Minggu, 13 Desember 2009

Dibuat Jatuh Hati Pada Mi Bebek Mamie


Kamis, 30/07/2009 15:39 WIB

Devita Sari - detikFood

Jakarta - Mi yang satu ini asli buatan sendiri. Bentuknya kecil-kecil pipih, lentur, dan tak lengket saat disantap. Siraman kuahnya tidak terlalu gurih dengan irisan bebek yang ditaruh di atas mi. Kulit si bebek panggang terasa crispy , dagingnya cukup tebal lagi empuk. Buat penggemar mi siap-siap dibuatnya jatuh hati!

Sewaktu diajak untuk makan mie bebek ke rumah makan ala rumahan ini sebenarnya saya agak ragu. Maklum saja tak banyak resto besar yang menyajikan mi bebek rasanya bisa diacungi jempol. Hmm... apalagi rumah makan ala rumahan seperti ini. Ya, begitulah kira-kira pikiran yang terbesit dalam benak saya sebelum berkunjung ke 'Mie Mamie'.

Patokan alamat yang saya dapatkan dari teman, letak tempat ini berada di dekat sekolah Al-Ikhlas, Cilandak. Setelah sempat bertanya beberapa kali, akhirnya saya pun berhasil menemukan Jl. Gaharu 4. RM 'Mie Mamie' menempati bangunan garasi yang disulap menjadi tempat makan. Ternyata tak hanya di garasi, meja-meja plus kursi sederhana tempat pengunjung bersantap juga ditata hingga ke bagian dalam rumah.

Setelah membolak balik buku menu yang berupa selembar kertas merah, selain mi bebek, mie yamien, mi kepiting, ifumi, dan bihun, di rumah makan ini juga menawarkan menu lainnya. Sebut saja cap cay, aneka nasi goreng, fu yung hai, hingga bebek panggang yang dijual 1/8, 1/4 hingga 1 ekor utuh. Pilihan saya jatuh pada menu andalan rumah makan ini yaitu mi bebek, pangsit goreng, dan jus jambu sebagai pelepas dahaga.

Mi bebek disajikan tak lama kemudian beserta dengan pelengkap lainnya. Kuah kaldu disajikan dalam mangkok mungil terpisah beserta dengan saus hoisin dalam wadah mungil. Minya disajikan dalam mangkok putih plus dengan taburan daun sawi dan 5 iris daging bebek yang terlihat menggiurkan.

Sebelum mencicipi mi, saya pun mencicipi si bebek yang sedari tadi sudah menggoda. Saya mengambil seiiris daging bebek menggunakan sumpit dan mencelupkan setengah bagian ke dalam saus hoisin. O ya, saus hoisin ini memang sering digunakan dalam masakan Cina sebagai pelengkap hidangan daging bebek dan hidangan daging panggang lainnya.

Gigitan pertama hmm... kulit bebek yang crispy bercampur dengan daging bebek yang empuk, sehingga saya pun tak kesulitan saat mengunyahnya. Nyam nyam... enak! Setelah mengaduk mi dengan sambal dan guyuran sedikit kuah kaldu yang rasanya tak terlalu gurih, mi pun siap untuk disantap.

Dilihat dari teksturnya mi yang berwarna kuning kecokelatan ini memang sudah tampak menggiurkan. Bentuknya kecil-kecil, pipih, lentur dan juga lembut, saat dikunyah mi tidak terasa lengket dan meluncur mulus di tenggorokan. Menurut sang pelayan mi mamie ini dibuat sendiri dan bebas bahan pengawet. Wah saya pun langsung dibuat jatuh hati dengan mi bebek racikan rumah makan ini.

Rasa pangsit rupanya juga tak kalah dengan pangsit buatan resto mi terkenal yang pernah saya cicipi. Seporsi pangsit seharga Rp 9000,00 ini terdiri dari 5 buah pangsit yang disajikan bersama saus khas mamie. Kulit pangsitnya tipis berwarna kecokelatan, rasanya renyah lembut dengan kejutan daging yang ada ditengah-tengah pangsit. Saat digigit kresss... renyah-renyah enak dengan cocolan saus khas yang asam manis pedas.

Untuk meredam pedasnya sambal saya pun membilasnya dengan segelas jus jambu yang menyegarkan. Yang saya suka rasa jusnya tak terlalu manis dan fresh membilas tenggorokan. Seporsi mi bebek yang lezat ini dihargai Rp 27.000,00, pangsit goreng Rp 9000,00 dan jus jambu Rp 13.000,00. Buat penggila mi atau bebek panggang, pokoknya siap-siap dibuat ketagihan mi mamie!

Mie Mamie
Jl. Gaharu 4 No.6A Cilandak
Jakarta Selatan
Telp: 70737777/7694817
Jam Buka: 08.30 - 21.00
(Melayani delivery order)

(eka/Odi)

Nikmatnya Begor 'Warung Berseri'

Senin, 07/12/2009 16:19 WIB

Alvijanti R - detikFood

Jakarta - Nama: Alvijanti R.
Email: alvijanti.r@gmail.com

Hidangan bebek memang sudah semakin populer dan mudah dicari. Salah satunya adalah 'Warung Berseri' ini. Bebeknya disajikan ala penyet dengan colekan sambal yang pedas mengigit. Dijamin membuat wajah turut berseri-seri setelah menikmatinya!

Lelah dan lapar setelah tuntas rapat di kantor jam 21.00 malam, saya memutuskan mampir ke Bendungan Hilir (Benhil) untuk mengisi perut sebelum pulang. Sederhana saja alasannya, karena di Benhil tersedia aneka pilihan makanan dengan harga beragam. Awalnya berniat makan di RM Surya, sayangnya begitu sampai di sana para pelayan malah sedang membereskan display makanan alias mau tutup.

Kecewa jelas, apalagi perut semakin memberontak minta diisi meskipun sejujurnya selera makan mulai menurun karena telah lewat jam makan malam. Langsung balik badan, menatap di seberang jalan ada warung kaki lima yang menjajakan pecel lele, ayam dan sebagainya.

Tanpa berpikir lagi, saya bergegas ke sana, mencari tempat duduk dan memesan nasi, paha bebek plus tahu goreng dan segelas jeruk panas. Sambil menunggu, saya mengudap sebungkus krupuk bawang warna-warni yang teksturnya sedikit bantat (favorit banget nih).



Malam semakin larut, namun pengunjung terus berdatangan memesan menu ini dan itu. Baru menghabiskan setengah bungkus krupuk pesanan pun datang. Bebek dan tahu goreng disajikan ala penyet di atas sambal dalam cobek tanah liat, dilengkapi dengan lalap daun kemangi, kol, dan tiga iris ketimun. Tentunya bersama nasi putih bertabur bawang goreng. Benar-benar tampilan khas warung pecel lele di mana-mana.

Setelah menyeruput jeruk panas, perlahan saya mulai mencuil si bebek. Aduh, ternyata panas banget. Terpaksa diganti dulu dengan tahu goreng yang langsung dicolek dengan sambal. Tahunya empuk dan gurih, mirip dengan tahu yun yi dari Bandung. Sambalnya enak, perpaduan cabe rawit merah, bawang dan tomat yang digoreng sebentar, dicampur dengan kemiri dan terasi dan baru diulek saat pesanan tiba. Rasanya pedas dan segar karena asam tomat yang samar.

Usai menghabiskan tahu, barulah saya kembali menjelajah bebek goreng. Berukuran cukup besar, digoreng kering dan tidak berminyak, tetapi bagian dalam masih lembab. Sepertinya menggunakan bebek setengah tua, bukan apkiran. Yang membahagiakan saya karena bebek ini tidak dipresto, sehingga masih menyisakan kekenyalan daging bebek yang khas. Terus terang, saya memang tidak terlalu suka dengan masakan daging unggas yang presto. Meskipun waktu masak jauh lebih singkat, tapi rasa dan tekstur makanan menjadi kurang mantap.

Back to bebek. Dengan bumbu yang meresap ke daging rasanya memang sesuai selera saya, gurih karena bumbu minimalis, ketumbar dan sereh. Soalnya bau amis bebek? Lupakan deh, tidak tercium sama sekali. Perlahan tapi pasti, saya menghabiskan seporsi bebek goreng dengan nikmat, menandaskan daging dan sambal sampai tidak bersisa lagi.

Kini yang tertinggal hanyalah perut kenyang dan rasa kantuk mulai menjelang. Terkejut mendengar harga yang harus dibayar, hanya Rp 15.000,- untuk seporsi nasi bebek goreng, Rp 3.000,- segelas jeruk panas dan Rp 1.000,- masing-masing untuk tahu goreng dan krupuk bawang.

Sejak malam itu, tempat ini menjadi salah satu top list makanan favorit saya. 'Warung Berseri' namanya, entah apa maksudnya, mungkin berharap setiap pengunjung akan selalu berseri-seri setelah menikmati makanan yang enak dengan harga yang terjangkau.

Warung ini mulai jam 18.00 WIB, waktu yang tepat untuk makan di sini adalah setelah jam 20.30 WIB. Pastinya karena saat itu arus kendaraan di Jl. Benhil Raya mulai menurun, sehingga polusi asap kendaraan tidak terlalu mengganggu kenyamanan pengunjung.

Warung Berseri
Jl. Benhil Raya
Jakarta
Jam Buka: Mulai pukul 18.00

(dev/Odi)

Sabtu, 12 Desember 2009

Ayam Pengemis, Dari Jalanan Menuju Istana

Kamis, 10 April 2008 | 15:35 WIB

dari www.kompas.com

Setiap makanan punya cerita. Seperti Ayam Pengemis, yang saya santap minggu lalu di Shang Palace, Shangri-la, Jakarta. Makanan khas tradisional dari China ini adalah menu baru yang disajikan di restoran oriental itu.

Ayam pengemis atau Beggar's Chicken adalah ayam yang sarat dengan rempah-rempah China. Cara pembuatannya juga melalui proses yang cukup panjang. Setelah direndam dalam aneka bumbu tadi, ayam lalu dibungkus dengan plastik (untuk menjaga kuah tetap terjaga), kemudian dibungkus dengan daun teratai utuh dan dilapisi lagi dengan aluunium foil.

KOMPAS.COM/ANGELINA
Ayam Pengemis, dalam balutan adonan roti yang dipanggang selama 2 jam


Setelah itu, ayam dimasukkan dalam adonan roti keras yang dibuat khusus lalu dipanggang selama dua jam, agar bumbu meresap hingga ke dagingnya dan juga agar tulang-tulang ayam ikut melunak.

Siang itu, ayam disajikan dengan cantik, tidak seperti pengemis. Tetapi dalam adonan roti yang berbentuk ayam. Untuk menyantapnya, saya juga harus menunggu dengan sabar.Karena sebelum sampai ke ayam pengemis, pramusaji harus mengiris roti terlebih dahulu, kemudian, membuka alumunium foil dan lapisan-lapisan lainnya hingga sampai ke masakan yang sesungguhnya, si pengemis.

Sementara pramusaji asyik membuka lembaran demi lembaran itu tadi, aroma khas rempah-rempah China singgah di hidung saya. Harum, Perlahan, terlihat jamur hitam, ke ci, penyedap daging ayam yang berwarna coklat pucat. Juga terlihat kuah hasil panggangan ayam dan rempah-rempahnya.

Ayamnya terasa lembut dengan aroma harum yang menyertainya. Kuahnya juga sedap, tida k terlalu manis dan gurih. Kalau dibandingkan dengan masakan Indonesia, saya jadi teringat ayam semur. Yah, serupa tetapi tak sama.

Kisah Ayam Pengemis

Sejarah ayam pengemis juga menarik untuk ditelusuri. Suatu hari, seorang pengemis di China sedang asyik membakar ayam yang ia curi dan dibungkus dalam tanah liat.

Aroma kelezatannya tercium oleh dua orang pengawal Kaisar yang memang sedang mencari makanan untuk tuannya.

Saat itu, Kaisar sedang berjalan-jalan secara rahasia. Di tengah perjalanannya, ia merasa lapar dan meminta pengawalnya untuk mencari makanan. Akhirnya, sang pengawal pun membeli masakan dari si pengemis itu. Namanya, Ayam Pengemis.

Setelah itu, ayam dalam bongkahan tanah liat diserahkan kepada Kaisar. Ternyata, kaisar sangat menyukai masakan si pengemis itu. Lalu, ia bertanya apa nama masakan tadi dan dijawab oleh pengawal, Ayam Kemakmuran.

Sang Kaisar lalu meminta para pengawalnya untuk mencari resep agar bisa memakan masakan serupa di Istana. Tetapi, sayang, ketika pengawal kembali ke tempat mereka membeli, si pengemis telah pergi.

Dengan perasaan was-was, akhirnya pengawal mengaku kalau sebenarnya, masakan itu bernama ayam pengemis, bukan ayam kemakmuran. Mereka juga tidak mampu menemukan resepnya. Mendengar hal itu, sang kaisar tidak marah. Sebaliknya, ia tertawa ketika menyadari dirinya telah menyantap masakan pengemis.

Akhirnya, ia pun memanggil koki istana, menceritakan detil masakan yang ia santap dan meminta dibuatkan menu yang sama. Jadilah menu yang mirip dengan menu yang ia temukan di jalanan. Hanya saja, di istana dikenal dengan sebutan Ayam Kemakmuran (Prosperous Chicken). Resep ini kemudian diwariskan secara turun-temurun dan dapat dijumpai di beberapa restorang China Kanton.

Di Shang Palace, karena pembuatannya cukup rumit. maka pengunjung harus memesan terlebih dahulu dua hari sebelumya untuk dapat menikmatinya.

Begitulah, kisah ayam pengemis, dari jalanan menuju istana....

"Tersengat" Bebek Goreng Madura


Senin, 16 Maret 2009 | 07:12 WIB
KOMPAS.com - Menu makan siang paling cocok di musim hujan mungkin makanan yang berkuah panas dan berasa pedas. Namun ada juga makanan pedas tanpa kuah yang bisa menjadi menu alternatif dalam cuaca dingin. Salah satunya adalah bebek goreng dengan rasa pedas yang ‘menyengat’.

Makanan itu antara lain bisa dijumpai di warung milik suami-istri Achmad Subad dan Satimah di Jalan Ahmad Yani, Pekayon, Bekasi Selatan. Sang empunya menamainya Rumah Makan Ella, tapi pelanggan setianya menamai warung tersebut Warung Bebek Goreng Pekayon.

Bagi warga Jakarta yang ingin mencoba makanan yang beda dari biasanya itu bisa meluncur menuju ke arah Bekasi. Rumah makan tersebut terletak tidak jauh dari Pintu Tol Bekasi Barat. Dari pertigaan Mega Bekasi Hypermall berbelok ke kanan menuju arah Pekayon.

Di warung tersebut menu makanan yang disajikan memang terbilang minimalis. Hanya tersedia nasi dan lauk daging bebek yang digoreng dengan gilingan cabai rawit, bawang dan garam. Saat disajikan bebek goreng tersebut berwarna cokelat karena sudah terlebih dahulu dibakar. Sementara cabai dan bawang yang dicampur dengan bebek bisa dijadikan saus atau sambal.

Meski minimalis, nasi bebek buatan Achmad Subad dan Satimah termasuk banyak penggemarnya. Terbukti setiap hari warung itu selalu dipadati pengunjung.

Dibakar dulu
Ditemui di warungnya belum lama ini, Achmad Subad menuturkan bahwa bebek goreng buatannya berasal dari resep nenek moyangnya di Bangkalan, Madura. Bumbu masak yang digunakan juga terbilang minimalis, hanya cabai rawit, garam, dan bawang, tanpa bumbu penyedap dan semacamnya.

Meski demikian, menurut Satimah, pengolahan bebek goreng buatannya tidak sesederhana bumbu masakan yang digunakan. Bebek sebagai bahan utama masakan dibakar terlebih dahulu dengan kayu bakar. Selanjutnya bebek yang sudah setengah matang itu dipotong-potong dan direbus selama dua jam. ”Setelah direbus baru bebek tersebut digoreng,” ujarnya.

Dikatakan Satimah, saat menggoreng daging bebek tersebut barulah seluruh bumbu dimasukkan, seperti cabe rawit dan bawang yang sudah digiling, serta ditaburi garam. ”Bebek digoreng dengan minyak selama satu jam hingga rasa pedas dan asin tercampur ke dalam daging,” ujarnya. (MUR)

Kamis, 10 Desember 2009

Restoran Bebek Bengil


Rabu, 28 Oktober 2009 10:48 WIB

dari www.mediaindonesia.com

Perjalanan menarik Ubud kurang lengkap tanpa kehadiran restoran Bebek Bengil. Tempat ini perlu Anda singgahi, karena terdaftar diurutan pertama lokasi kuliner Ubud, Bali dengan menu khas bebek sawah. Bengil berarti kotor. Wajar saja jika bebek yang dipakai berasal dari sawah yang identik tidak bersih.

Meski demikian kelezatan daging bebek yang sudah diolah tangan-tangan ahli sang pemilik restoran mampu menggiurkan selera makan Anda. Di dalam restoran juga tersedia Bale Bengong yang dikelilingi kolam teratai yang indah.

Kenikmatan hidangan Bebek Bengil belum lengkap tanpa sambal matah yang khas dan andalan Bali. Beberapa potongan cabai, bawang merah dan tomat yang disirami minyak kelapa asli atau minyak letik mampu menghasilkan sambal tersebut. Untuk menikmati hidangan Bebek Bengil, Anda cukup merogoh kocek sekitar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu.

Alamatnya cukup mudah. Jika Anda melintas di Jl. Hanoman, Padang tegal, Ubud, disitulah Restoran Bebek Bengil ternama berada. Selamat berkuliner ria! (tamasya/rmb)

Bebek Tunjungan, Makanan Cepat Saji Serba Bebek

Friday, 11 January 2008

Selama ini orang hanya mengenal bebek bakar dan bebek goreng. Tetapi dengan kreativitas Nasi Bebek Tunjungan, konsumen kini bisa menikmati pepes bebek atau bebek karamel


Russanti Lubis

Sejak beberapa tahun terakhir ini, Jakarta khususnya, diserbu oleh restoran cepat saji bermenukan ayam goreng. Bahkan, beberapa tahun sebelumnya, rumah makan yang menyediakan ayam goreng dengan bumbu tradisional, telah merambah Kota Metropolitan itu. Hal ini menggelitik Rouf Estianda, penggemar berat makanan bermenukan bebek, untuk membuka restoran yang branding-nya secepat ayam, tapi tentu saja bukan ayam atau lele.

“Kalau saya memilih ayam atau lele, pasti akan kalah dengan berbagai resto yang menyajikan menu ayam, khususnya. Saya pasti akan kemakan merek mereka. Akhirnya saya memilih bebek, dengan pertimbangan banyak orang yang suka bebek, tapi resto bebek yang enak dan branding-nya sekuat ayam masih jarang ditemui. Bebek biasanya alot dan amis. Dengan pertimbangan itulah, saya menciptakan bebek yang seempuk, seenak, dan se-familiar ayam dengan membuka Nasi Bebek Tunjungan (NBT) pada Desember 2006,” katanya.

Di sisi lain, ia juga ingin menggeser pengertian bahwa rumah makan bebek hanya menyediakan bebek goreng dan bebek bakar, mentok-mentoknya bebek balado. Padahal, saat ini, seiring dengan makin banyaknya resto bebek, makin banyak pula menu bebek yang disajikan, seperti pepes bebek atau bebek karamel. “Kami ingin menekankan bahwa inilah restoran bebek di mana para penggemar bebek dapat menikmati macam-macam masakan berbahan dasar bebek, seperti Bebek Ginseng yang khas Korea, Kebuli Bebek yang berbau Timur Tengah, atau Bebek Cobek yang bernuansa Sunda. Intinya, meski cuma digoreng, tapi bebek kami disajikan dengan rasa yang berbeda-beda,” ujar Direktur Utama NBT ini.

Pada awalnya, NBT yang dibangun dengan modal Rp500 ribu hingga Rp700 ribu dan gerobak pinjaman, tidak cukup mudah untuk bisa berdiri tegak di tengah masyarakat yang ayam goreng minded, meski saat itu juga belum banyak yang bergerak di usaha bebek goreng. “Dengan tiga ekor bebek atau sekitar 15 hingga 18 porsi (normalnya 12 porsi, red.) hanya laku 10 porsi/hari dengan harga Rp6 ribu/porsi,” katanya. Tapi, sekitar dua atau tiga bulan kemudian, terjadi peningkatan menjadi 10 hingga 20 bebek.

Hal ini, mendorong seseorang untuk mengajak kerja sama dengan membuka restoran. Maret 2007, warung di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, ini pun dipindahkan ke kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dalam bentuk rumah makan, dengan modal Rp60 juta. “Sekarang kami memiliki empat cabang dan total menyembelih 200 sampai 300 bebek per hari,” lanjut Rouf yang menggunakan bebek Biang dari Purworejo, Jawa Tengah, dan berumur setengah tua, dengan alasan meski kecil tubuhnya tapi tebal dagingnya ini.

Perkembangan yang cukup pesat ini, terjadi berkat dukungan marketing dan promosi yang gencar. Seminggu sekali NBT menyebarkan brosur. Di samping itu, juga menjalin hubungan baik dengan media dan selalu melakukan perbaikan. “Setelah tutup buku, setiap akhir bulan, kami melakukan evaluasi baik dari masakan maupun sumber daya manusia (SDM).

Hampir setiap bulan, kami mengeluarkan menu baru, seperti Agustus lalu kami memperkenalkan Bebek Bakar Bumbu Rujak dan Es Beras Kencur. Sedangkan, di bulan ramadhan ini, kami menyediakan paket katering ramadhan dan takjil (makan bersama di bulan puasa, red.) gratis. Untuk SDM-nya, seminggu sekali kami melakukan update dan upgrade,” ucapnya.

NBT juga ditata dengan konsep laiknya restoran cepat saji yaitu dengan memenuhi pesanan konsumen hanya dalam waktu tiga hingga lima menit. Hal ini, dilakukan mengingat pelanggan utamanya adalah para karyawan kantor di Tebet dan sekitarnya. “Pada umumnya, mereka bukan orang-orang yang sabar menanti, karena keterbatasan waktu makan mereka,” jelasnya.

Tapi, dalam perkembangannya, NBT juga menjadi home resto. Sebab, pelanggan yang tinggal di kawasan yang cukup jauh dari NBT pun ikut nimbrung, meski hanya di akhir pekan. Tak pelak, omset pun meningkat dari Rp60 ribu/hari menjadi antara Rp85 juta sampai Rp90 juta per bulan untuk setiap outlet.

Kini, resto bebek telah tumbuh bak cendawan di musim hujan dan semuanya tidak pernah sepi pembeli. Otomatis, hal ini menimbulkan persaingan yang sangat ketat. Agar tak tergilas, NBT ― yang juga menyediakan sambal-sambal khusus sebagai padu padan menu bebek yang ada, seperti Sambal Pencit (sambal mangga muda) untuk Bebek Bakar, Sambal Dadak (sambal yang langsung diulek di tempat, red.) untuk Bebek Goreng, Sambal Tomat untuk Bebek Cobek, Sambal (cabai) Hijau untuk Bebek Hijau, dan sambal biasa untuk Bebek Ginseng ― menggenjot para marketer-nya agar bekerja lebih keras, memberi berbagai paket diskon, dan menjalankan personal marketing sehingga setiap pelanggan dikenal baik oleh karyawan NBT.

Untuk pesan antar, NBT yang harga per porsinya Rp11.500,- sampai Rp18.000,- untuk makanan dan Rp5.000,- hingga Rp10.000,- untuk minumannya, tidak membebankan ongkos di mana pun pemesan berada. “Kami hanya membebankan minimum order sebesar Rp30 ribu sampai Rp100 ribu,” katanya.

Selain itu, Rouf juga menambah ilmu dari buku-buku marketing. “Di buku-buku itu, dikatakan bahwa salah satu cara untuk memenangkan persaingan yaitu dengan selalu menciptakan menu baru,” ujarnya. Sedangkan untuk memperluas pemasaran, NBT yang menjadi langganan tetap para karyawan di DPR, BPSI, Polda Metro, Electrolux, Mabes Polri, dan BCA ini, akan membuka cabang yang kelima serta merambah Bekasi, Depok, Sumatera Utara, dan Yogyakarta baik dalam bentuk kerja sama bagi hasil maupun waralaba, pada tahun 2008.

Melihat kondisi ini, unggas yang oleh sebagian anggota masyarakat kita masih dianggap sebagai sumber makanan yang amis, alot, dan menjijikan ini, ternyata sangat prospektif dari segi bisnis. Rouf dan Nasi Bebek Tunjungannya telah membuktikan hal itu. Tidakkah Anda ingin berbisnis di ladang yang sama?[www.majalahpengusaha.com]

Strategi Pembibitan Itik Alabio dan Itik Mojosari

Triana Susanti 2003.
Strategi pembibitan itik Alabio dan itik Mojosari = Breeding strategy of Alabio and Mojosari ducks.
Tesis: Master Sains (M Si) Pada Program Studi Ilmu Ternak IPB, 2003


Abstrak:
Ternak itik merupakan salah satu sumber pendapatan tunai bagi keluarga dengan populasi sekitar 26,3 juta ekor. Namun potensi populasi ini belum mampu berperan sebagai sumber pangan andalan, karena produktivitas itik yang relatif rendah.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi telur itik adalah perbaikan terhadap mutu genetik melalui seleksi dan atau persilangan. Penelitian ini mencoba
menduga nilai heritabilitas sebagai parameter untuk menduga respon seleksi produksi telur itik Alabio dan itik Mojosari selama dua generasi, dan menduga hasil persilangan terbaik antara dua kelompok itik lokal tersebut.

Materi penelitian adalah catatan performans itik Alabio dan itik Mojosari dari tahun 2000 sampai tahun 2003. Sedangkan untuk menduga program persilangan terbaik antara itik Alabio dan itik Mojosari digunakan catatan tahun 1997 dari 200 ekor itik betina. Pengamatan dilakukan terhadap bobot badan itik umur sehari, umur 4 minggu, umur 8 minggu dan sifat-sifat produksi telur yaitu umur pertama bertelur, bobot telur
pertama, produksi telur 3 bulan dan produksi telur 6 bulan.

Nilai heritabilitas bobot dod itik Alabio dan itik Mojosari masing-masing adalah 565+0,093 dan 0,628+0,154; nilai heritabilitas bobot badan umur 4 minggu
adalah 0,198+0,071 dan 0,197+0,095; nilai heritabilitas bobot badan umur 8 minggu adalah 0,148+0,068 dan 0,245+0,107; nilai heritabilitas bobot telur pertama adalah 0,160+0,098 dan - 0,033+0,150 ; nilai heritabilitas umur pertama bertelur adalah 0,125+0,083 dan 0,200+0,186; nilai heritabilitas produksi telur 3 bulan adalah 0,235+0,087 dan 0,011+0,123; dan nilai heritabilitas produksi telur 6 bulan adalah
0,127+0,088 dan 0,014+0,157.

Respon seleksi produksi telur 6 bulan berdasarkan diferensial seleksi aktual
pada itik Alabio dan itik Mojosari masing-masing adalah 3,8 butir dan 0,6 butir per satu generasi. Sedangkan respon seleksi berdasarkan intensitas seleksi adalah 2,3 butir dan 0,3 butir. Bila diduga per tahun, respon seleksinya pada itik Alabio dan itik Mojosari masing-masing adalah 3,0 butir dan 0,4 butir.

Bila dilakukan seleksi selama 3 tahun, maka pertambahan kumulatif respon seleksi pada itik Alabio adalah 18 butir dan pada itik Mojosari adalah 2 butir. Berdasarkan respon seleksi tersebut tampaknya seleksi pada itik Alabio lebih efektif daripada itik Mojosari. Oleh sebab itu, pada itik Mojosari lebih baik dilakukan persilangan dengan itik Alabio. Hasil persilangan terbaik antara itik Alabio dan itik Mojosari adalah F1 yaitu persilangan antara itik jantan Mojosari dan itik betina Alabio (M x A).

Abstrack: In Indonesia, duck farming plays as an alternative source of income for small farmers with their population about 26,3 million ducks. However, the population that relatively high do not have an important role as source food, because the production of duck farming is still low.

This certainly requires a genetic improvements are by using selection and crossbreeding. This study is aimed to estimate heritability as parameter genetic to estimate response selection, and to estimate the best of crossbred between Alabio and Mojosari ducks.

In order to estimate heritability, record of performance body weight and egg production of Alabio and Mojosari ducks from year 2000 until 2003 have been analyzed using REML and ANOVA. And to estimate the best of crossbred between Alabio and Mojosari ducks were used record their performance in 1997. Observations were taken only during the early growth and the first egg laying.

The estimated heritability values of weight at day old duck (dod) of Alabio and Mojosari ducks were 0,565+0,093 and 0,628+0,154; body weight at 4 weeks were 0,198+0,071 and 0,197+0,095; body weight at 8. weeks were 0,148+0,068 and 0,245+0,107; egg weight at first laying were 0,160+0,098 and - 0,033+0,150; the age at first laying were 0,125+0,083 and 0,200+0,186; 3 month egg production were 0,235+0,087 and 0,011 0,123; and 6 month egg production were 0,127+ 0,088 and 0,014+0,157.

Response selection use diffrensial selection actual to Alabio and Mojosari ducks were 3,8 eggs and 0,6 eggs. And, response to selection use selection intensity were 2,3 and 0,3 eggs. If selection was used continuously for 3 years, so that will result response to selection to Alabio and Mojosari ducks were 18 eggs and 2 eggs. Selection on Alabio duck seems more effective than Mojosari duck. So, Mojosari duck must be crossed with Alabio duck. The best of crossbred were F1 between drakes Mojosari and dam Alabio (M x A).