuguhkah naskahnya Haji Dulalim Yang Agung. Akan hal kontes tarik tenggorokan, di sini ajibka peserta pria maupun wanita menyanyikan lagu Ading Bastari dan Kakambang Habang Begitu pula untuk lagu-lagu pilihan diutamakan lagu-lagu daerah. Sehingga paling tidak selama pesta tersebut di Kalimantan Selatan nasib lagu-lagu pop yang merajai kawasan itu seperti Kolam Susu atau Hitam Manis, tergeser sebentar. Di sampan-sampan sepanjang Pariwara ataupun di mck (mandi-cuci-kakus) di Tangga Ulin lagu-lagu daerah setempat yang nyaris tepakan, kembali bergumam di bibir orang -- ini menurut Rahmat Marlim.

Maka Anang Adenansi pun Ketua DKD Kalsel, angkat bicara pada penutupan pesta tersebut 15 Pebruari. "Bumi seni Kalimantan Selatan tak benar gersang", serunya -- tentu saja. Bahkan sebelumnya Dirjen Kebudayaan Prof Gde Mantra yang sempat menyaksikan aruh saniman di Amuntai itu, memang sudah mengangguk-angguk kepada TEMPO: "Masyarakat daerah ini ternyata mampu memelihara kebudayaan daerah", ujarnya. Ini dikemukakannya sesaat setelah menyaksikan tari Gintur -- kesenian klasik di ujung Hulu Sungai Utara. Tarian ini diiringi bunyi-bunyian: "Krung! Krung!" yang keluar dari bambu plus kayu yang dihentak-hentakkan ke landasan kayu keras. Singkatnya, dengan pesta berseni-seni ini orang-orang pada gembira. Apa lagi karena peristiwa itu mewariskan tujuh lampu merkuri untuk penerangan kota.

Agar itik Cepat Bertelur

Penyinaran dengan lampu neon 3 jam setiap malam pada seekor itik bisa mempercepat pertumbuhannya serta bisa bertelur pada umur 4 bulan. hasil penelitian dr. tatang santanu adikara, dosen fkh unair.

Dari www.tempointeraktif.com

ITIK perlu listrik untuk cepat tumbuh menjadi dewasa. Dengan pencahayaan, neon selama tiga jam, setiap lepas petang, seekor anak itik bisa bertelur pada umur empat bulan. Lebih cepat empat bulan ketimbang teman-temannya yang tak pernah disentuh sinar neon.

Penyinaran neon tiga jam setiap malam itu bisa juga memacu pertumbuhan fisik anak itik. Dalam waktu dua bulan, anak itik umur seminggu berbobot 112 gram bisa dikatrol beratnya hingga mencapai 600 gram. Jauh lebih tinggi dibanding kawan-kawannya yang tanpa penyinaran, yang berat rata-ratanya 420 gram.

Soal pengaruh pencahayaan lampu neon terhadap itik ini telah diteliti oleh Dr. Tatang Santanu Adikara, dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair, Surabaya. Hasil penelitian itu dikemukakan Tatang pada pertemuan ilmiah nasional Persatuan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI), di Fakultas Kedokteran UI, Salemba, pekan ini.

Tatang sudah cukup lama menggauli itik. Dia pernah meneliti masalah daya tahan itik terhadap virus tetelo, untuk skripsinya di FKH Unair, 1978. Lantas disertasinya, dia mengangkat soal pengaruh cahaya terhadap kelenjar, alat, dan daya reproduksi itik.

Seusai mengambil gelar doktor di IPB 1986 Tatang kembali ke almamaternya untuk mengajar. Bebek tetap menjadi pilihannya untuk kegiatan riset pasca disertasinya.

Cahaya neon, menurut riset Tatang, ternyata berpengaruh terhadap manajemen hormonal pada itik. Secara teoretis, cahaya bisa memberikan rangsang pada retina mata. Lantas, saraf simpatis pada bebek itu akan meneruskannya ke otak.

Bagian otak yang tergerak oleh rangsang itu adalah kelenjar pinealis. Sebagai reaksinya, keleniar ItU akan mengurangl produksi hormon melatoninnya. Hormon bikinan kelenjar pinealis itu berperan dalam membatasi aktivitas produksi hormon pada kelenjar hipofise anterior. Padahal, kelenjar hipofiselah yang mengatur pertumbuhan dan pendewasaan pada sebuah individu.

Berkat cahaya ekstra itu, menurut riset Tatang, kadar melatonin dalam darah bisa menurun. Maka, faktor penghambat pertumbuhan dan pendewasaan bisa berkurang dominasinya. Tapi cahaya bohlam pijar listrik dan lampu minyak tak bisa memberikan manfaat yang sama. Respons retina itik khusus untuk cahaya putih, seperti sinar matahari atau neon.